Thursday, October 9, 2014

Mluvím trochu Česky :) - Part 1

Ketika ditawarin kelas bahasa Ceko disini, aku tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Aku memang dasarnya tertarik bahasa, ngerti ngganya urusan belakangan..

Karena aku datang telat 2 minggu, aku harusnya ketinggalan 4 pertemuan, tapi ternyata minggu kedua gurunya sakit, jadi aku hanya ketinggalan 2 kelas. Selasa kemarin, kelasku yang pertama dan aku sendiri ke kelas bahasa, berhubung dua temanku ada urusan lain. Mereka juga tak terlihat antusias untuk belajar bahasa. Aku benar-benar tak punya background bahasa Czech, dan sebenarnya tak yakin ada space juga, tapi aku hadir di kelas.

Kelas dimulai dengan review.. Sang guru bertanya kepada beberapa orang dan mereka pada bisa menjawab pertanyaannya. Semacam percakapan singkat, yang bagiku hanya seperti kicauan burung. hahha. Sama sekali ga tau apa yang mereka omongkan, bahkan ga tau pemenggalan katanya harus dimana.

Topik hari itu: Co je to? (What is it?)
To je.. (it is.. bukan toje versi Singkawang lho ya. haha.)

Hari itu belajar menghitung juga:
jeden, dva, tři, čtyři, pět, šest, sedm, osm, devět, deset.
Aku sampai saat ini ga ngerti cara baca tiga dan empat. "ř" dibaca kaya "r" di mandarin, "č" dibaca "ch".
Yang lucu bunyi 8 seperti "awesome". hahaha.

Kata benda dalam bahasa Czech terbagi menjadi 4 kelompok:
masculine animate (mužský životný), masculine inanimate (mužský neživotný), feminine (žensky) dan střední.

Di akhir kelas, ada games. Satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok, trus satu murid dipanggil ke atas untuk menggambar dan dua kelompok akan bersaing, menebak apa yang dia gambar. Kata-kata yang dipakai itu ada di list kata-kata yang kami pelajari hari itu.

Berikut tiga gambar yang di papan:


Kelompokku menang di permainan itu, tapi aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa menebaknya dengan benar.

Jawabannya: ballet (balet), shock (šok) dan professional (profesionál). Yang nomor satu aku bisa tebak, tapi dua yang lain? Hanya yang tahu lah yang tahu..
Hahhaa.

Tapi orang-orang di kelas itu kocak banget, anak-anak muda mancanegara, jadi aku sangat menikmati.. Looking forward for my next class ^^.

Aib Restoran Senin Sore


Hari Selasa, 30 sept, aku akan berangkat untuk research visit (baca: jalan-jalan) selama 9 minggu. Sementara temanku akan pulang ke Indonesia selama 3 bulan untuk pengumpulan data. Jadi, kami pun menyepakati untuk makan malam bersama hari Senin sebelum pertemuan berikut yg mungkin akan terjadi di 2015.

Karena kami dua babik, maka pilihan menu pun jatuh pada restoran dumplings. Aku blm pernah ke sana tapi temanku sudah beberapa kali ke sana.

Restoran buka jam 5 sore, kami memutuskan sampe jam 5 disana, supaya segera mulai makan dan segera bisa pulang karena aku masih harus lanjut beres-beres. Alasan lain yang lebih utama sih, karena jam 4 pun kami sudah lapar sangat. Haha.

Jam 4.30 aku dijemput di stockland jesmond. Kami tiba jam 5 kurang 10. Pintu resto sudah terbuka, dan beberapa karyawan terliat sibuk bersih-bersih, mengisi tempat sambal etc, tapi semua kursi telungkup di atas meja. Melihat kondisi itu, kami melangkah ke arah menu untuk mengecek jam buka. Iya benar, tertulis jam 5 sore. Tapi kami ragu mereka akan buka tepat waktu.

Kami memutuskan ke apotik terlebih dahulu, memanfaatkan 10 menit itu. Karena lapar sangat, kami juga membeli chips.

Kami berjalan kembali ke resto itu, sudah jam 5 tapi kursi tetap begitu. Kami berdua pun duduk di meja luar, sambil mengunyah chips.

Kata temanku: dulu dia pernah datang lebih awal, mereka beres-beres tapi kursi tak ditelungkupkan.

Kesimpulan: mungkin hanya hari Senin mereka melakukan bersih-bersih besar-besaran.

Kami berdua masih sibuk mengunyah chips, sambil memandang ke dalam dan terus berkomentar. "Ayo kita liatin biar mereka bergerak lebih cepat!"
"Lihat, gerakan cewe itu lambat banget, gimana bisa buka tepat waktu?" Dan seterusnya..

15 menit duduk di depan, setelah chips habis, temanku pun berinisiatif, ayo kita tanya jam bukanya. Aku bangkit dari kursi dan bertanya, ”请问,你们几点开?(permisi, kalian buka jam berapa ya?)"

Dan jawabannya adalah.. Taraaaaaa..
"我们星期一关门” (kami tutup tiap Senin)

Jedeeeer!!! Bagai disambar petir, tapi kami tetap tak mau terima kenyataan, kami samperin lagi si buku menu, memang tertulis buka jam 5 sore, tapi... Selasa-Sabtu..

Mwahahahhaa. Kami pun berlalu sambil ngakak dengan kedodolan kami. Nunggunya sih ga gitu malu, segala komentar kita itu yang bikin lebih malu. Wakakaka.

Memang kalo kami keluar hanya berdua, selalu ada kekonyolan. Hahaha.

Kami menuju Sushi Revolution untuk mengenyangkan perut.

Begitu nyampe, "mesen menu utama ga? Ato hanya ambil sushi yang mutar-mutar?"

Temanku bilang: "ngga menu utama dech, soalnya sushi-sushi begitu kan udah ada nasinya, tar juga kenyang."

Aku pun berpikir itu masuk akal, jadi aku pun mengurungkan niat untuk memesan menu utama. 

Setelah piring demi piring sushi kami tarik dari sushi trainnya, perut masih belum terpuaskan. Sebelum duit di dompet habis kesedot sushi, kami pun akhirnya memesan menu utama. hahah. Padahal orang-orang sekitar hanya ambil 2 piring sushi dan sudah kenyang.. Kami tetap makan dengan PD dan menghabiskan menu utama kami.. 

Demikianlah farewell dinner konyol kami.. 

Wednesday, March 12, 2014

Retret Hutan Perdana (1) - Persiapan dan Hari H

Akhir minggu yang baru lewat ini, aku melewatkannya di sebuah forest monastery, Wat Buddha Dhamma, di Dharug National Park.

Awal cerita kenapa bisa berakhir disana adalah, di tengah suasana sibuk dan jadwal padat di kampus, terasa sekali tubuh, pikiran dan emosi semakin hari semakin labil. Aku pun berusaha sit rutin untuk menyeimbangkannya. Nah, di tengah kesibukan itu, datanglah tawaran seorang teman, "Mau weekend retreat ga di Wat Buddha Dhamma? Forest monastery gitu. Nyampe Jum'at malam, dan cabs lagi Minggu siang".

Karena emang lagi butuh retret, aku pun mengiyakan tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Letaknya dimana tak tau, perginya gimana ga tau, berapa lama perjalanan pun tak jelas. Teman ku bilang ada temannya yang akan menyetir, jadi aku hanya perlu bertemu mereka di suatu tempat dan akan disetirin ke lokasi retret.

Setelah mengiyakan, aku mulai email office WBD untuk formulir pendaftaran. Retret nya akan mengikuti tradisi Theravada, dan bikkhunya itu murid Ajahn Chah. Setelah mengisi formulir, dikasi lah list barang-barang yang harus dibawa.

Beberapa hari menjelang hari H, teman ku menelepon dan mengabari kalo temannya yang mau nyetir itu lagi sakit, jadi ga bisa berangkat. Sementara temanku ini belum berani nyetir jauh. Ya udah, kupikir aku memang belum berjodoh dengan retret hutan. Aku bilang ke temanku, kamu putusin aza sesuai pertimbangan mu dan senyaman kamu aza. Kalo mau coba nyetir, aku siap numpang. Kalo ga jadi, I am fine too.

Malam itu, temanku menelepon dan memutuskan akan memberanikan diri menyetir jarak jauh. Perjalanan dari Hornsby station, butuh sekitar 1 jam untuk sampai Wisemans Ferry. Dari situ sambung ferry, kemudian dilanjutkan 40 menit drive ke atas gunung.

Karena jadi berangkat, aku pun menyiapkan barang-barang, di antaranya: sleeping bag, senter (penting banget), repellent (tiga barang ini aku pinjam dari housemateku -ga modal), sprei, sarung bantal, baju untuk cuaca dingin, baju nyaman meditasi, dan peralatan standar bepergian.

Ohya, dalam retret ini, peserta akan mengambil attasila (8 sila), yang salah satunya (yang paling mengkhawatirkanku) adalah "tidak akan makan pada jam yang tidak tepat", yang artinya, retret ini tak dapat dinner. Housemates ku pada bilang, kalau minggu malam kami tak menemukanmu di rumah, kami tahu penyebab kematianmu. hahhaa. Mereka sungguh mengenalku.

Aku mengecek jadwal retret, bangun jam 5 pagi, 5.30 mulai sit, chanting, SARAPAN jam 7-730 (ini yang kuingat baik-baik, meskipun di jadwal tertulis klo breakfast itu optional), disambung working meditation ampe jam 10. MAKAN SIANG jam 11 - 12. Setelah itu free practice time ampe jam 5 sore (dengan 1 jam guided meditaion di antara 5 jam itu), AFTERNOON TEA (jam 5-6), free practice time ampe jam 7, guided meditation ampe jam 8 dan ditutup dharma talk jam 8-9 malam. Setelah itu tidur.

Aku aga khawatir dengan makan siang yang jam 11 itu. Aku pun tak yakin aku bisa bertahan ampe besok pagi. Tapi ga pa pa, kupikir aku ga mungkin mati gara-gara skip dinner sekali di hari sabtu.

Tiba sudah hari H. Aku meninggalkan kantor jam 12, pulang kerumah, makan siang dan mengambil peralatan perang menuju stasiun kereta. Naik kereta jam 1.20 dan tiba di hornsby station untuk bertemu temanku. Karena temanku bilang dia bakal telat 30 menit, ditambah kekhawatiran ku akan rasa lapar, aku pun tiba2 sudah merasa lapar. Padahal aku baru makan siang kurang dari 3 jam yang lalu. Aku mampir ke toko kebab dan memesan chicken kebab. Sambil menunggu, aku menghabiskan 3/4 kebab itu.

Teman ku tiba, aku bergabung dalam mobilnya, dan kami pun menuju Wisemans Ferry. Sampai di sana, sekitar 1 jam menyetir, temanku lapar.. Wajar sih, karena emang udah jam 5. Dia pun mengeluarkan roti isi babi panggang, dan membagi satu untukku. NAH, ntah kenapa, kulahap juga si roti itu ampe habis :-(, padahal si kebab kayanya belum semua turun ke lambung ku.. Aku merasa kemelekatan ku akan makanan sangat tinggi dan bahkan terlalu tinggi. Anxiety dan fear akan lapar membuat ku makan ala monster.

Jam 6.16, kami sampai di tempat tujuan. Hutan yang dimaksud tak sebelantara bayanganku. Karena ini national park, jadi ada jalan utama yang bisa dilewati mobil, selain jalan-jalan setapak menuju tempat lain. Percakapan singkat sebelum lapor diri, temanku memulai, "eh, aku udah kasitau kan klo disini pake compose toilet?" HAH??? JENG JENG, aku tak sepenuhnya mengerti frase itu, tapi terdengar tak menyenangkan. "Apa itu Ci?" tanyaku mengklarifikasi. "Itu loh, toilet yang TAK PAKE AIR, jadi setelah deposit, kita membuang segenggam jerami ke dalam", jelasnya. WHAT?? Harusnya aku dikasi tau lebih awal, bukan pas udah nyampe di tempat tujuan. Pikiran ku mulai kemana-mana.. Membayangkan nya aza udah eneg, karena semua setoran sebelum-sebelumnya masih disana dan kita hanya menimpa di atasnya. Errrr.. Temanku sempat menyebutkan ada 1 toilet yang bisa flush pake air, tapi dia tak menjelaskan letaknya.

Mau tak mau tak ada pilihan, kami pergi melapor diri dan mendapatkan kamar, memilih tipe kerjaan untuk working meditation (aku pilih outdoor work dan temanku pilih lunch clean up) serta diberi penjelasan tentang aturan retret, noble silent etc. Beruntungnya, aku dan temanku sekamar, di dorm di ruang Metta, setidaknya kau bisa buntutin dia kemana-mana. Karena udah malam dan sesi sitting akan mulai, temanku pun menyetir menuju tempat tinggal kami. Jarak antara si office dengan dorm sekitar 5 menit jalan kaki kalo jalan pintas lewat setapak hutan, ato 7 menitan klo lewat jalan besar.

Begitu nyampe dorm, temanku menunjukkan letak compose toilet terdekat dari dorm kami. Kerennya, toiletnya dua lantai! haha. kami harus naik tangga. Lantai pertamanya itu sebuah penampungan besar. Errr. Tak banyak waktu yang kami punya, kami ke kamar dan hanya meletakkan barang, mengambil senter dan selimut meditasi, kemudian berjalan ke Sala (meditation hall). Perjalanan sekitar 10 menitan jalan kaki ke atas. Dan, aku pun merasa perlu ke toilet. Temanku mengantarku ke compose toilet dekat Sala. Bangunannya aga baru, tapi tetap aza tak menarik bagiku. Begitu masuk, tutup toilet kubuka dan tanpa napas tanpa melihat, segera nyetor dan tumpuk jerami, tutup kembali dan segera kabur. Ga ada bau sih, cuman tak berani melihat ke lubang toilet. Takut menemukan apa yang di bayanganku.. hahaa.
Tampak utuh si toilet..
Aku suka Sala nya. terbuat dari kayu dan luas. Aku kangen suasana retret, jadi aku merasa sangat bersyukur berada di Sala itu. Aku pun memilih bantal meditasi yang tersedia dan mulai bermeditasi. Pikiran masih nempel di toilet tadi dan masih membayangkan hari-hari ke depan berhadapan dengan toilet itu. Selain itu, aku juga diserang rasa kantuk yang dahsyat akibat perjalanan yang lumayan jauh. Hari pertama tak ada ceramah, hanya pengambilan refuge dan sila, serta penjelasan singkat. Dilanjutkan dengan guided meditation.

Dorm tempat kami tinggal..
Jam 9 kami pun bubar. Keluar dari Sala, gelap gulita.. Hutan beneran! tak ada cahaya lampu. Si senter pun menjadi penyelamat. Semua peserta menyalakan senter dan berjalan pulang. Aku yang penakut, cuma berani mengarahkan senter ke tanah, untuk mencegah adanya ular. Ga berani kuarahkan sembarang ke tempat lain, karena takut menemukan hal yang tak diinginkan.

Sampe kamar, mengambil sikat gigi dan handuk. Kami menuju kamar mandi untuk bersih diri. Kemudian, mau tak mau, aku harus mengunjungi si toilet dua lantai itu. Toilet ini terlihat tua, warna bangunannya juga kusam dan BAU nya KHAS jerami bakar yang tersedia di ember.. Jujur, aku merasa aga jijik pas naik ke atas. Buru-buru menyetor dan segera berlalu. mana suasana di luar juga gelap gulita lagi. Galau sekali rasanya karena kemungkinan besar besok pagi harus kukunjungi lagi toilet itu. Batin memberontak.

Malam itu aku tak bisa tidur. Aroma si toilet begitu kuat menempel dan terngiang-ngiang. Sepanjang malam, aku rasanya mencium bau itu. Bau jerami si toilet. Kekhawatiran ku akan lapar terbenam oleh kekhawatiran ku akan toilet. Aku gelisah semalaman.
Kamar kami..

Wednesday, February 26, 2014

Kehebatanku..

Berikut beberapa kehebatanku yang segera membuat ku dikenal teman-temanku..
1. Tersesat
Aku memang sudah tidak diragukan lagi untuk kemampuan yang satu ini. Sejak awal kesini, aku di antar beberapa kali dari gedung math ke chancellery, rasanya gampang sekali pas di antar. Tapi begitu ga diantar, langsung saja aku mutar-mutar ntah kemana. Tidak hanya itu, dari gedung math ke perpustakaan juga sempat membuat ku harus meminta bantuan orang mengantarku, padahal jalannya sebenarnya cuman lurus saja. Jadi, tidak heran kalo aku disuruh mendownload aplikasi "lost in campus", sebuah aplikasi yang isinya peta kampusku.

Dari kantorku di engineering menuju math, sebenarnya ada jalan pintas, tapi aku tidak tahu, aku selalu mengandalkan jalan pertama yang dikenalkan padaku, meskipun itu sebenarnya berputar agak jauh, sekitar 10 menitan jalan kaki. Suatu hari, teman sekantorku ku menjelaskan ku bahwa ada jalan pintas, dari kantorku ke arah kanan dan begini begitu.. Kupikir tak ada salahnya aku mencoba jalan itu. Suatu sore, aku harus pergi berbelanja, dan harus melewati math. Jadi, aku mencoba jalan pintas itu. Dan hasilnya? aku sampai di pojokan kampus yang aku tak mengerti sama sekali, melewati life science, physics, chemist, mc mullin, etc. Totally clueless itu dimana. Akhirnya 20 menit jalan kaki, sampai juga aku di math. Itupun setelah menelepon teman menanyakan arah. Aku cerita ke professorku, sehingga pada suatu hari, dia mengantarku ke math menunjukkanku jalan pintas. Hadeuuuh..

Beberapa waktu lalu, aku harus ke international office untuk mengambil kartu asuransi. Sebelum berangkat dari engineering, aku mengecek peta online, trus keluar gedung cek lagi papan peta gede. Trus mulailah aku berjalan dengan aplikasi "lost on campus" di tangan. Sudah mentok di kawasan hutan sepi dekat nursing, mulailah aku bingung. Aku tanya orang, dia menunjuk ke arah jalan yang sudah kulewati. Haha. ternyata international office itu cuman di depan kompleks engineering aga nyerong dikit dibalik semak-semak. Dan aku berjalan sampai ntah dimana. Haha.

Tidak sampai disitu, minggu lalu aku harus ke life science theater. Aku ingat kalo itu kulewati pas tersesat dulu. Mencoba menggabungkan pengetahuan akan tersesat kemarin plus jalan pintas ke math, aku pun mulai melangkah. Begitu di persimpangan, aku bahkan tak tahu dimana letak perpustakaan (padahal di tanganku ada peta). Aku bertanya pada orang yang lewat. Dia pun menunjukkan jalan padaku. LOL. Berasa mahasiswa baru setiap hari. hahaha. Trus sampai library, aku berputar2 di taman depannya, tanpa tau gedung mana tujuanku. Untungnya aku bertemu Ibu Sri, mahasiswa dari Indo. Begitu kutanya jalan, dia langsung ketawa, "ya ampun.. kamu selalu aza tersesat!". hahahhaa. Kacau.

Karena kehebatanku inilah, aku selalu harus melaporkan keberadaan ku pada teman-temanku. Misal, dari supermarket klo berhasil pulang, aku harus memberitahu "emak" ku. Kalo ke tempat baru, aku harus memberitahu teman serumahku. Mereka takut aku tak bisa pulang. Bahkan satu teman serumah memaksaku menghapal no hpnya, saking dia mengerti kehebatanku, dimana dalam mal saja aku bisa tersesat. Hahaha. Tapi untungnya aku punya banyak orang-orang baik di sekelilingku :).

~ to be continued ~

Aib Berkebun..

Setelah menanam paprika, terong dan serai waktu itu, seminggu kemudian, di sabtu pagi, aku kembali memantau kebunku. Kali ini bertemu si kakek tetangga yang juga sedang memantau kebunnya.
Lahan ku terdiri dari 2 petak kecil dan satu petak lagi yang aga besar, ukurannya sama dengan gabungan kedua petak kecil itu. Yang sudah kutanam hanya di petak kecil itu. Aku berniat memperluas lahan ku, karena teman Laos ku memberiku satu pot jahe yang harus kutanam. Jadi aku aku pun mulai mengolah lahan dengan cangkul kecil yang kami miliki.

Kakek sebelah menoleh ke kebunku dan meminjamkan cangkul besarnya, karena banyak rumput yang mau kutebas. Begitu pegang cangkul besarnya, aku pun langsung mencangkul di tengah. Kakek sebelah pun berkomentar: “ada juga orang mulainya dari tepi”. Aku pun mengikuti sarannya mencangkul dari tepi. Setelah selesai, aku pun memindahkan si jahe ke tanah. Tak lama kemudian, kakek sebelah mengulurkan 2 batang spinach, sebatang bibit tomat dan beberapa bibit cabe. Aku pun menanamkan mereka di petakan baru itu. Saat membuat lubang, aku menggunakan jari ku (kutoel toel). Kakek sebelah yang melihat ku begitu, melemparkan sebatang tongkat kayu kecil untukku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan bantuan kayu itu, lubang terbuat dengan muda dan cabe serta si bayam pun tertanam. Untuk tomat, dia kan tipe tanaman menjalar, jadi butuh tiang penyangga, di dekat posisi dia di tanam. Di petakan itu memang sudah ada tongkat, yang tinggal kupindahkan. Aku pun memindahkannya dekat tomat ku. Saat menancapkan tongkat, aku menggali lubang dan menekannya dengan berat badanku, supaya masuk. Kembali si kakek mengulurkan sebuah bata dan menyuruhku mengetok tongkat dengan bata itu. Kali ini dia berkata, “Hope you are a good professor!”. Itu kalimat hopeless dia, melihat aku tak bisa apa-apa. Hanya bisa akademik saja.

Aku tertawa mendengarnya.. Tertawa lucu sekaligus malu.. Dulu pas kecil, mama ku selalu bilang begitu padaku. “Semoga nilai akademis mu bagus”, karena aku malas mengerjakan hal rumah dan juga ga bisa mengerjakannya. Hanya punya nilai aga bagus di rapor saja. Ternyata, setelah belasan tahun pun, aku tetap menyandang kalimat itu. Kali ini dari kakek sebelah rumah L. Sungguh aib sekali..

Terakhir, kakek menyodorkan bungkusan biji-biji zucchini kepadaku. Isinya ada 4. Dia memintaku menanamnya. Aku yang ga ada bayangan pohon zucchini seperti apa, mengiyakan saja. Dia berpesan agar jarak tanamnya sekitar 30 cm. Setelah memberiku biji itu, dia pun berlalu masuk rumahnya. Aku tak cukup lahan lagi, jadi aku pun mencangkul petakan besar. Hanya sebagian kecil, hanya untuk ruang bagi zucchini. Aku pun menggali 3 lubang dengan kedalaman masing-masing sekitar 5 cm dan kumasukkan 1 biji per lubang itu dan menutupnya. Sisa 1 biji itu, kumasukkan ke pot kecil. Tak lupa kusiram semuanya (macam lagu kebunku) dan menyudahi kegiatan berkebunku di hari itu.

Ohya, sebelum masuk ke rumah, si kakek kembali memberiku reward berkebun. Hehe. Sesisir pisang, lemon dan sebongkah kecil kol segar J. Terima kasih kakek J

Selesai berkebun, aku menelepon mamaku. Mamaku hanya pasrah mendengar cerita ku tentang komen kakek akan kehebatanku. Mama ku juga memberi masukan, kalo menanam sayur, harus di gundukan gitu, biar tidak tergenang air. Akan kulakukan untuk proyek berikutnya.

Seminggu kemudian, aku mengajak housemate ku ke Bunning, toko yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan kebun. Aku ingin menanam sayur, karena kata mamaku, sayur bisa dipanen dengan cepat, dalam 1 bulan, mengingat aku akan segera pulang ke Indo. Begitu banyak biji-bijian yang bisa dibeli, akupun bingung mau yang mana. Aku akhirnya memilih timun (karena timun mahal disini – 2 dollar per buah), pak choy (biar cepat panen) dan basil (untuk bumbu spaghetti dan konon kabarnya dia gampang tumbuh serta tahan lama).

Di toko itu, disediakan juga selebaran tentang tips menanam tanaman dari biji. Aku mengambil selembar dan kubaca, “kedalaman biji maksimal dua kali ukuran bijinya”. Aku langsung, HAH? Kemarin si zucchini, bijinya ukuran sebesar kuaci, kubenam 5 cm dalam tanah. Wkakakka. Pantas aza dia kaga muncul di permukaan tanah selama seminggu. Hahahha. Ngakak menertawakan diri sendiri.. Temanku pun ngakak geleng-geleng.

Sampai di rumah, aku pun buru-buru berlari ke rumah kakek sebelah untuk meminjam cangkul. Selain untuk membuat gundukan, aku juga perlu mencari biji zucchini ku yang lupa kutanam dimana. Aku bilang ke kakek itu, “I put the zucchini seed 5 cm deep, now I have to find them back.” Dia berkomentar, “Haha. Do you want to grow it in China?”. Malunyaaaa. Dia bilang aku tanam dalam-dalam, biar tumbuh di seberang bumi. Wakkaka.

Kegiatan bercocok tanam pun berganti kegiatan menggali harta. Semacam arkeolog gitu.. Aku hanya menemukan 2 di antara 3 yang kutanam, dan 1 lagi dari pot. Jadi, hanya 3 itu yang akhirnya aku tanam di gundukan. LOL.

Begitu banyak hal yang perlu dipelajari dalam hidup.. haha. Semoga aib tak bertambah banyak.. wkakaka.


Saturday, October 12, 2013

Dinner di Kapal..

Aku baru saja selesai mengikuti pertemuan tahunan organisasi matematika se Australia di Sydney. Acaranya di mulai di hari Sabtu (28 Sep) dengan topik "Early Career Research Workshop" di Leura, Blue Mountain. Semua peserta yang mendaftar menginap gratis di Waldorf Leura Garden resort disertai makan malam, pagi dan siang di hari Minggu. Minggu malam acara sambung di University of Sydney.

Kalo yang di Leura itu, ada 3 pembicara yang kasi nasehat dan 3 presentasi berbau akademik. Sementara yang 4 hari di USyd itu, isinya presentasi para prof/student di bidang riset masing-masing.

Puncak acara, biasanya di conference dinner, yang biasanya harus bayar terpisah dan mahal. Tapi kali ini, kurasa sponsornya cukup kencang, jadi biaya conference sudha mencakup biaya dinner. Bagi yang mau bawa pasangan barulah dikenakan biaya tambahan, yakni $93 per orang. Dinnernya kali ini di atas kapal! Aku yang dari dulu penasaran dengan cruise pun jadi semangat 45 menanti dinner.

Kami disuruh berkumpul di Darling Harbour jam 6.30, karena kapalnya akan berlayar dari jam 7 - 10 malam. Cuaca aga berangin dan sedikit sejuk. Sampai di tempat, aku takjub menatap kapalnya.. Waaah. gede dan berlantai-lantai.. haha. Ndeso kali aku.. Tak sabar mau naik rasanya..
Si Kapal
Live music.. 

Jumlah peserta cukup banyak, jadi kami hampir memenuhi seluruh kapal.. Demikian pemandangan di dalam kapal.. Kerennya lagi (menurutku), kapal ini dilengkapi dengan live music! Tapi begitu masuk, aku jadi cemas, teringat kisah Titanic yang ada live music juga. hahaa. (Titanic berlayar dimanaaaaaaaaa, kami dimana.. kekhawatiran tak penting).


Lantai 1
Lantai 2
Kapal pun mulai bergerak... lebih telat 30 menit dari perkiraan. Setelah sekitar 20 menitan, makanan pembuka pun disajikan. Posisi yang kami tempati kurang strategis, karena kami merupakan meja terakhir yang disajikan makan... Makanan pembukanya berupa sayap ayam atas bumbu kari 3 potong, 3 lembar salmon dan 5 potong udang dalam salad. Dan 1 piring ini dimakan berdua. Kurasa kapal ini biasanya dipake untuk dinner yang romantis, sepiring berdua.. Aku bagi dengan cowo di sebelah ku, karena cewe di depanku vegetarian, makanan pembukanya beda. Kebetulan juga, cowo di sebelahnya vegetarian. Saking laparnya, makanan ini tak terfoto..

Sambil makan, kapal bergerak mendekati harbour bridge, melewati di bawahnya dan munculnya si opera house di luar jendela.. 

The Opera House

Pemandangan dr atas kapal
Seru juga sih di dalam kapal.. Tapi beberapa saat, rasanya aga mabok.. (ndeso begini aku, emang tak cocok cruise.. belum 3 jam dah mabok)
Setelah makanan pembuka, tak ada tanda-tanda akan disajikan makanan berikut, jadi aku pun memutuskan untuk ke atas dan menikmati pemandangan. Banyak seagull beterbangan, tapi ga bisa ditangkap kamera ku dalam gelap. Lumayan menyenangkan, aku berjalan mengelilingi kapal.

Tempat nongkrong kali ya..

Di bagian ujung lantai atas (ntah ini depan ato belakang), ada seperti tenda dan tersedia kursi-kursi. Di ujung ini ga begitu rame, ujung sebelahnya rame sekali. Angin cukup kencang saat itu, jadi ga bisa bertahan lama. Selain itu, banyak moth yang beterbangan, membuat tempat ini kurang seronok.



Setelah puas berkeliling, aku mampir di meja supervisorku. Mengobrol sebentar disana dan memutuskan kembali ke mejaku. Karena semua pada kesana - sini, tempat duduk kami pun tertukar-tukar. Kini aku duduk bersebelahan dengan cowo vegetarian. Yang jelas, semua sudah pada kelaparan. Makanan pembukanya tak mengenyangkan. Sampai salah satu teman di meja (dosen salah satu uni sini), menggigit serbet.. Dia berkata, "only stupid people won't get my message that I am starving". LOL.

Main dish vegetarian
Jam 9.15, makanan utama vegetarian mulai disajikan. Makanan tertata menarik, isinya zucchini terong dan paprika klo ga salah. Kami yang non-vegetarian, menatap piring tersebut dengan mupeng.. lapar boo.
Udah ntah berapa botol red wine yang habis di mejaku. (Ohya, aku baru tau, kalo white wine biasanya disajikan dengan botol dalam ember es batu, karena white-wine lebih enak diminum dingin. Sementara klo red wine disajikan begitu saja dengan botolnya.). Kami pun bercanda, kapal ini akan merapat pukul 10 malam, bisa jadi makanan kami ga datang, dan saat kami turun kapal, masing-masing dapat makanan kotak. haha.


Ternyata tidak se hopeless bayangan kami. Jam 9.40, makanan kami disajikan. Pilihannya ayam ato sapi.. Makanan biasa sih.. Kaya ayam panggang dengan mash potato. Karena sudah lapar sekali, kembali makanan ini lupa difoto. hahaha. Begitu datang, langsung HAP! Cowo yang vegetarian yang sudah kenyang duluan bergerak ntah kemana.

Makanan penutup
Jam 9.55, saat kapal sudah sangat dekat dengan pelabuhannya, kami pun mendapatkan dessert. Untuk dessert, meja kami dilayani lebih awal.. (pembuka dan menu utama, meja kami yang terakhir). Dessertnya terlihat enak sekali.. Untuk dessert, sepiring kembali bagi berdua.. Kursi sebelah ku kosong, (aku bahkan lupa kalo si cowo vegetarian itu ada, tapi ntah dimana), jadi aku pun menguasai sepiring dessert. yang kanan, kue coklat itu enak sekali. Yang tengah kurang menarik, aku hanya makan sesendok saja. Yang kanan, enak tapi terlalu manis, aku makan setengah sesuai jatah. Sampai saat itu, cowo sebelah belum nongol juga, jadi bongkahan coklat pun kulahap satu lagi.. Baru selesai masuk mulut, eh, dia nongol dan menanyakan jatah dessert dia.. Err.. rasanya gimanaaaaaaaaa gitu.. Dosen di depan ku langsung bilang, "Dia habisin punya mu (sambil nunjuk aku), padahal kami dah berusaha melarangnya)". Rasanya pengen menghilang.. wakka. Untungnya cowo Hungaria yang disebelah, menyisahkan sepotong kue coklat.. Jadinya, itu yang dikasi ke dia.

Untungnya saat itu kapal sudah merapat. Aku pun bisa kabur menghilang saat itu juga.. wkakkaa. Beberapa meja masih belum kebagian dessert. Kulihat beberapa memilih turun dan pulang tanpa dessert, sementara beberapa bertahan menikmati dessert dalam kapal yang sudah tak berlayar. Haha.

Pengalaman pertama yang menyenangkan.. Tapi membuat ku berpikir apakah aku akan cruise ato tidak suatu hari nanti... Mungkin cruise jauh lebih enak karena lebih banyak space.. kalo kapal ini super padat.. Let's see..




Thursday, October 3, 2013

Sepring hes kham..

Musim dingin telah berlalu dan musim semi pun tiba.. Aku tidak begitu bersemangat menyambut musim semi disini, karena kupikir tidak akan ada bedanya.

Selama musim dingin pun, pohon-pohon dan rerumputan masih terlihat hijau, jadi tidak merasa pergantian musim yang drastis. Tetapi, minggu lalu aku menyadari, ternyata ada beberapa hal kecil yang berubah saat berjalan kaki ke kampus. Rumput-rumput hijau yang biasa kuinjak, kini berbunga! hehe. Aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto.
Dekat gedung dept. matematika
Bunga di University Drive
di bawah terik matahari

Bunga dalam kampus










Bebek berteduh..


Meskipun namanya musim semi, tapi cuaca disini moody sekali.. Kadang bisa panas sekali (mencapai 35 derajat) yang diikuti dingin di hari esoknya. Panasnya sangat tidak enak karena kering. Rasanya benar-benar seperti di oven. Kalo jalan kaki ke kampus di jam 9.30 pagi saja, rasanya panas banget dan susah bernapas. Masih enakan panas di Indo kayanya. Tidak hanya manusia yang mencari tempat sejuk, bebek pun berteduh! Bayangkan saja panasnya.. Haha



Mulai Berkebun..

Aku selalu bercuap-cuap kalo ingin berkebun, tapi karena malasku, aku selalu beralasan kalo musim dingin terlalu dingin bagi tanaman untuk tumbuh. Tapi kini, alasan itu tak bisa dipakai lagi..

Tetanggaku, seorang bapak tua umur 82 tahun, sangat suka berkebun. Dia setiap hari menyemangati ku untuk mulai berkebun. Dari cara baik-baik sampai mengejek-ngejekku. Tapi usahanya tak berhasil.

Beberapa minggu lalu, terjadi perubahan bentuk di kebun belakang ku, perubahan yang paling signifikan adalah kemunculan 4 tongkat di pojok petakan, jadi aku berpikir, mungkin sudah ada salah satu anggota rumah mulai berkebun. Jadi, aku pun memakai alasan untuk mencari tahu siapa yang sudah menanam, takut mengambil lahan dia, untuk tidak mulai berkebun. Takutnya dia sudah tanam, eh, kegali ama aku.. hahaha. kan ga lucu toh?

Tapiii, setelah berminggu-minggu, tidak terlihat kemunculan tunas ato apapun. Tanah nya pun kering kerontang tak pernah disiram. Hanya rumput liar yang berkembang sempurna di sana. Sepertinya, orang sebelumnya hanya ke sana sekali saja. Meskipun sampai sekarang tidak tahu siapa yang mengubah kebun. Teman serumah ku yang lain (yang tak berkebun) pun bilang aku mungkin boleh pake kebun itu.

Hal yang benar-benar mendorongku turun ke kebun adalah saat seorang teman di riset grup ku memberiku satu pot serai, tinggal pindahin ke tanah doank. Dia bersepeda dari rumahnya membawa pot itu untukku, setelah mendengar aku memakai serai untuk memasak. Untuk menghargai niat baiknya dan menghindari rasa bersalah, aku tidak boleh tidak menanamnya.

Terong
Untuk mewujudkan cita-cita suci mulia berkebun, aku pun bersepeda di hari Sabtu pagi 2 minggu lalu untuk membeli bibit paprika dan terong dari supermarket.

Aku yang tak pernah menanam pun tidak tahu harus gimana. Alhasil, aku mencangkul tanahnya, menyiramkan sedikit air (karena tanahnya super kering), kemudian menggali lubang yang aga besar, mengeluarkan serai dari pot dan menanamnya ke tanah. Paprika yang kubeli dari supermarket itu satu pot persegi dengan ukuran sekitar 5 cm x 10cm x 5 cm, isinya ada beberapa. Jadi aku harus memisahkan mereka satu-satu supaya bisa ditanam berjarak. Demikian juga terongnya. Saat memisahkan mereka, aku seperti membagi brownies. hahaha. Tukang makan emang susah, apapun yang dikerjain rasanya berhubungan dengan makanan. LOL. Karena takut lupa mana tanaman apa, dan takut dicabut orang lain disangka rumput-rumputan, Kartu namanya pun sekalian kutanam. hahaha.
Serai
Capsicum/Paprika

Terlihat aku kurang rajin, karena di sekitar tanaman ku masih ada rumput-rumputnya. LOL.

Aku yang bukan tukang kebun telaten hanya bisa berdoa, semoga alam semesta melindungi tanaman-tanaman itu supaya bisa tumbuh dan berbuah. hahaha.



Keesokan harinya, dengan bangga kulaporkan pada kakek sebelah kalo aku dah menanam sesuatu di kebun. Sebagai penghargaan, aku diberi hasil kebunnya.. hahah. emang benar, kebun tetangga selalu lebih hijau! Semua yang dikasih itu fresh, petik di tempat. Pisangnya enaaak banget.. sebenarnya pisangnya kaya pisang indo biasa, tapi di sini susah ditemukan. Pisang di supermarket itu kuningnya di rak, teksturnya beda.

Jarahan kebun sebelah
Terima kasih kakek tetangga.. Semoga suatu hari aku akan berkesempatan mengulurkan hasil kebunku padanya.. hehe.