Dłużew, Juli 16-25, 2026
Tiket ke Polandia tanggal 15 Juli, nyampe jam 10 malam. Masuk retret tanggal 16
Juli jam 4 sore. Tiga hari sebelum retret, total tidur cuma dapat mungkin 12
jam, ditambah penerbangan belasan jam, jadi sudah siap-siap tidur di
retret. Motivasi retret ini memang hanya utk bertemu shifu ChiChern. Coba
janjian di waktu lain, shifu ga di Malaysia, jadi ya udah, ketemu di Polandia
saja. Terakhir bertemu belasan tahun lalu saat Shifu ke indo (mgk 2012)
Jadwal retret bangun jam 4 pagi, 8 moving outdoor jam 4.30
pagi, lanjut sit, morning service lalu breakfast. Sesi pagi ada 3 kali sitting,
yang pertama indoor, 2 setelahnya outdoor jika cuaca memungkinkan. Ada exercise
di antara kedua sesi outdoor, lanjut lunch, break 35 menit. Sesi sore 2x
sitting plus 1 kali walking (Kalau hujan, walking outdoor ganti slow
prostration + sitting), evening service lalu dinner. Habis dinner, ada waktu 50
menitan untuk mandi lalu sit pendek sebelum ceramah. Slow prostration lalu sit
sesi terakhir. Tidur jam 10 malam. Setiap sesi duduk sekitar 45 menit.
Hari-hari awal blur banget. Pas sadar tahu-tahu sudah day 5.
Tapi karena tahu badan memang kecapean, jadi membiarkan diri tidur. Strategi
kali ini, habis breakfast dan dinner yang break 15 menit, alih-alih dipake
tidur, aku pake stretching, fokus pelvis, kaki dan punggung karena ga hanya
ngantuk parah, badan kaku banget. Pas lunch break yang 35 menit baru, dipake
nap. Walking meditation yang bagian fast walking, meski tak terlalu diwajibkan,
yang mau cepat boleh, ga sanggup mau pelan juga boleh (beberapa peserta
senior). Aku sebisanya ikut cepat, anggap cardio biar lebih cepat adjust badan.
Aku udah mikir, sit ga dapat apapun gak apa-apa, retret untuk rest, benerin
badan setelah travel 50 an hari ke sana kemari.
Strategi olahraga + stretching ini manjur menurutku, dibanding
yang tiap break dipake nap. Karena begitu aku bangun day 5, udah ga
ngantuk-ngantukan lagi. Sementara yang lain masih ngantuk-ngantuk. Hari awal,
slow prostration, kepala sakit banget. Shinse pernah bilang karena Qi ke kepala
tidak lancar, kepala tegang. Jadi, bagian massage setiap semua sesi meditasi
kukerjakan sepenuh hati. Sembuh di hari ke 3, ga sakit sama sekali.
Ceramah shifu kali ini berdasarkan sajak “Song of
Enlightenment” nya Master Yongjia. Shifu udah mengelompokkan sajak itu ke 5
kategori, per beberapa baris, kemudian di kasi nomor. Bagian2nya:
A: Chan Practitioner (禅者)
B: Chan Mind (禅心)
C: Chan State (禅境)
D: Chan Principle (禅理)
E: Chan Flaws (禅非)
Ceramah retret ini mulai dari nomor 20 (mengenai Chan
Practitioner)
入深山。住蘭若。岑崟幽邃長松下。
Rù shēnshān. Zhù lánrě. Cén yín yōusuì zhǎng
sōngxià.
優游靜坐野僧家。闃寂安居實瀟灑。
Yōuyóu jìngzuò yě sēng jiā. Qù jì ānjū shí xiāosǎ.
Terjemahan Inggris yang diberikan:
Entering the deep mountains, staying in a hermitage,
Under the old pine trees on a steep cliff, quiet and deep.
In a hut for rustic monk, roaming freely and sitting still,
In silence and solitude, I dwell at ease, free truly.
Kata Shifu, jangan kalian baca ini lalu berpikir, wah, enak
amat hidup begitu, roaming freely, mau juga donk. 自在 (at ease) hanya benar-benar bisa
dialami kalau sudah 开悟(kaiwu).
Haha. 自在memang
topik favoritku. Teringat dulu pertama kali bertemu ChiChern Shifu 15 tahun
lalu di tempat ini, Kesan pertama ku memang Shifu so 自在! Ringan banget keliatan hidupnya, 瀟灑 (xiāosǎ), sangat inspiring.
Shifu bilang kalau orang 开悟 (kaiwu), 自在
(zizai) itu batinnya sudah stabil, lebih self-dependent. Kalau mau test batin
sendiri, coba masuk ke ruangan kecil, tanpa apapun, perasaannya bagaimana?
Gejolak ga? Ketika fasilitas yang selama ini kita punya ditarik dari kita, apa
kabar itu batin? Atau misal kalau dalam gelap, mati lampu, batin masih tenang
ga? Dalam hutan ga ada apa-apa lho, ga ada fasilitas.
Shifu melanjutkan, ada istilah:
不开悟,不闭关
Bù kāi wù, bù bìguān
不破禅,不入山
bùpò chán, bù rùshān
Sebelum tercerahkan, akan susah menjalani retret isolasi. Huatou
nya belum pecah, susah masuk hutan belantara. Kira-kira gitu terjemahan kasarnya.
Jadi, yoklah mari 开悟biar
自在。
Hahahahha. Macam gampang saja nonaaaa.
Lanjutan-lanjutan sajak berikutnya, shifu kategorikan ke
Chan State. Untuk sisa retret hanya mengupas topik itu saja, tapi di perdalam.
Sajaknya sebagai berikut:
覺即了。不施功。一切有為法不同。
Jué jíle. Bùshī gōng. Yīqiè yǒu
wéi fǎ
bùtóng.
住相布施生天福。猶如仰箭射虛空。
Zhù xiāng bù shī shēng tiānfú. Yóurú yǎng jiàn shè xūkōng.
Terjemahannya:
Once awaken, that’s all; there is no more striving.
This is different from all conditioned dharma.
Giving alms with attachment earns blessings of heavenly birth,
but that is like shooting an arrow into the sky.
勢力盡。箭還墜。招得來生不如意。
Shìlì jìn. Jiàn hái zhuì. Zhāo dé lái shēng bùrúyì.
爭似無為實相門。一超直入如來地。
Zhēng sì wúwéi shí xiāng mén. Yī chāo zhírù rúlái de.
Terjemahannya:
When the momentum is exhausted, the arrow falls back,
bringing discontent in the next life.
There is no comparing this to the gate of unconditioned ultimate reality,
through which one leaps straight onto the Tathagata ground.
Dari ingatanku, kira-kira seperti
ini penjelasannya:
Worldy dharma: dana, sila dan
samadhi
Unworldly dharma: sila, samadhi
dan prajna
Dalam sajak dikatakan, berdana
akan memberikan heavenly birth (terlahir di surga/alam lebih baik), tapi ibarat
menembakkan panah ke langit, suatu waktu akan jatuh kembali. Analogi “heavenly
birth” dalam dunia kita mungkin orang yang terlahir berlimpah materi.
Untuk menjamin kehidupan mendatang
tetap bisa terlahir sebagai manusia, kita minimal butuh berdana dan memegang
sila. Dana saja akan memberikan keberkahan material, tapi kalau pas berkah
material habis dan selama berlimpah berkah kita ga pegang sila, maka saat karma
buruk mulai berbuah, kita mungkin jatuh ke alam yang lebih rendah. Mungkin
kalau mau liat di dunia sekarang, banyak orang kaya yang terlihat baik-baik
saja, lalu suatu waktu mereka terkena kasus dan dipenjara (alam yang lebih tak
enak).
Kalau material terlalu banyak, kadang
malah bisa jadi penghalang praktik juga. Orang kaya jadi sibuk mengolah harta
atau sibuk mencari harta tambahan. Terlalu tak ada material juga mungkin tak
bisa berlatih. Jadi, berdana supaya kelak kita ada cukup materi untuk berlatih.
Lantas, apakah tidak boleh berdana
terlalu banyak?
Boleh, tapi berdanalah dengan motivasi membawa manfaat bagi semua makhluk,
bukan berharap agar kitanya menjadi kaya. Jadi motivasinya lebih ke bodhicitta,
ke jalur bodhisattva.
Dalam worldly dharma, penting juga
bagi kita untuk berlatih samadhi, supaya lebih stabil. Ibarat menembakkan panah
ke langit, kalau disupport dengan “samadhi”, mungkin ibarat kita menembakkan
roket, momen mengudaranya akan lebih lama, sebelum akhirnya tetap akan jatuh
kembali.
Dalam unworldly dharma, samadhi
sangat penting agar kita bisa mengkontemplasikan wisdom dengan one pointed
mind. Tanpa itu, akan susah masuk ke lebih dalam lagi. Itu juga mengapa kehidupan
manusia paling ideal untuk berlatih, karena manusia punya kemampuan mengkontemplasi.
Unworldy dharma, intinya memahami 因缘起,因缘灭 (Yīnyuán
qǐ, yīnyuán miè) –
causes and conditions, 无常(wúcháng) - impermanent, dan 无我(wú wǒ)
– no self. Kita mungkin merasa hal ini sudah sering kita dengar, kita sudah
paham. Sebenarnya, apa yang kita baca/dengar, itu hanya ada di level
pengetahuan. Tapi Ketika kita berhasil mengkontemplasikan menjadi wisdom, maka
itu baru menjadi milik kita/
Bedanya dimana antara masih
pengetahuan atau sudah jadi wisdom?
Contoh sederhana, kita tahu kita
tidak boleh melakukan A misalnya. Kadang-kadang masih terbersit pemikiran, “ah, pengen melakukan A”, tetapi ada
kesadaran yang mengingatkan kalau itu tidak boleh, lalu berhasil kita control.
Ini masih di level pengetahuan. Kalau itu sudah wisdom, itu udah menjadi view
kita, secara natural, bahkan pemikiran itu aza ga akan muncul.
Mengapa di unworldly dharma tidak
terlalu ditekankan untuk berdana? Karena untuk tercerahkan sendiri, hanya butuh
sila samadhi dan prajna. Akan tetapi, kalau di jalur bodhisattva, kita perlu
merampungkan 6 paramita, yang mana ada tambahan dana, virya dan kshanti. Mengapa?
Kalau kita perlu membantu semua makhluk, maka kita akan butuh sumber daya.
Sumber daya diperoleh dari berdana. Dan karena kita berurusan dengan makhluk
hidup lain, dengan sifat yang berbeda-beda, maka kita juga akan butuh
kesabaran. Virya sendiri ada dalam budaya/agama apapun kalau kita mau serius
terjun secara mendalam.
Saat awal berpikir akan ikut retret, excited banget bisa
bertemu Shifu lagi. Tapi saat bertemu, rasa malunya luar biasa. Interview awal
kan ditanya, mau mandarin atau inggris, kalau Mandarin dengan shifu, inggris
dengan ChangHu Fashi. Aku pilih inggris. Pas lagi antri interview sama teman
indo (ci Ayen), dia tanya, kamu kan bisa mandarin, mengapa memilih interview
inggris? Jawabanku: malu ci. Dan rasa malu itu dirasakan di seluruh badan, pipi
juga berasa panas. Aku termasuk orang ga tahu malu, tapi kali ini itu
benar-benar malu. 15 tahun berlalu, yet my sitting masih di tahap tidur. Beneran
ga sampai hati kalau menghadap shifu, ditanya pakai metode apa, lalu masih kujawab
tidur. Lima belas tahun itu waktu yang lama. Teringat dari retret pertama
dengan Shifu itu, shifu pernah berpesan, belajar lah dari anak-anak. Aku sempat
mengajar preschool 1 semester dan anak-anak itu yang waktu itu tak tahu
apa-apa, skarang sudah sibuk siap-siap daftar kuliah. KULIAH CUY!!! Bentar lagi
mereka udah menguasai dunia, tapi napas ku masih belum ketemu.
Biasa retret dari tahun ke tahun, rasanya masih bisa ngeles,
kan hanya setahun (walau setahun itu lama), kali ini 15 tahun kemudian, Shifu
terlihat menua, aku masih sibuk melawan kantuk. Astagaaaa. Benar-benar malu.
Selama retret setelah kantuk lewat, pikiran liar sekali.
Teringat kata Ko Charly, yang di incar bukan peaceful state, tapi yang dilatih
awareness. Jadi mengamati pikiran seliar-liarnya itu. Beberapa kali juga
terdengar teriakan ci ninik dari alam bawah sadar, shoulder down! Haha. Pas morning
atau evening service, bagian I take refuge in the Sangha, benar-benar kumaknai.
Kalau tak ada teman-teman yang selalu menjagaku dalam lingkaran praktik, aku
sudah ntah kemana.
Secara sitting tak ada kemajuan, tapi attitude menghadapi
sitting sudah berubah. Walau acak adut, tetap dijalani aza sittingnya. Badan
sakit, ya rapopo, diamati aza. Selama ini body scan ku tak pernah berhasil,
karena aku merasa aku scannya pake mata, mataku bergerak ke bagian yang lagi
aku scan. Tapi di hari ntah ke berapa aku sadar, eh, tap ikan ini sensasi
badannya terasa. Ga mungkin mata bisa merasakan sensasi. Jadi walau mata masih Gerak,
aku focus ke sensasinya, dan mata tak lagi jadi focus, lumayan bisa terabaikan.
Makanan retret kali ini super duper enak (15 tahun lalu
kayanya temanya aneka cabbage, antara kol dan sawi putih), kali ini ada 2 chef Malaysia.
Bisa ada laksa dan bahkan ada emping. Seperti biasa, greed of food terpapar
dengan jelas. Makan kaya manusia kelaparan 2 juta tahun, maunya nelan secepat-cepatnya
bahkan ga kunyah. Shock, sampai harus kaya negur diri sendiri, kunyah lebih
lama dikit woy!!!! Lalu pelan-pelan lebih tenang.
Di salah satu sitting menuju akhir retret, ada momen sitting
lagi baik-baik saja, tapi tiba-tiba ada dorongan rebellious, pengen turunin
kaki dari half lotus. Logika bertanya: eh, kenapa? Kan baik-baik aja tuh kaki,
sakit juga ngga, kesemutan juga ngga. Dorongan itu tetap mau ngebantah aza.
Dari sensasi badan, terasa banget di area ulu hati. Mungkin ini biasa yang
muncul saat pengen berantem ama orang. Wkwkwkkw. A good finding, tapi ga sempat
dilihat lebih mendalam.
Kata Shifu, ikut retret itu sebenarnya menjalani hidup semi “自在”, banyak hal tak perlu kita urus,
hanya perlu duduk dan berelasi dengan rasa sakit, kantuk atau bosan. Tidak perlu
membuat banyak Keputusan, makan sudah tersedia, bangun tinggal ikut kentongan
etc. Aku bersyukur berkesempatan ikut retret lagi. 9 hari tidak terasa sama
sekali, tahu-tahu sudah keluar. Tapi melihat dengan jelas, gaya hidup
sehari-hari, tak terlepas dari retret. Tidak bisa switch ke retret mode. Kalau selama
hidup terburu-buru, semua muncul dalam sitting. Semua, tak ada yang
tersembunyikan. Semua social media feed yang dikonsumsi, bertebaran dalam wandering
thoughts. Ini juga pe-er buat diri sendiri, pulang, menata hidup sehari-hari.
Praktik dan hidup adalah satu kesatuan yang saling menunjang. Terima kasih alam
semesta atas kesempatan berlatihnya. Walau cuaca dingin dan baju kurang
memadai, untung ada time keeper yang pinjamin lagi 1 jaket, jadi masih bisa bertahan.
Ada juga tolak angin dan salonpas yang menghangatkan sepanjang retret. Semoga
masih ada kesempatan utk mengikuti retret berikutnya. Semoga Shifu ChiChern sehat-sehat. Namo Dabei Guanshiyin
Pusa.
Deep bow in gratitude,
Novi Bong
No comments:
Post a Comment