Friday, June 7, 2013

Mengubah Penampilan

Seperti biasa, setiap kali mendapatkan kesempatan memulai hidup baru di tempat baru, selalu muncul pemikiran untuk mengubah penampilan. Biasanya, kalau sudah terlalu nyaman (baca: sering) dengan jeans dan kaos, rasanya butuh dorongan kekuatan luar biasa sekali untuk mengubahnya. Masalahnya, kemungkinan akan muncul komentar dari kiri dan kanan, sehingga membuatku kembali lagi ke wujud asli.

Ketika menginjakkan kaki kesini, toh tidak ada yang mengenal seperti apa aku dulu. Kupikir saatnya mulai menata penampilan.

Dan, apakah yang terjadi?

Hal pertama dimulai dengan memilih sepeda. Alat transportasi untuk menghemat ongkos. Setelah mendapatkan sepeda, aku meminta tukang sepeda untuk memasangkan dudukan di belakang, yang niatnya akan kupasang tas tukang pos untuk menaruh belanjaan. Sayang sekali, usaha mencari tas tukang pos itu berakhir sia-sia, ntah dimana, aku masih belum menemukannya. Sementara itu, tuntutan untuk belanja sudah mendesak. Tak mungkin ku tenteng belanjaan sambil bersepeda turun naik bukit. Akhirnya, kuterima tawaran KERANJANG dari si tukang sepeda untuk kutaruh di belakang sepeda ku. Dari segi manfaat, memang keranjang itu sangat berguna, karena meringankan beban punggungku saat berbelanja (mencoba tetap positif). Tapi dari sisi penampilan? Haha. YA AMPUUUUUN!! Tampil feminin aza belum sempat, udah keburu jadi tukang sayur. Hahaha. Pake rok dengan sepeda itu? Hm.. lebih cocok dengan jeans dan kaos oblong ku tampaknya.. haha.
Sepeda Tukang Sayur/Penjual Susu?

Hal kedua yang mengubah penampilan ku (ntah ke arah mana),  adalah HELM!

Disini, setiap yang bersepeda harus mengenakan helm, karena kita dalam program “safe cycling”, membantu mempromosikan bersepeda ke orang-orang lokal yang lebih senang bawa mobil. (ya iyalah, semua orang di dunia kalo sanggup beli mobil juga akan memilih bermobil ria daripada ngadu otot betis dengan jalan berbukit). Berhubung aku belum sanggup, aku mau tak mau pro bersepeda. Haha.

Nah, helm ku yang kupunya itu bolong-bolong, katanya supaya tidak begitu panas saat mengayuh. Awalnya hal itu tidak terlalu bermasalah, tapi tidak ketika menjelang musim dingin. Angin disini kencang dan sejooook sangat.. Jadi, ketika melewati turunan, rasanya kepala ini mau beku. Aku memang punya topi winter, tapi begitu pakai topi, helm itu pun menjadi tak muat. Aku liat di internet, ada penutup kepala khusus untuk penyepeda (istilah ini ada ga sih?). Tapi aku cari di toko sini masih belum ketemu. Jadi, beginilah yang kulakukan (see picture). 
Helm anti angin.. 
Makin dekatlah aku ke penampilan tukang sayur di Singkawang, yang kalo hujan menutup kepala dengan plastic kresek. Tapi aku merasa diriku cukup PD (baca: ngga tahu malu), karena setiap kali aku bersepeda ke kampus, pasti mengundang banyak pasang mata menoleh. Hm.. Cuekkan saja mereka, daripada kepalaku pusing karena dingin..

Akhirnya, penampilan ku berhasil ku ubah, cuman arah berubahnya agak menyimpang saja. LOL..

Thursday, May 2, 2013

Patriotisme Salah Tempat

Suatu hari, teman serumahku mengeluarkan mie instan produk S*ore dan berkata bahwa itu mie instan paling enak. Sebagai pecinta Indomie, aga tak rela rasanya kalo pilihan terenak jatuh pada mie lain. Jadilah aku tanya, "Sudah pernah coba mie Indonesia?" Dia bilang sudah, tapi tak enak.

HAH? Seumur hidupku aku belum pernah bertemu seorang pun yang berkomentar kalo indomie itu tidak enak. Aku pikir, pasti ada yang tidak beres..

Indomie yang dia coba itu indomie goreng, yang bs ditemukan di supermarket biasa disini. Kupikir mungkin karena ada kecap manisnya ato apalah itu. Jadi, kuputuskan untuk membelikan indomie rasa soto dari toko Asia.

Hingga suatu hari aku menemukan...
Cara dia memasak mie instan!!
Reaksi spontanku, "WHAT?? This is how you cook your instant noodle?? And with this way you conclude that Indonesian noodle is not good?? Don't do this to the Soto that I gave you. I would rather cook that one for you when you want to eat it!" Dengan semangat patriotisme yang berkoar-koar, aku pun berceramah panjang. Demikianlah, sejak saat itu tak ada pembahasan mie instan lagi. 

Hari ini, aku balik dari kantor aga telat karena ada workshop sampai jam 5. Saat sampai di rumah, aku sudah agak capek. Kutemukan dia sudah pulang kerja. Setelah meletakkan barang di kamar, aku pun melangkah ke dapur. Kuliat dia sedang bersiap memasak, malah sempat kuledek, "you have only 15 minutes to cook. hehe" karena dia biasanya makan jam 6. Kemudian dengan senang hati kutempati sofa favorit dia sambil bermalas-malasan. Kami memang selalu perang untuk mendapatkan posisi itu dan karena dia memasak, ini kesempatan bagus untuk menguasai temapt itu. . Lagi asik-asik baring, tiba-tiba terdengar suara plastik di dapur. Aku saat itu juga berfirasat buruk. 

Benar saja, itu bunyi bungkusan mie instan. Dia pun menghampiriku di sofa dan menyodorkan indomie soto ayam dan berkata dengan sok manisnya, "I changed my mind. I want this one and you don't allow me to cook this.". Sambil tersenyum dia mengulurkan bungkusan soto mie itu. 

Huh! Sudah kuduga ide liciknya!

Grrrrrrrrrrrrrr.. Geregetan banget rasanya. Rasanya tak rela meninggalkan tempat itu. Barusan aku menunjukkan senyum kemenangan, mendapatkan sofa itu (biasanya aku kalah rebutan ama dia). Belum semenit sudah harus kutinggalkan untuk memasak, dan memasak untuk dia lagi!!! HUH!!! Dengan langkah berat, aku ke dapur dan mengambil panci. Giliran ku yang harus menyediakan makanan dalam 15 menit. huhuhuhu.  Kuliat dia duduk santai di sofa, menyalakan TV dan dengan senyum manis menatapku sambil menanti makanan. HAIZ!!! Rasanya sebeeeeeeeel banget, tapi tak bisa ngapa-ngapain >.<

Apa boleh buat lah hari itu sok patriotik belain produk negeriku tercinta sampai menjanjikan hal seperti itu =(. Patriotisme salah tempat :((. 

Untungnya berakhir dengan dia mengakui kalo indomie itu enak :D. Not so bad lah.. Pengorbanan tak sia-sia ^^

Sunday, April 14, 2013

14 April 2013- Berakhirnya Kutukan Hijau..

Salah satu teman serumahku selalu berkomentar kalau aku tidak pernah mengkonsumsi sayur hijau.. Hm.. Sebenarnya tidak juga sih, soalnya aku makan brokoli beberapa kali, sawi dan sayur hijau yang biasa dipakai untuk nasgor tek tek. Hanya saja, dia tidak pernah melihatku makan sayuran hijau. Setiap kali di rumah dan kalau kami memasak barengan, selalu bertepatan menuku lagi tidak hijau (sup kentang wortel, spaghetti isi brokoli jamur, etc). Trus setiap kali aku memasak yang hijau, dia selalu tidak di rumah. Untuk itu, dia selalu meledekku tiap aku makan, "No green", "you have never eaten anything green?", "your food is either red, yellow, orange, but not green". Di setiap makannya selalu ada yang hijau.

Suatu hari, aku memasak sawi untuk makan malam dan aku pikir kali ini dia akan berhenti berkomentar. Setelah sawiku jadi, teman serumahku ini belum juga balik. Aku mulai makan, dan begitu aku selesai makan, dia tiba. Hari itu dia lembur. hahaa. Benar-benar tidak jodoh dengan makanan hijauku. Teman yang lain memberitahu dia kalo aku barusan makan sayur hijau, malangnya dia menolak untuk percaya tanpa melihatnya sendiri. 

Beberapa kali, saat aku sudah mengeluarkan sayur hijau untuk dimasak, begitu dia pulang, selalu ada aza halangan aku masak. Kadang aku terlalu capek setelah bersepeda pulang, jadi aku hanya makan malam dengan daging yang kumasak di pagi hari atau sehari sebelumnya. Atau kadang aku memasak indomie saja. 

Hingga aku menyimpulkan, mungkin ada sejenis kutukan. Begitu dia di rumah, aku tak bisa memasak yang hijau. Aku bilang ke dia, aku tahu cara menjauhkannya dari rumah, yaitu: aku memasak sayuran hijau. hahaha. 

Sebenarnya komennya hanya bercanda, karena dia orang iseng. Suatu hari, kami ke supermarket bersama dan dia mengawasiku membeli sesuatu yang hijau, tetap aza dia tak pernah meliatku makan hijau. Kadang dia bilang, "tunggu saja kentang mu sampai berubah hijau". hahaa. Saking isengnya dia, dia akan memberiku sebiji skittles hijau (rasa apel) ke dalam dinner ku, berusaha memberi nuansa hijau. Bayangkan saja, aku makan indomie goreng dengan skittles sebiji. Ampun dah..
Permen buah super manis..
Akhirnya, hari ini kutukannya berakhir. Dia melihatku makan brokoli.. Yihaaa!! Puas sekali rasanya makan hijau depan dia.. Aku bilang, kutukan tampaknya sudah berakhir.. (Fyi, Tadi pas lagi oseng2 brokoli hampir aza wajan ku jatuh. Kalo jatuh, benar-benar ada kutukan sepertinya.). 

Brokoli HIJAU plus wortel dan ikan :) dengan kepala dia di balik kotak yoghurt
Aku bilang ke dia, hari ini harus diingat dengan baik, 14 April 2013, dia melihatku makan sayur hijau. Haha. Harus kuabadikan foto makananku bersama dia di dalamnya.. LOL. Blog super ga penting :P

Thursday, April 4, 2013

Pojok Spiritual..

Hidup harus seimbang, lahir dan batin.. Jadi, selain persiapan belajar untuk otak (yang isinya ga ada apa-apa), aku juga berusaha menyeimbangkan dengan isi batin (tampaknya ini juga tak ada isinya). Untuk membangun suasana, aku menyediakan pojok-pojok spiritual di kamar.

Aku cukup beruntung karena dibekali teman-teman komponen yang berbeda dan cukup komplit.
Dimulai dengan pojokan utama (aku tak mau menyebutnya altar karena terkesan formal dan suci sekali), terdiri dari "Travel Altar" yang dihadiahkan teman-teman Serenity, yang berisi kutipan tulisan Thay (Thich Nhat Hanh), Patung Buddha dari kayu merupakan pemberian Sunil (teman India ku dulu di Belanda) saat ulang tahunku, sebelah kiri ada foto Shifu Guojun Fashi, yang dikasi ciciku, sebelah kanan ada gambar Boddhisatva Avalokitesvara yang kudapatkan dari ciciku, kaligrafi “平安” di bawahnya merupakan pemberian GuoYuan Fashi saat kami bertemu di airport, dan terakhir sebuah persegi batu kecil di depan patung Buddha yang merupakan tempat menancap dupa, yang dulu diberikan Martin, temanku dari Montenegro.
Pojokan Utama
Dibawah pojokan ini, kutempatkan kaligrafi pemberian ChiChern Fashi, dan sebuah pembatas buku yang berisi kaligrafi juga dan Heart sutra. Sebelah kaligrafi itu, ada pesan hangat dari teman-teman di Serenity..
Kaligrafi Chi Chern Fa Shi dan pesan Serenity
Selain itu, aku juga dibekali buku-buku Zen oleh Ko Charly, yang kuletakkan di pojokan yang berbeda. Dua buku Thay di depan dan belakang dan dua buku Master ShengYen di tengahnya. 

Buku Dharma..
Tak lupa juga temanku, si empuk berikut ini..
Cushion, the silent buddy :)
Hampir semua komponen di pojok-pojok ini gretongan.. Teman-teman takut aku ke jalan yang tak benar, jadi aku dilengkapi semua peralatan ini. Semoga niat baik mereka tidak kusia-siakan.. Aku bertekad untuk berlatih demi manfaat semua makhluk.. Sadhu sadhu sadhu.. 

Kalau dengan semua mindfulness bell ini aku masih tak berlatih, memang "Terlalu!" kata bang Rhoma.. haha

(mungkin orang akan bertanya, aku ke sini untuk sekolah atau bertapa??)

Salah Pilih..

Setelah diberikan semua alat "perang", aku pun terpikir untuk melengkapkan diri ku dengan dupa, karena aku juga punya tempat nancapnya. Tidak mesti dupa klenteng sih, dupa aroma terapi juga OK. Jadi, pergilah aku ke supermarket, kebetulan ada yang jual dupa. Kupilih yang beraroma lavender (sekalian usir nyamuk) seperti gambar dibawah ini.. 
Dupa lavender.
Capgo pertama disini, kunyalakan dupa ini. Dan ternyata... Aroma lavender nya super harum dan super kuat.. Orang sini mungkin menyebutnya, super seterong!!! Asap menggepul di dalam kamar, kepalaku pun pusing. Aku segera buka pintu, buka jendela dan menyalakan kipas angin ke posisi paling kenceng. Kutinggalkan kamar ku segera untuk menyelamatkan diri. Aku menghabiskan seharian di balkoni. 

Malamnya, ketika aku masuk, aromanya masih bertahan.. Kepala ku pusing.. Akhirnya kuputuskan tidur dengan jendela terbuka dan kipas angin menyala. Malangnya udara malam yang dingin membuat ku kedinginan.. Tapi kalo tutup jendela ato mematikan kipas, aroma lavendernya menusuk hidung. Satu malam kupikir tidak jadi masalah.. 

Keesokan harinya, aku harus ke kampus, jadi kutinggalkan kamar tetap dengan jendela terbuka dan kipas angin menyala. Sore ketika aku pulang dari kampus, aromanya masih disana.. huaaaaaaaaa. Malam hari kulalui dengan kedinginan lagi.. 

Hari berikutnya, aromanya tak mau pergi-pergi.. aku bingung, kenapa bisa begini??? padahal sudah hari ketiga. Terpaksa kedinginan semalaman lagi.. 

Hari ke empat, aku bersin tanpa henti.. Aroma hilang, pilek pun datang. Aku tepar. Hari itu aku tidur seharian, kepala berat, hidung mampet. Untungnya aromanya berakhir.. Tobat dah dengan dupa itu, tak bakal kunyalakan lagi.. Benar-benar salah pilih.. Mungkin karena niatku ga benar, hanya mau usir nyamuk, akibatnya aku pun ikutan terusir dari kamar.. (Jangan-jangan aku nyamuk ya?). hahaha. Who knows...


Wednesday, March 27, 2013

Hahaha


Mimpi yang Lengkap

Bangun tidur, aku mandi dan sarapan. Niatnya hendak ke kampus. Hari ini aku ada janji dengan tukang sepeda untuk pasang back rack, boncengan belakang itu, trus nanti jam 3 sore, ada kelas di math department. Tapi semenjak bangun, aku bersin-bersin tanpa henti, rasanya gejala pilek mulai muncul, mata terasa berat. Kuputuskan kembali tidur.

Saat tidur itu, aku bermimpi, aku bersepeda pulang ke rumah di singkawang (munculnya sepeda karena aku ada janji dengan tukang sepeda), mendapati di halaman belakang rumah ada pohon jeruk. Aku tanya mamaku, "Sejak kapan ada pohon jeruk yang berbuah?" dan dijawab, "udah lama kog. Tuh disitu (sambil nunjuk bangku hitam di beranda) ada 1 yang sudah masak". Aku menoleh dan melihat jeruk mandarin yang biasa impor dari China itu di atas bangku. Aku berseru, "wah, asiknya ada jeruk ini di rumah. Soalnya di australia harganya 10 dollar per kg."

(Kurasa mimpi bagian ini muncul karena aku kemarin ingin membeli jeruk di supermarket, tapi ga jadi karena mahal).

Mimpi tak sampai disitu, selesai menikmati jeruk, aku buru-buru mau pulang ke newcastle, karena aku ingat ada kelas jam 3. Bersepeda sampai newcastle, baru jam 2 sore. Aku diajak teman-teman SMP untuk berenang di kolam renang sebelah rumah disini. (ini muncul kayanya dari pembicaraan teman2 disini yang mau ke pantai).

Nah, sebelum masuk tempat berenang, ada kaya foto booth untuk foto bareng GJFS, sang Master. (ini muncul gara2 GJFS habis ngadain retret di indo dan aku ga bisa ikut ditambah habis lihat souvenir wedding teman koko ku yang berupa foto2 di foto booth)

Lagi asik mau berenang, tiba-tiba kami disuruh berkumpul di tepi, ada ceramah dari Bhante ntah apa namanya. (ini muncul karena semalam aku membahas tentang meditation centre dari plum village yang ada di australia dengan seorang teman)

Setelah itu, aku buru-buru ke kampus untuk ikut kuliah Pak Richard.

Aku terbangun dengan bingung dimana aku berada. Sakti sekali bisa sempat pulang indo, padahal jarak dari aku tidur sampai seminar itu cuman 5 jam. Ngakak sendiri dengan mimpi super lengkap itu. Somehow, kurasa ada benarnya apa yang dikatakan orang-orang, bahwa apa yang terpikirkan bisa dibawa ke alam mimpi. wakkaa.

Transfer Pulsa

Setelah puas ketawa, aku melihat jam, di hp ku baru jam 11.30. Oo, masih keburu makan siang. Kemudian aku mendapati pembicaraan cici dan koko ku di grup soal isi pulsa. Koko ku tak sempat isi pulsa dan perlu menelepon, bertanya apakah cici ku bisa bantu isi. Cici ku bisa bantu isi sekitar jam 4 sore gitu. Dalam keadaan setengah sadar, aku berinisiatif, aku transferin pulsa aza, mentari ku masih ada pulsa.

Kuganti simcard ke mentari dan mengecek, benar! masih ada 30 ribu beberapa ratus. Aku pun mencoba sms ke 151. Aku pikir bisa ku transfer 20ribu, karena minimal pulsa sisa harus 5 ribu. Transfer pulsa ada 2 tahap. 1 kali kita kirim dan mereka balas untuk konfirmasi, trus kita jawab lagi OK, baru transaksi dilaksanakan.

Tahap 1 berlangsung lancar, aku mendapatkan pertanyaan konfirmasi dari mereka. Jadi kulanjutkan untuk menjawab OK dan kukirim balik. Kemudian aku mendapat balasan, "sisa pulsa setelah transfer kurang dari 5 ribu", jadi aku tak bisa transfer. LOH? kenapa? pulsa ku kan 30 ribu tadi. Aku cek pulsa lagi, loh? kog cuman 15 ribu??

Hahaha. Aku baru sadar, aku kalo sms kan kena roaming. 1 sms mungkin 7 ribu-an. Setelah kirim 2 kali, pulsa ku kan emang tinggal 15 ribu. Gimana mau transferin 20 ribu lagi? Aku lupa kalo sms dari sini kena harga mahal.

Demikianlah niat suci ini berakhir dengan membuang 15 ribu secara sia-sia.

Sunday, March 24, 2013

Kekonyolan di Negeri Koko Ala :)

Bukan aju namanya kalo tak mengalami hal konyol di negeri orang. Haha.

Begini ceritanya...

Pena Tak Berujung
Saat membuka rekening, aku mendapatkan souvenir dari bank, salah satunya adalah benda di bawah ini.

Sampai rumah, kukeluarkan benda-benda dari tas, termasuk benda ini. Sekilas terlihat seperti pulpen, jadi kutaruh saja di rak. Sampai satu saat aku membutuhkan pen untuk menulis, aku teringat benda ini. Kuambil dari rak, dan kucoba menarik ujungnya yang ada tangkai itu. Bagaimana pun kutarik, ujungnya tak lepas. Kupikir, "ah! mungkin ini harusnya kuputar." Meskipun memang benda ini tak seperti pen putar. Jadi, wajar saja usaha itu tak membuahkan hasil juga. Kulihat ujung hitam bulat itu, dan kemudian kupikir, "Hm.. mungkin benda ini yang harusnya kutarik, mungkin ujung pen nya ada disebelah sini." Meskipun merasa aneh kenapa tutup pen kog bisa dari karet begitu. Ketika menarik, tampaknya benda ini melekat dengan erat disana, bukan sesuatu yang bisa kulepas.

Lah, lantas, benda apa ini???

Tiba-tiba merasa diri briliant, "Jangan-jangan ini adalah pointer laser!". Aku kembali ke ujung bertangkai itu sambil mencari kemungkinan tombol disana. Kutekan-tekan, tak ada reaksi, jadilah aku menyerah menganggapnya laser. Sempat terpikir aneh juga kenapa kalo laser ujungnya hitam begitu. Alhasil, kugeletakkan saja benda itu di meja dan mengambil pulpen dari tasku.

Siang itu, aku chat dengan seorang teman yang waktu itu membuka rekening bersama. Aku sudah lupa dengan benda itu. Kami membahas indomie, dan kemudian bertanya kepadaku, "kau dapat indomie kemarin dari bank?". Kujawab, "ga ada, aku hanya mendapat sumpitnya doank." Dia tidak dapat sumpit indomie. Dari situ, dia mulai menuliskan souvenir2 yang dia dapatkan dari bank, salah satunya adalah Stylus Iphone/Ipad. Kata ini terdengar asing di telingaku. Jadi aku segera memasukkannya di google images. Dan... Taraaaaaaaa!!! Itulah benda yang dari tadi ku utak-atik itu. Buletan hitam itu yang menghasilkan listrik statis, sehingga jika dipindah-pindah di atas layar, berfungsi seperti jari manusia, terdeteksi dengan baik. Untungnya tidak berhasil kucabut tadi. Huahahaha. Ketika aku memberitahunya bahwa kukira itu pulpen, dia tak sanggup berhenti menertawakanku. Wakakkakakaa. Mene ketehe teknologi canggih itu??? Haha. Terima kasih bank, berkat mu aku mendapatkan pengetahuan baru.

Dayung yang Patah.. 
Kemarin, saat beres-beres rumah, kami membuang benda-benda yang sekiranya tak diperlukan lagi. Banyak benda peninggalan tenant yang dulu, yang masih teronggok di dalam rumah ini. atau benda-benda yang rusak. Nah, pas acara beres-beres itu, temanku mengeluarkan benda seperti di foto di bawah ini (foto di ambil dari google image) untuk dibuang.


Kupikir benda ini sudah rusak, makanya dibuang dia. Dengan polosnya aku bertanya,
"Who did kayaking/rowing? (Emangnya siapa yang di rumah ini yang ikut olahraga dayung?)" Kupikir ini adalah dayung sampan/kayak yang patah.

Serentak seluruh isi rumah tertawa ngakak! "Oh my God! That's Cricket Bat!", kata salah seorang teman. Wakakkaka. Akupun terpaksa ikut ngakak.. Ya ampun!! Dayung dari hongkong!! Haha. Emang mirip kog dayung yang patah.. (teteup kekeuh!) Untuk membenarkan diri, aku mencari gambar dayung di google images.
Dayung dari kayu :)

Mirip ato ngganya, biarlah pemirsa yang menentukannya.. hahaha. *tepokjidatsambilcaritempatngumpet*

Tombol Power yang Menghilang
Pagi ini, aku bangun agak pagi, niatnya mau laundry, sebelum yang lain memakai mesin cucinya. Setelah pilah pilih baju yang mau dicuci, aku pun ke ruangan laundry. Sampai sana, di depanku terdapat benda ini.  (Lagi-lagi benda aneh yang tak kukenali).


Aku membaca semua petunjuk di tiap tombol, tapi aku tak menemukan tombol ON alias tombol powernya dan tombol startnya. Jadilah aku kemudian sibuk mengitari setiap sudut mesin ini, sambil berharap menemukan tombol power dan start. Di depan, di kiri, di kanan, di belakang, tak kutemukan juga. Aku pun kembali ke kamar, meletakkan kembali baju kotorku.

Setelah aga siang, temanku bangun dan aku pun meminta petunjuknya. Ternyata tombol yang paling kanan (paling gede), ditekan masuk dulu, kemudian putar ke pilihan cucian yang kita mau, setelah itu ditarik lagi dan mesin pun beraksi.

Owww.. begitu toh!! Hahaha. Mesin yang pernah kuliat belum ada yang seperti ini. Hehe. Tempat baru, teknologi baru! Mungkin itu namanya, hidup sampai tua, belajar pun sampai tua..

Berasa di Singkawang
Tadi pagi, karena tidak berhasil menggunakan mesin cuci, kuputuskan pergi bersepeda. Hitung-hitung olahraga pagi, sekaligus pemanasan, sebelum bersepeda ke kampus hari Senin nanti. Aku mengambil kunci sepeda kemudian mulailah bersepeda. Awalnya mau pilih jalur yang pendek, hanya puterin gang sebelah. Tapi pas sudah jalan, rasanya terlalu dekat dan tak menantang. Jadi kuputuskan ke arah universitas aza. Belum sampai lampu merah (setengah jalan menuju uni), napasku sudah ngos-ngosan, kuputuskan U-turn di lampu merah dan kembali ke rumah. Suasana jalan seperti di Singkawang. Meluncur ditemani semilir angin, sungguh menyenangkan. Rambut berkibar-kibar, kepala terasa segar. Aku masih tidak menyadari apa yang salah.

Sampai rumah, parkir sepeda, mandi pagi dan sarapan. Saat duduk depan komputer, aku melihat benda aneh di pojok meja. Apa ini? Dua detik kemudian, aku baru ingat, ini kan helm buat sepedaan. ASTAGA!! Aku baru ingat, tadi pagi aku berkeliling dengan sepeda tanpa HELM!! Pantasan berasa kaya Singkawang.. hahahaha. Dalam hati aku berdoa, semoga tidak ada surat tilang yang sampai di kotak pos ku di hari-hari ke depan. Di sini mesti safe-riding, jadi banyak aturan dan mesti pakai helm. Kalau bersepeda terlalu cepat juga bisa didenda.

Home Sweet Home

Sabtu, 23 Maret, aku menghabiskan seharian di rumah, karena memang sudah janji dengan orang rumah untuk membersihkan rumah bersama secara besar-besaran.

Jadi disini aku akan membahas tentang rumahku (ya ampun, baru seminggu udah ngaku-ngaku rumahKU). haha. Tidak apa-apa, landlord tak mengerti bahasa Indonesia sepertinya.

Tampak depan rumahku
Berdiri di depan rumah dan menengok ke sebelah kiri
Berdiri di depan rumah dan menengok ke sebelah kanan
Begitu pintu depan dibuka, akan terlihat cermin seperti dibawah. Di kiri kanan adalah kamar. Di lorong yang ada sepeda itu menuju kamar mandi.
Yang terlihat saat membuka pintu utama
Melangkah lebih jauh, di sebelah kiri akan tampak ruang tamu ataupun ruang TV (whatever you call it) dengan sofa nyaman.

Ruang tamu/tv tempat kami nongkrong bareng
Di sebelah kanan, akan ditemukan dapur. Sebelah kanan foto (tak terliat) ada kulkas :).

Dapur kami :) 
Kalo lurus, di sebelah kanan kalian akan menemukan balkoni kami :). 
Balkoni dr pintu samping

Pemandangan balkoni seutuhnya.
Kalo berdiri di ujung balkoni, kalian akan menemukan pemandangan seperti ini:

Pemandangan sebelah kiri, kebun kami :D
 (yang diolah cuman lahan petak tanpa rumput itu). 

Sebelah kanan ada taman bermain SD dengan padang rumput yang luas.. Asiknyaaa mereka.. 
Rumah yang menyenangkan bukan? Sederhana tapi indah :). Deep bow in gratitude to universe..

PS: 1. foto ruang tamu dan dapur diambil setelah bersih-bersih.
2. Jemuran di balkoni (ntah punya siapa) sudah diangkat, jadi ga disitu lagi. hehe. Balkoni kami juga sudah ditata lebih rapi. Landord menjanjikan kami kursi malas baru untuk balkoni. Kalo sudah datang barangnya baru sekalian update lagi.