Tuesday, August 4, 2026

Laporan retret 9 hari dengan Shifu Chi Chern

Dłużew, Juli 16-25, 2026


Tiket ke Polandia tanggal 15 Juli, nyampe jam 10 malam. Masuk retret tanggal 16 Juli jam 4 sore. Tiga hari sebelum retret, total tidur cuma dapat mungkin 12 jam, ditambah penerbangan belasan jam, jadi sudah siap-siap tidur di retret. Motivasi retret ini memang hanya utk bertemu shifu ChiChern. Coba janjian di waktu lain, shifu ga di Malaysia, jadi ya udah, ketemu di Polandia saja. Terakhir bertemu belasan tahun lalu saat Shifu ke indo (mgk 2012)

Jadwal retret bangun jam 4 pagi, 8 moving outdoor jam 4.30 pagi, lanjut sit, morning service lalu breakfast. Sesi pagi ada 3 kali sitting, yang pertama indoor, 2 setelahnya outdoor jika cuaca memungkinkan. Ada exercise di antara kedua sesi outdoor, lanjut lunch, break 35 menit. Sesi sore 2x sitting plus 1 kali walking (Kalau hujan, walking outdoor ganti slow prostration + sitting), evening service lalu dinner. Habis dinner, ada waktu 50 menitan untuk mandi lalu sit pendek sebelum ceramah. Slow prostration lalu sit sesi terakhir. Tidur jam 10 malam. Setiap sesi duduk sekitar 45 menit.

Hari-hari awal blur banget. Pas sadar tahu-tahu sudah day 5. Tapi karena tahu badan memang kecapean, jadi membiarkan diri tidur. Strategi kali ini, habis breakfast dan dinner yang break 15 menit, alih-alih dipake tidur, aku pake stretching, fokus pelvis, kaki dan punggung karena ga hanya ngantuk parah, badan kaku banget. Pas lunch break yang 35 menit baru, dipake nap. Walking meditation yang bagian fast walking, meski tak terlalu diwajibkan, yang mau cepat boleh, ga sanggup mau pelan juga boleh (beberapa peserta senior). Aku sebisanya ikut cepat, anggap cardio biar lebih cepat adjust badan. Aku udah mikir, sit ga dapat apapun gak apa-apa, retret untuk rest, benerin badan setelah travel 50 an hari ke sana kemari.

Strategi olahraga + stretching ini manjur menurutku, dibanding yang tiap break dipake nap. Karena begitu aku bangun day 5, udah ga ngantuk-ngantukan lagi. Sementara yang lain masih ngantuk-ngantuk. Hari awal, slow prostration, kepala sakit banget. Shinse pernah bilang karena Qi ke kepala tidak lancar, kepala tegang. Jadi, bagian massage setiap semua sesi meditasi kukerjakan sepenuh hati. Sembuh di hari ke 3, ga sakit sama sekali.

Ceramah shifu kali ini berdasarkan sajak “Song of Enlightenment” nya Master Yongjia. Shifu udah mengelompokkan sajak itu ke 5 kategori, per beberapa baris, kemudian di kasi nomor. Bagian2nya:

A: Chan Practitioner (禅者)
B: Chan Mind (禅心)
C: Chan State (禅境)
D: Chan Principle (禅理)
E: Chan Flaws (禅非)

Ceramah retret ini mulai dari nomor 20 (mengenai Chan Practitioner)

入深山。住蘭若。岑崟幽邃長松下。
Rù shēnshān. Zhù lánrě. Cén yín yōusuì zhǎng sōngxià.

優游靜坐野僧家。闃寂安居實瀟灑。
Yōuyóu jìngzuò yě sēng jiā. Qù jì ānjū shí xiāosǎ.

Terjemahan Inggris yang diberikan:
Entering the deep mountains, staying in a hermitage,
Under the old pine trees on a steep cliff, quiet and deep.
In a hut for rustic monk, roaming freely and sitting still,
In silence and solitude, I dwell at ease, free truly.

Kata Shifu, jangan kalian baca ini lalu berpikir, wah, enak amat hidup begitu, roaming freely, mau juga donk. 自在 (at ease) hanya benar-benar bisa dialami kalau sudah 开悟(kaiwu). Haha. 自在memang topik favoritku. Teringat dulu pertama kali bertemu ChiChern Shifu 15 tahun lalu di tempat ini, Kesan pertama ku memang Shifu so 自在! Ringan banget keliatan hidupnya, 瀟灑 (xiāosǎ), sangat inspiring.

Shifu bilang kalau orang 开悟 (kaiwu), 自在 (zizai) itu batinnya sudah stabil, lebih self-dependent. Kalau mau test batin sendiri, coba masuk ke ruangan kecil, tanpa apapun, perasaannya bagaimana? Gejolak ga? Ketika fasilitas yang selama ini kita punya ditarik dari kita, apa kabar itu batin? Atau misal kalau dalam gelap, mati lampu, batin masih tenang ga? Dalam hutan ga ada apa-apa lho, ga ada fasilitas.

Shifu melanjutkan, ada istilah:

不开悟,不闭关
Bù kāi wù, bù bìguān
不破禅,不入山
bùpò chán, bù rùshān            

Sebelum tercerahkan, akan susah menjalani retret isolasi. Huatou nya belum pecah, susah masuk hutan belantara. Kira-kira gitu terjemahan kasarnya.

Jadi, yoklah mari 开悟biar 自在。 Hahahahha. Macam gampang saja nonaaaa.

Lanjutan-lanjutan sajak berikutnya, shifu kategorikan ke Chan State. Untuk sisa retret hanya mengupas topik itu saja, tapi di perdalam.

Sajaknya sebagai berikut:

覺即了。不施功。一切有為法不同。
Jué jíle. Bùshī gōng. Yīqiè yǒu wéi fǎ bùtóng.
住相布施生天福。猶如仰箭射虛空。
Zhù xiāng bù shī shēng tiānfú. Yóurú yǎng jiàn shè xūkōng.

Terjemahannya:
Once awaken, that’s all; there is no more striving.
This is different from all conditioned dharma.
Giving alms with attachment earns blessings of heavenly birth,
but that is like shooting an arrow into the sky.

勢力盡。箭還墜。招得來生不如意。
Shìlì jìn. Jiàn hái zhuì. Zhāo dé lái shēng bùrúyì.
爭似無為實相門。一超直入如來地。
Zhēng sì wúwéi shí xiāng mén. Yī chāo zhírù rúlái de.

Terjemahannya:
When the momentum is exhausted, the arrow falls back,
bringing discontent in the next life.
There is no comparing this to the gate of unconditioned ultimate reality,
through which one leaps straight onto the Tathagata ground.

Dari ingatanku, kira-kira seperti ini penjelasannya:

Worldy dharma: dana, sila dan samadhi

Unworldly dharma: sila, samadhi dan prajna

Dalam sajak dikatakan, berdana akan memberikan heavenly birth (terlahir di surga/alam lebih baik), tapi ibarat menembakkan panah ke langit, suatu waktu akan jatuh kembali. Analogi “heavenly birth” dalam dunia kita mungkin orang yang terlahir berlimpah materi.

Untuk menjamin kehidupan mendatang tetap bisa terlahir sebagai manusia, kita minimal butuh berdana dan memegang sila. Dana saja akan memberikan keberkahan material, tapi kalau pas berkah material habis dan selama berlimpah berkah kita ga pegang sila, maka saat karma buruk mulai berbuah, kita mungkin jatuh ke alam yang lebih rendah. Mungkin kalau mau liat di dunia sekarang, banyak orang kaya yang terlihat baik-baik saja, lalu suatu waktu mereka terkena kasus dan dipenjara (alam yang lebih tak enak).

Kalau material terlalu banyak, kadang malah bisa jadi penghalang praktik juga. Orang kaya jadi sibuk mengolah harta atau sibuk mencari harta tambahan. Terlalu tak ada material juga mungkin tak bisa berlatih. Jadi, berdana supaya kelak kita ada cukup materi untuk berlatih.

Lantas, apakah tidak boleh berdana terlalu banyak?
Boleh, tapi berdanalah dengan motivasi membawa manfaat bagi semua makhluk, bukan berharap agar kitanya menjadi kaya. Jadi motivasinya lebih ke bodhicitta, ke jalur bodhisattva.

Dalam worldly dharma, penting juga bagi kita untuk berlatih samadhi, supaya lebih stabil. Ibarat menembakkan panah ke langit, kalau disupport dengan “samadhi”, mungkin ibarat kita menembakkan roket, momen mengudaranya akan lebih lama, sebelum akhirnya tetap akan jatuh kembali.

Dalam unworldly dharma, samadhi sangat penting agar kita bisa mengkontemplasikan wisdom dengan one pointed mind. Tanpa itu, akan susah masuk ke lebih dalam lagi. Itu juga mengapa kehidupan manusia paling ideal untuk berlatih, karena manusia punya kemampuan mengkontemplasi.

Unworldy dharma, intinya memahami 因缘起,因缘灭 (Yīnyuán qǐ, yīnyuán miè) – causes and conditions, 无常(wúcháng)  - impermanent, dan 无我(wú wǒ) – no self. Kita mungkin merasa hal ini sudah sering kita dengar, kita sudah paham. Sebenarnya, apa yang kita baca/dengar, itu hanya ada di level pengetahuan. Tapi Ketika kita berhasil mengkontemplasikan menjadi wisdom, maka itu baru menjadi milik kita/

Bedanya dimana antara masih pengetahuan atau sudah jadi wisdom?

Contoh sederhana, kita tahu kita tidak boleh melakukan A misalnya. Kadang-kadang masih terbersit pemikiran ah, pengen melakukan A”, tetapi ada kesadaran yang mengingatkan kalau itu tidak boleh, lalu berhasil kita control. Ini masih di level pengetahuan. Kalau itu sudah wisdom, itu udah menjadi view kita, secara natural, bahkan pemikiran itu aza ga akan muncul.

Mengapa di unworldly dharma tidak terlalu ditekankan untuk berdana? Karena untuk tercerahkan sendiri, hanya butuh sila samadhi dan prajna. Akan tetapi, kalau di jalur bodhisattva, kita perlu merampungkan 6 paramita, yang mana ada tambahan dana, virya dan kshanti. Mengapa? Kalau kita perlu membantu semua makhluk, maka kita akan butuh sumber daya. Sumber daya diperoleh dari berdana. Dan karena kita berurusan dengan makhluk hidup lain, dengan sifat yang berbeda-beda, maka kita juga akan butuh kesabaran. Virya sendiri ada dalam budaya/agama apapun kalau kita mau serius terjun secara mendalam.

Saat awal berpikir akan ikut retret, excited banget bisa bertemu Shifu lagi. Tapi saat bertemu, rasa malunya luar biasa. Interview awal kan ditanya, mau mandarin atau inggris, kalau Mandarin dengan shifu, inggris dengan ChangHu Fashi. Aku pilih inggris. Pas lagi antri interview sama teman indo (ci Ayen), dia tanya, kamu kan bisa mandarin, mengapa memilih interview inggris? Jawabanku: malu ci. Dan rasa malu itu dirasakan di seluruh badan, pipi juga berasa panas. Aku termasuk orang ga tahu malu, tapi kali ini itu benar-benar malu. 15 tahun berlalu, yet my sitting masih di tahap tidur. Beneran ga sampai hati kalau menghadap shifu, ditanya pakai metode apa, lalu masih kujawab tidur. Lima belas tahun itu waktu yang lama. Teringat dari retret pertama dengan Shifu itu, shifu pernah berpesan, belajar lah dari anak-anak. Aku sempat mengajar preschool 1 semester dan anak-anak itu yang waktu itu tak tahu apa-apa, skarang sudah sibuk siap-siap daftar kuliah. KULIAH CUY!!! Bentar lagi mereka udah menguasai dunia, tapi napas ku masih belum ketemu.

Biasa retret dari tahun ke tahun, rasanya masih bisa ngeles, kan hanya setahun (walau setahun itu lama), kali ini 15 tahun kemudian, Shifu terlihat menua, aku masih sibuk melawan kantuk. Astagaaaa. Benar-benar malu.

Selama retret setelah kantuk lewat, pikiran liar sekali. Teringat kata Ko Charly, yang di incar bukan peaceful state, tapi yang dilatih awareness. Jadi mengamati pikiran seliar-liarnya itu. Beberapa kali juga terdengar teriakan ci ninik dari alam bawah sadar, shoulder down! Haha. Pas morning atau evening service, bagian I take refuge in the Sangha, benar-benar kumaknai. Kalau tak ada teman-teman yang selalu menjagaku dalam lingkaran praktik, aku sudah ntah kemana.

Secara sitting tak ada kemajuan, tapi attitude menghadapi sitting sudah berubah. Walau acak adut, tetap dijalani aza sittingnya. Badan sakit, ya rapopo, diamati aza. Selama ini body scan ku tak pernah berhasil, karena aku merasa aku scannya pake mata, mataku bergerak ke bagian yang lagi aku scan. Tapi di hari ntah ke berapa aku sadar, eh, tap ikan ini sensasi badannya terasa. Ga mungkin mata bisa merasakan sensasi. Jadi walau mata masih Gerak, aku focus ke sensasinya, dan mata tak lagi jadi focus, lumayan bisa terabaikan.

Makanan retret kali ini super duper enak (15 tahun lalu kayanya temanya aneka cabbage, antara kol dan sawi putih), kali ini ada 2 chef Malaysia. Bisa ada laksa dan bahkan ada emping. Seperti biasa, greed of food terpapar dengan jelas. Makan kaya manusia kelaparan 2 juta tahun, maunya nelan secepat-cepatnya bahkan ga kunyah. Shock, sampai harus kaya negur diri sendiri, kunyah lebih lama dikit woy!!!! Lalu pelan-pelan lebih tenang.

Di salah satu sitting menuju akhir retret, ada momen sitting lagi baik-baik saja, tapi tiba-tiba ada dorongan rebellious, pengen turunin kaki dari half lotus. Logika bertanya: eh, kenapa? Kan baik-baik aja tuh kaki, sakit juga ngga, kesemutan juga ngga. Dorongan itu tetap mau ngebantah aza. Dari sensasi badan, terasa banget di area ulu hati. Mungkin ini biasa yang muncul saat pengen berantem ama orang. Wkwkwkkw. A good finding, tapi ga sempat dilihat lebih mendalam.

Kata Shifu, ikut retret itu sebenarnya menjalani hidup semi “自在”, banyak hal tak perlu kita urus, hanya perlu duduk dan berelasi dengan rasa sakit, kantuk atau bosan. Tidak perlu membuat banyak Keputusan, makan sudah tersedia, bangun tinggal ikut kentongan etc. Aku bersyukur berkesempatan ikut retret lagi. 9 hari tidak terasa sama sekali, tahu-tahu sudah keluar. Tapi melihat dengan jelas, gaya hidup sehari-hari, tak terlepas dari retret. Tidak bisa switch ke retret mode. Kalau selama hidup terburu-buru, semua muncul dalam sitting. Semua, tak ada yang tersembunyikan. Semua social media feed yang dikonsumsi, bertebaran dalam wandering thoughts. Ini juga pe-er buat diri sendiri, pulang, menata hidup sehari-hari. Praktik dan hidup adalah satu kesatuan yang saling menunjang. Terima kasih alam semesta atas kesempatan berlatihnya. Walau cuaca dingin dan baju kurang memadai, untung ada time keeper yang pinjamin lagi 1 jaket, jadi masih bisa bertahan. Ada juga tolak angin dan salonpas yang menghangatkan sepanjang retret. Semoga masih ada kesempatan utk mengikuti retret berikutnya. Semoga Shifu ChiChern sehat-sehat. Namo Dabei Guanshiyin Pusa.


Deep bow in gratitude,
Novi Bong