Sunday, April 14, 2013

14 April 2013- Berakhirnya Kutukan Hijau..

Salah satu teman serumahku selalu berkomentar kalau aku tidak pernah mengkonsumsi sayur hijau.. Hm.. Sebenarnya tidak juga sih, soalnya aku makan brokoli beberapa kali, sawi dan sayur hijau yang biasa dipakai untuk nasgor tek tek. Hanya saja, dia tidak pernah melihatku makan sayuran hijau. Setiap kali di rumah dan kalau kami memasak barengan, selalu bertepatan menuku lagi tidak hijau (sup kentang wortel, spaghetti isi brokoli jamur, etc). Trus setiap kali aku memasak yang hijau, dia selalu tidak di rumah. Untuk itu, dia selalu meledekku tiap aku makan, "No green", "you have never eaten anything green?", "your food is either red, yellow, orange, but not green". Di setiap makannya selalu ada yang hijau.

Suatu hari, aku memasak sawi untuk makan malam dan aku pikir kali ini dia akan berhenti berkomentar. Setelah sawiku jadi, teman serumahku ini belum juga balik. Aku mulai makan, dan begitu aku selesai makan, dia tiba. Hari itu dia lembur. hahaa. Benar-benar tidak jodoh dengan makanan hijauku. Teman yang lain memberitahu dia kalo aku barusan makan sayur hijau, malangnya dia menolak untuk percaya tanpa melihatnya sendiri. 

Beberapa kali, saat aku sudah mengeluarkan sayur hijau untuk dimasak, begitu dia pulang, selalu ada aza halangan aku masak. Kadang aku terlalu capek setelah bersepeda pulang, jadi aku hanya makan malam dengan daging yang kumasak di pagi hari atau sehari sebelumnya. Atau kadang aku memasak indomie saja. 

Hingga aku menyimpulkan, mungkin ada sejenis kutukan. Begitu dia di rumah, aku tak bisa memasak yang hijau. Aku bilang ke dia, aku tahu cara menjauhkannya dari rumah, yaitu: aku memasak sayuran hijau. hahaha. 

Sebenarnya komennya hanya bercanda, karena dia orang iseng. Suatu hari, kami ke supermarket bersama dan dia mengawasiku membeli sesuatu yang hijau, tetap aza dia tak pernah meliatku makan hijau. Kadang dia bilang, "tunggu saja kentang mu sampai berubah hijau". hahaa. Saking isengnya dia, dia akan memberiku sebiji skittles hijau (rasa apel) ke dalam dinner ku, berusaha memberi nuansa hijau. Bayangkan saja, aku makan indomie goreng dengan skittles sebiji. Ampun dah..
Permen buah super manis..
Akhirnya, hari ini kutukannya berakhir. Dia melihatku makan brokoli.. Yihaaa!! Puas sekali rasanya makan hijau depan dia.. Aku bilang, kutukan tampaknya sudah berakhir.. (Fyi, Tadi pas lagi oseng2 brokoli hampir aza wajan ku jatuh. Kalo jatuh, benar-benar ada kutukan sepertinya.). 

Brokoli HIJAU plus wortel dan ikan :) dengan kepala dia di balik kotak yoghurt
Aku bilang ke dia, hari ini harus diingat dengan baik, 14 April 2013, dia melihatku makan sayur hijau. Haha. Harus kuabadikan foto makananku bersama dia di dalamnya.. LOL. Blog super ga penting :P

Thursday, April 4, 2013

Pojok Spiritual..

Hidup harus seimbang, lahir dan batin.. Jadi, selain persiapan belajar untuk otak (yang isinya ga ada apa-apa), aku juga berusaha menyeimbangkan dengan isi batin (tampaknya ini juga tak ada isinya). Untuk membangun suasana, aku menyediakan pojok-pojok spiritual di kamar.

Aku cukup beruntung karena dibekali teman-teman komponen yang berbeda dan cukup komplit.
Dimulai dengan pojokan utama (aku tak mau menyebutnya altar karena terkesan formal dan suci sekali), terdiri dari "Travel Altar" yang dihadiahkan teman-teman Serenity, yang berisi kutipan tulisan Thay (Thich Nhat Hanh), Patung Buddha dari kayu merupakan pemberian Sunil (teman India ku dulu di Belanda) saat ulang tahunku, sebelah kiri ada foto Shifu Guojun Fashi, yang dikasi ciciku, sebelah kanan ada gambar Boddhisatva Avalokitesvara yang kudapatkan dari ciciku, kaligrafi “平安” di bawahnya merupakan pemberian GuoYuan Fashi saat kami bertemu di airport, dan terakhir sebuah persegi batu kecil di depan patung Buddha yang merupakan tempat menancap dupa, yang dulu diberikan Martin, temanku dari Montenegro.
Pojokan Utama
Dibawah pojokan ini, kutempatkan kaligrafi pemberian ChiChern Fashi, dan sebuah pembatas buku yang berisi kaligrafi juga dan Heart sutra. Sebelah kaligrafi itu, ada pesan hangat dari teman-teman di Serenity..
Kaligrafi Chi Chern Fa Shi dan pesan Serenity
Selain itu, aku juga dibekali buku-buku Zen oleh Ko Charly, yang kuletakkan di pojokan yang berbeda. Dua buku Thay di depan dan belakang dan dua buku Master ShengYen di tengahnya. 

Buku Dharma..
Tak lupa juga temanku, si empuk berikut ini..
Cushion, the silent buddy :)
Hampir semua komponen di pojok-pojok ini gretongan.. Teman-teman takut aku ke jalan yang tak benar, jadi aku dilengkapi semua peralatan ini. Semoga niat baik mereka tidak kusia-siakan.. Aku bertekad untuk berlatih demi manfaat semua makhluk.. Sadhu sadhu sadhu.. 

Kalau dengan semua mindfulness bell ini aku masih tak berlatih, memang "Terlalu!" kata bang Rhoma.. haha

(mungkin orang akan bertanya, aku ke sini untuk sekolah atau bertapa??)

Salah Pilih..

Setelah diberikan semua alat "perang", aku pun terpikir untuk melengkapkan diri ku dengan dupa, karena aku juga punya tempat nancapnya. Tidak mesti dupa klenteng sih, dupa aroma terapi juga OK. Jadi, pergilah aku ke supermarket, kebetulan ada yang jual dupa. Kupilih yang beraroma lavender (sekalian usir nyamuk) seperti gambar dibawah ini.. 
Dupa lavender.
Capgo pertama disini, kunyalakan dupa ini. Dan ternyata... Aroma lavender nya super harum dan super kuat.. Orang sini mungkin menyebutnya, super seterong!!! Asap menggepul di dalam kamar, kepalaku pun pusing. Aku segera buka pintu, buka jendela dan menyalakan kipas angin ke posisi paling kenceng. Kutinggalkan kamar ku segera untuk menyelamatkan diri. Aku menghabiskan seharian di balkoni. 

Malamnya, ketika aku masuk, aromanya masih bertahan.. Kepala ku pusing.. Akhirnya kuputuskan tidur dengan jendela terbuka dan kipas angin menyala. Malangnya udara malam yang dingin membuat ku kedinginan.. Tapi kalo tutup jendela ato mematikan kipas, aroma lavendernya menusuk hidung. Satu malam kupikir tidak jadi masalah.. 

Keesokan harinya, aku harus ke kampus, jadi kutinggalkan kamar tetap dengan jendela terbuka dan kipas angin menyala. Sore ketika aku pulang dari kampus, aromanya masih disana.. huaaaaaaaaa. Malam hari kulalui dengan kedinginan lagi.. 

Hari berikutnya, aromanya tak mau pergi-pergi.. aku bingung, kenapa bisa begini??? padahal sudah hari ketiga. Terpaksa kedinginan semalaman lagi.. 

Hari ke empat, aku bersin tanpa henti.. Aroma hilang, pilek pun datang. Aku tepar. Hari itu aku tidur seharian, kepala berat, hidung mampet. Untungnya aromanya berakhir.. Tobat dah dengan dupa itu, tak bakal kunyalakan lagi.. Benar-benar salah pilih.. Mungkin karena niatku ga benar, hanya mau usir nyamuk, akibatnya aku pun ikutan terusir dari kamar.. (Jangan-jangan aku nyamuk ya?). hahaha. Who knows...


Wednesday, March 27, 2013

Hahaha


Mimpi yang Lengkap

Bangun tidur, aku mandi dan sarapan. Niatnya hendak ke kampus. Hari ini aku ada janji dengan tukang sepeda untuk pasang back rack, boncengan belakang itu, trus nanti jam 3 sore, ada kelas di math department. Tapi semenjak bangun, aku bersin-bersin tanpa henti, rasanya gejala pilek mulai muncul, mata terasa berat. Kuputuskan kembali tidur.

Saat tidur itu, aku bermimpi, aku bersepeda pulang ke rumah di singkawang (munculnya sepeda karena aku ada janji dengan tukang sepeda), mendapati di halaman belakang rumah ada pohon jeruk. Aku tanya mamaku, "Sejak kapan ada pohon jeruk yang berbuah?" dan dijawab, "udah lama kog. Tuh disitu (sambil nunjuk bangku hitam di beranda) ada 1 yang sudah masak". Aku menoleh dan melihat jeruk mandarin yang biasa impor dari China itu di atas bangku. Aku berseru, "wah, asiknya ada jeruk ini di rumah. Soalnya di australia harganya 10 dollar per kg."

(Kurasa mimpi bagian ini muncul karena aku kemarin ingin membeli jeruk di supermarket, tapi ga jadi karena mahal).

Mimpi tak sampai disitu, selesai menikmati jeruk, aku buru-buru mau pulang ke newcastle, karena aku ingat ada kelas jam 3. Bersepeda sampai newcastle, baru jam 2 sore. Aku diajak teman-teman SMP untuk berenang di kolam renang sebelah rumah disini. (ini muncul kayanya dari pembicaraan teman2 disini yang mau ke pantai).

Nah, sebelum masuk tempat berenang, ada kaya foto booth untuk foto bareng GJFS, sang Master. (ini muncul gara2 GJFS habis ngadain retret di indo dan aku ga bisa ikut ditambah habis lihat souvenir wedding teman koko ku yang berupa foto2 di foto booth)

Lagi asik mau berenang, tiba-tiba kami disuruh berkumpul di tepi, ada ceramah dari Bhante ntah apa namanya. (ini muncul karena semalam aku membahas tentang meditation centre dari plum village yang ada di australia dengan seorang teman)

Setelah itu, aku buru-buru ke kampus untuk ikut kuliah Pak Richard.

Aku terbangun dengan bingung dimana aku berada. Sakti sekali bisa sempat pulang indo, padahal jarak dari aku tidur sampai seminar itu cuman 5 jam. Ngakak sendiri dengan mimpi super lengkap itu. Somehow, kurasa ada benarnya apa yang dikatakan orang-orang, bahwa apa yang terpikirkan bisa dibawa ke alam mimpi. wakkaa.

Transfer Pulsa

Setelah puas ketawa, aku melihat jam, di hp ku baru jam 11.30. Oo, masih keburu makan siang. Kemudian aku mendapati pembicaraan cici dan koko ku di grup soal isi pulsa. Koko ku tak sempat isi pulsa dan perlu menelepon, bertanya apakah cici ku bisa bantu isi. Cici ku bisa bantu isi sekitar jam 4 sore gitu. Dalam keadaan setengah sadar, aku berinisiatif, aku transferin pulsa aza, mentari ku masih ada pulsa.

Kuganti simcard ke mentari dan mengecek, benar! masih ada 30 ribu beberapa ratus. Aku pun mencoba sms ke 151. Aku pikir bisa ku transfer 20ribu, karena minimal pulsa sisa harus 5 ribu. Transfer pulsa ada 2 tahap. 1 kali kita kirim dan mereka balas untuk konfirmasi, trus kita jawab lagi OK, baru transaksi dilaksanakan.

Tahap 1 berlangsung lancar, aku mendapatkan pertanyaan konfirmasi dari mereka. Jadi kulanjutkan untuk menjawab OK dan kukirim balik. Kemudian aku mendapat balasan, "sisa pulsa setelah transfer kurang dari 5 ribu", jadi aku tak bisa transfer. LOH? kenapa? pulsa ku kan 30 ribu tadi. Aku cek pulsa lagi, loh? kog cuman 15 ribu??

Hahaha. Aku baru sadar, aku kalo sms kan kena roaming. 1 sms mungkin 7 ribu-an. Setelah kirim 2 kali, pulsa ku kan emang tinggal 15 ribu. Gimana mau transferin 20 ribu lagi? Aku lupa kalo sms dari sini kena harga mahal.

Demikianlah niat suci ini berakhir dengan membuang 15 ribu secara sia-sia.

Sunday, March 24, 2013

Kekonyolan di Negeri Koko Ala :)

Bukan aju namanya kalo tak mengalami hal konyol di negeri orang. Haha.

Begini ceritanya...

Pena Tak Berujung
Saat membuka rekening, aku mendapatkan souvenir dari bank, salah satunya adalah benda di bawah ini.

Sampai rumah, kukeluarkan benda-benda dari tas, termasuk benda ini. Sekilas terlihat seperti pulpen, jadi kutaruh saja di rak. Sampai satu saat aku membutuhkan pen untuk menulis, aku teringat benda ini. Kuambil dari rak, dan kucoba menarik ujungnya yang ada tangkai itu. Bagaimana pun kutarik, ujungnya tak lepas. Kupikir, "ah! mungkin ini harusnya kuputar." Meskipun memang benda ini tak seperti pen putar. Jadi, wajar saja usaha itu tak membuahkan hasil juga. Kulihat ujung hitam bulat itu, dan kemudian kupikir, "Hm.. mungkin benda ini yang harusnya kutarik, mungkin ujung pen nya ada disebelah sini." Meskipun merasa aneh kenapa tutup pen kog bisa dari karet begitu. Ketika menarik, tampaknya benda ini melekat dengan erat disana, bukan sesuatu yang bisa kulepas.

Lah, lantas, benda apa ini???

Tiba-tiba merasa diri briliant, "Jangan-jangan ini adalah pointer laser!". Aku kembali ke ujung bertangkai itu sambil mencari kemungkinan tombol disana. Kutekan-tekan, tak ada reaksi, jadilah aku menyerah menganggapnya laser. Sempat terpikir aneh juga kenapa kalo laser ujungnya hitam begitu. Alhasil, kugeletakkan saja benda itu di meja dan mengambil pulpen dari tasku.

Siang itu, aku chat dengan seorang teman yang waktu itu membuka rekening bersama. Aku sudah lupa dengan benda itu. Kami membahas indomie, dan kemudian bertanya kepadaku, "kau dapat indomie kemarin dari bank?". Kujawab, "ga ada, aku hanya mendapat sumpitnya doank." Dia tidak dapat sumpit indomie. Dari situ, dia mulai menuliskan souvenir2 yang dia dapatkan dari bank, salah satunya adalah Stylus Iphone/Ipad. Kata ini terdengar asing di telingaku. Jadi aku segera memasukkannya di google images. Dan... Taraaaaaaaa!!! Itulah benda yang dari tadi ku utak-atik itu. Buletan hitam itu yang menghasilkan listrik statis, sehingga jika dipindah-pindah di atas layar, berfungsi seperti jari manusia, terdeteksi dengan baik. Untungnya tidak berhasil kucabut tadi. Huahahaha. Ketika aku memberitahunya bahwa kukira itu pulpen, dia tak sanggup berhenti menertawakanku. Wakakkakakaa. Mene ketehe teknologi canggih itu??? Haha. Terima kasih bank, berkat mu aku mendapatkan pengetahuan baru.

Dayung yang Patah.. 
Kemarin, saat beres-beres rumah, kami membuang benda-benda yang sekiranya tak diperlukan lagi. Banyak benda peninggalan tenant yang dulu, yang masih teronggok di dalam rumah ini. atau benda-benda yang rusak. Nah, pas acara beres-beres itu, temanku mengeluarkan benda seperti di foto di bawah ini (foto di ambil dari google image) untuk dibuang.


Kupikir benda ini sudah rusak, makanya dibuang dia. Dengan polosnya aku bertanya,
"Who did kayaking/rowing? (Emangnya siapa yang di rumah ini yang ikut olahraga dayung?)" Kupikir ini adalah dayung sampan/kayak yang patah.

Serentak seluruh isi rumah tertawa ngakak! "Oh my God! That's Cricket Bat!", kata salah seorang teman. Wakakkaka. Akupun terpaksa ikut ngakak.. Ya ampun!! Dayung dari hongkong!! Haha. Emang mirip kog dayung yang patah.. (teteup kekeuh!) Untuk membenarkan diri, aku mencari gambar dayung di google images.
Dayung dari kayu :)

Mirip ato ngganya, biarlah pemirsa yang menentukannya.. hahaha. *tepokjidatsambilcaritempatngumpet*

Tombol Power yang Menghilang
Pagi ini, aku bangun agak pagi, niatnya mau laundry, sebelum yang lain memakai mesin cucinya. Setelah pilah pilih baju yang mau dicuci, aku pun ke ruangan laundry. Sampai sana, di depanku terdapat benda ini.  (Lagi-lagi benda aneh yang tak kukenali).


Aku membaca semua petunjuk di tiap tombol, tapi aku tak menemukan tombol ON alias tombol powernya dan tombol startnya. Jadilah aku kemudian sibuk mengitari setiap sudut mesin ini, sambil berharap menemukan tombol power dan start. Di depan, di kiri, di kanan, di belakang, tak kutemukan juga. Aku pun kembali ke kamar, meletakkan kembali baju kotorku.

Setelah aga siang, temanku bangun dan aku pun meminta petunjuknya. Ternyata tombol yang paling kanan (paling gede), ditekan masuk dulu, kemudian putar ke pilihan cucian yang kita mau, setelah itu ditarik lagi dan mesin pun beraksi.

Owww.. begitu toh!! Hahaha. Mesin yang pernah kuliat belum ada yang seperti ini. Hehe. Tempat baru, teknologi baru! Mungkin itu namanya, hidup sampai tua, belajar pun sampai tua..

Berasa di Singkawang
Tadi pagi, karena tidak berhasil menggunakan mesin cuci, kuputuskan pergi bersepeda. Hitung-hitung olahraga pagi, sekaligus pemanasan, sebelum bersepeda ke kampus hari Senin nanti. Aku mengambil kunci sepeda kemudian mulailah bersepeda. Awalnya mau pilih jalur yang pendek, hanya puterin gang sebelah. Tapi pas sudah jalan, rasanya terlalu dekat dan tak menantang. Jadi kuputuskan ke arah universitas aza. Belum sampai lampu merah (setengah jalan menuju uni), napasku sudah ngos-ngosan, kuputuskan U-turn di lampu merah dan kembali ke rumah. Suasana jalan seperti di Singkawang. Meluncur ditemani semilir angin, sungguh menyenangkan. Rambut berkibar-kibar, kepala terasa segar. Aku masih tidak menyadari apa yang salah.

Sampai rumah, parkir sepeda, mandi pagi dan sarapan. Saat duduk depan komputer, aku melihat benda aneh di pojok meja. Apa ini? Dua detik kemudian, aku baru ingat, ini kan helm buat sepedaan. ASTAGA!! Aku baru ingat, tadi pagi aku berkeliling dengan sepeda tanpa HELM!! Pantasan berasa kaya Singkawang.. hahahaha. Dalam hati aku berdoa, semoga tidak ada surat tilang yang sampai di kotak pos ku di hari-hari ke depan. Di sini mesti safe-riding, jadi banyak aturan dan mesti pakai helm. Kalau bersepeda terlalu cepat juga bisa didenda.

Home Sweet Home

Sabtu, 23 Maret, aku menghabiskan seharian di rumah, karena memang sudah janji dengan orang rumah untuk membersihkan rumah bersama secara besar-besaran.

Jadi disini aku akan membahas tentang rumahku (ya ampun, baru seminggu udah ngaku-ngaku rumahKU). haha. Tidak apa-apa, landlord tak mengerti bahasa Indonesia sepertinya.

Tampak depan rumahku
Berdiri di depan rumah dan menengok ke sebelah kiri
Berdiri di depan rumah dan menengok ke sebelah kanan
Begitu pintu depan dibuka, akan terlihat cermin seperti dibawah. Di kiri kanan adalah kamar. Di lorong yang ada sepeda itu menuju kamar mandi.
Yang terlihat saat membuka pintu utama
Melangkah lebih jauh, di sebelah kiri akan tampak ruang tamu ataupun ruang TV (whatever you call it) dengan sofa nyaman.

Ruang tamu/tv tempat kami nongkrong bareng
Di sebelah kanan, akan ditemukan dapur. Sebelah kanan foto (tak terliat) ada kulkas :).

Dapur kami :) 
Kalo lurus, di sebelah kanan kalian akan menemukan balkoni kami :). 
Balkoni dr pintu samping

Pemandangan balkoni seutuhnya.
Kalo berdiri di ujung balkoni, kalian akan menemukan pemandangan seperti ini:

Pemandangan sebelah kiri, kebun kami :D
 (yang diolah cuman lahan petak tanpa rumput itu). 

Sebelah kanan ada taman bermain SD dengan padang rumput yang luas.. Asiknyaaa mereka.. 
Rumah yang menyenangkan bukan? Sederhana tapi indah :). Deep bow in gratitude to universe..

PS: 1. foto ruang tamu dan dapur diambil setelah bersih-bersih.
2. Jemuran di balkoni (ntah punya siapa) sudah diangkat, jadi ga disitu lagi. hehe. Balkoni kami juga sudah ditata lebih rapi. Landord menjanjikan kami kursi malas baru untuk balkoni. Kalo sudah datang barangnya baru sekalian update lagi.

Harimau menjadi Anjing..

Jum'at, 22 Maret 2013

Hari ini tidak ke kampus. Aku mendownload beberapa paper dan membacanya di rumah. Ada kerjaan dari Prof ku, cuman karena di kampus belum dapat ruangan, aku belum bisa akses internet disana.

Siang sekitar jam 2 lewat, aku memutuskan ke kampus untuk meminta bantuan temanku untuk print beberapa halaman paper. Lebih enak baca di kertas, daripada dari layar. Aku juga sekalian perlu mengambil sepeda dari kantornya.

Cuaca hari ini terasa sangat panas dan kering. Aku berjalan kaki ke kampus, rasanya hampir pingsan. Perjalanan 29 menit itu pun terasa sangat lama. (yah! karena tau jalan, perjalanan jadi lebih singkat).

Disana, aku mengobrol dengan senior-senior Indo di math, hingga sekitar pukul 6, aku pamit pulang. Aku harus pulang sebelum hari gelap, karena aku baru pertama kali ini membawa sepeda.

Meninggalkan math department, perjalanan begitu lancar. Tanpa mengayuh, sepedaku meluncur hingga halte berikutnya. Aku senang sekali! Jauh lebih cepat dibanding jalan kaki. Tapi dari halte itu menuju lampu merah, perjalanan menanjak yang menyiksa.  Sampai lampu merah, meskipun hanya 4 menit, tapi rasanya napas ku sudah mau putus. Dari lampu merah itu, perjalanan kembali nyaman. Aku meluncur dengan lancar hingga jembatan. Dari situ, menanjak sedikit, aku sudah sampai di gang sebelah. Belok kanan disitu, ternyata disitu tantangannya. Norman street ternyata cukup kejam bentuknya. Menanjak, tidak tajam, tapi sepanjang jalan. Aku mengubah ke gigi paling ringan, tapi rasanya aku tak sanggup lagi. Jantung ku hampir berhenti. Susah payah kuselesaikan perjalanan itu dengan kecepatan nol koma nol sekian meter/ detik. Sampai di jalan rumahku sudah enak, aku tinggal meluncur turun dan menanjak untuk sepotong jalan pendek.

Perjalanan memang jadi lebih cepat, hanya 14 menit. Tiba dirumah, nafasku kembang kempis. Badanku basah kuyup. Ntah jalan nya yang memang monster, atau aku yang super cupu staminanya. Aku tak sanggup ngomong dengan siapa-siapa. Aku duduk bengong di balkoni sambil menenangkan diri, seperti anjing dengan lidah terjulur. Wakkaka. Shio sih emang harimau, begitu naik sepeda, jadi kaya anjing. Tidak terbayang hari Senin nanti, karena kalau ke kampus, nanjaknya jauh lebih dahsyat. Kalau pulang kan arah sebaliknya, dan mayoritas menurun jalannya. Belum lagi bawaan di punggung beda beratnya.

Semoga betis dan otot pundak ku cukup kuat..

Friday, March 22, 2013

First Real Discussion

March 21, 2013

Hari ini aku terbangun jam 7, karena teringat harus menggoreng sayap ayamku. Harus bangun aga awal, supaya sayapnya sempat mencair dulu. (Teteeeeeeeeeeeup aza di otak isinya makanan). Dengan sigap, kupanaskan nasi semalam. Sarapan ku 2 roti dengan selai nutela. Sambil makan, aku menggoreng ayamnya. Setelah ayamnya jadi, aku tak tahan untuk tidak memakannya. Ditemani nasi semangkok, kumasukkan ayam ke perutku. Rasanya lumayanlah, untung dibiarkan semalaman, karena setelah semalaman pun, rasanya tak cukup asin. Kalo digoreng semalam pasti lebih hambar lagi.

Setelah makan, aku membekali diriku nasi dan ayam goreng untuk makan siang. Sebenarnya, hari ini adalah Harmony Day di kampus, jadi ada food stand dari berbagai negara (termasuk indonesia) dan pengunjung boleh mencicip dengan gratis. Tapi aku tetap membawa bekal, just in case porsinya ga pas. wkakaka.

Aku bertemu prof jam 10-an, aku berangkat dengan bis karena aku harus membawa laptop yang berat untuk menunjukkan hasil exercise. Sampai sana, temanku masih di ruangan. Karena yang mau dibahas topik yang sama, jadi temanku diperpanjang hingga jam ku. sebenarnya, kami hanya bertemu 1 jam setiap orang. Jam 11, teman (orang Kuba) yang seharusnya terjadwal tidak memunculkan diri. Karena kosong, prof ku memakai waktunya untuk melanjutkan diskusi. Ohya, prof ku bilang, gambar ku untuk exercise belum cukup banyak, masih ada banyak kemungkinan, jadi dia menyuruhku melanjutkan lagi di rumah, kemudian hingga jam 12 pun, saat teman yang lain lagi (orang Laos) sudah nongol, kami tetap diruangan. Diskusi yang menarik sih, profku sangat bersemangat. Begitu banyak yang harus dicerna otak, sehingga perutku mulai menjerit. Apalagi aku sudah janji dengan teman-teman Indoku untuk lunch di food stand harmony day. Tak tahu caranya menghentikan diskusi. Jam 12.30, untungnya teman Turki minta pamit diri makan siang, jadi kami dikasi break time. Aku pun pamit kabur menuju food stand setelah menitipkan tas laptop yang berat di ruangan temanku. Sampai sana, teman Indo ku sudah pada makan dan hampir semua stand sudah tutup dan bersih-bersih. Aku ke belakang stand indo, ada nasi uduk + rendang kentang + rendang daging. Aku hanya makan nasi dan kentangnya. Aku juga sempat menikmati pertunjukan poco-poco dari teman-teman indo. Beberapa orang luar ikut bergabung dan mereka tampak sangat menikmatinya.
Foto pertunjukan poco-poco dari jarak jauh

Selesai dari situ, aku menuju tempat peminjaman sepeda. Di kampus ku, selama bulan-bulan awal kuliah, setiap Kamis, ada sukarelawan yang membuka stand dekat bank, meminjamkan sepeda untuk mahasiswa. yang mengikuti club sepedanya, dengan deposit 50 dollar dan bisa dipinjam selama mungkin. Kalau sepeda dikembalikan, uang deposit itu akan kembali. Karena malas berjalan kaki, kuputuskan meminjam sepeda hari itu juga. Karena antrian panjang, urusan berbelit-belit, aku menghabiskan waktu cukup lama disitu. Aku tinggalkan sebentar untuk mengurus internet banking. Saat kembali, masih belum juga giliranku. Teman Indo yang tadi bersamaku, memutuskan menungguku di library. Saat tiba giliranku, aku membeli helm (5 dollar), kunci sepeda (2.5 dollar) dan memintanya mengganti stand sepeda ku serta memesan tempat duduk belakang (10 dollar) untuk memudahkan membawa barang2. Orangnya berjanji akan membantuku memasangnya minggu depan.

Belum selesai urusan disitu, aku mendapatkan telpon bahwa teman yang kutitipi laptop sudah mau pulang. Jadi aku berlari kembali ke gedung Engineering untuk mengambil laptop ku. Dari sana, aku ke gedung seberangnya (diantar teman Laos) untuk mengurus kunci ruangan kantor. Aku hari itu dikasitau sudah dapat jatah ruangan. Dari sana, aku kembali ke tempat sepeda. Dengan bawaan super berat itu, rasanya susah untuk bersepeda pulang, mengingat jalan yang turun naik ga karu-karuan. Aku pun mencoba bersepeda ke math department ke markas kami. Ternyata temanku sedang mengajar, jadi kutinggalkan sepeda di luar, berjalan menggeret laptop berat menuju library bertemu teman lain. Dalam perjalanan, seperti biasa ditemani ketersesatan, hingga aku memutuskan aku duduk dan menghabiskan bekal. Setelah itu, kulanjutkan jalan menuju perpustakaan, ditunjukkan jalan oleh 2 orang China yang kutemui di jalan.

1 jam kami di library, kemudian bergerak menuju math department. Ada teman (Pak Jun) yang mau mengantar kami belanja, jadi sepeda kutitipkan dalam ruangan, dan kami berempat pun berangkat menuju shopping center. Hari kamis, toko buka lebih lama. Kami mampir toko Asia, tapi aku tak menemukan barang yang menarik. Aku hanya mengambil sebungkus bihun dan mie Chinese gitu. Padahal aku berharap akan menemukan sambal ABC. Huhu.. Tak ada juga kecap asin dan manis yang kuharapkan. Kami menuju woolworth untuk belanja sayur dan daging.

Selesai belanja, kami mampir ke rumah senior-senior Indonesia. Kami mampir ke rumah Pak Syahrul, Bu Darma dan Mbak Pur yang letaknya belakang shopping center dekat parkiran mobil. Setelah mengobrol, kami mengantar Yodi pulang, mampir masuk liat rumahnya sebentar. Setelah itu, kami kembali ke rumah Pak Jun (yang serumah dengan bu Hera) untuk mengambil tas dan aku pun di antar pulang.

Sampai rumah sudah jam 9 malam. Aku makan ayam goreng yang tersisa dan nasi. Kemudian temanku pulang, habis dari "drink" bareng profku. Dia bilang, prof ku mencemaskan ku. Dari tadi sore meninggalkan ruangannya, ampe jam mereka bertemu lagi untuk minum, aku blm pulang ke rumah. Dia takut kenapa-kenapa dengan aku yang bersepeda hari itu. Jadi merasa ga enak ga mengabari teman serumah ku kalo aku pergi bertamu bareng teman-teman Indo. Segera temanku mengirim email ke prof ku mengabari ku baik-baik di rumah. Ah! Mereka sungguh baik, benar-benar menghadirkan kehangatan untuk ku di tempat nan asing ini. Aku kembali bersyukur. Aku sungguh beruntung. Terima kasih alam semesta..