Wednesday, March 12, 2014

Retret Hutan Perdana (1) - Persiapan dan Hari H

Akhir minggu yang baru lewat ini, aku melewatkannya di sebuah forest monastery, Wat Buddha Dhamma, di Dharug National Park.

Awal cerita kenapa bisa berakhir disana adalah, di tengah suasana sibuk dan jadwal padat di kampus, terasa sekali tubuh, pikiran dan emosi semakin hari semakin labil. Aku pun berusaha sit rutin untuk menyeimbangkannya. Nah, di tengah kesibukan itu, datanglah tawaran seorang teman, "Mau weekend retreat ga di Wat Buddha Dhamma? Forest monastery gitu. Nyampe Jum'at malam, dan cabs lagi Minggu siang".

Karena emang lagi butuh retret, aku pun mengiyakan tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Letaknya dimana tak tau, perginya gimana ga tau, berapa lama perjalanan pun tak jelas. Teman ku bilang ada temannya yang akan menyetir, jadi aku hanya perlu bertemu mereka di suatu tempat dan akan disetirin ke lokasi retret.

Setelah mengiyakan, aku mulai email office WBD untuk formulir pendaftaran. Retret nya akan mengikuti tradisi Theravada, dan bikkhunya itu murid Ajahn Chah. Setelah mengisi formulir, dikasi lah list barang-barang yang harus dibawa.

Beberapa hari menjelang hari H, teman ku menelepon dan mengabari kalo temannya yang mau nyetir itu lagi sakit, jadi ga bisa berangkat. Sementara temanku ini belum berani nyetir jauh. Ya udah, kupikir aku memang belum berjodoh dengan retret hutan. Aku bilang ke temanku, kamu putusin aza sesuai pertimbangan mu dan senyaman kamu aza. Kalo mau coba nyetir, aku siap numpang. Kalo ga jadi, I am fine too.

Malam itu, temanku menelepon dan memutuskan akan memberanikan diri menyetir jarak jauh. Perjalanan dari Hornsby station, butuh sekitar 1 jam untuk sampai Wisemans Ferry. Dari situ sambung ferry, kemudian dilanjutkan 40 menit drive ke atas gunung.

Karena jadi berangkat, aku pun menyiapkan barang-barang, di antaranya: sleeping bag, senter (penting banget), repellent (tiga barang ini aku pinjam dari housemateku -ga modal), sprei, sarung bantal, baju untuk cuaca dingin, baju nyaman meditasi, dan peralatan standar bepergian.

Ohya, dalam retret ini, peserta akan mengambil attasila (8 sila), yang salah satunya (yang paling mengkhawatirkanku) adalah "tidak akan makan pada jam yang tidak tepat", yang artinya, retret ini tak dapat dinner. Housemates ku pada bilang, kalau minggu malam kami tak menemukanmu di rumah, kami tahu penyebab kematianmu. hahhaa. Mereka sungguh mengenalku.

Aku mengecek jadwal retret, bangun jam 5 pagi, 5.30 mulai sit, chanting, SARAPAN jam 7-730 (ini yang kuingat baik-baik, meskipun di jadwal tertulis klo breakfast itu optional), disambung working meditation ampe jam 10. MAKAN SIANG jam 11 - 12. Setelah itu free practice time ampe jam 5 sore (dengan 1 jam guided meditaion di antara 5 jam itu), AFTERNOON TEA (jam 5-6), free practice time ampe jam 7, guided meditation ampe jam 8 dan ditutup dharma talk jam 8-9 malam. Setelah itu tidur.

Aku aga khawatir dengan makan siang yang jam 11 itu. Aku pun tak yakin aku bisa bertahan ampe besok pagi. Tapi ga pa pa, kupikir aku ga mungkin mati gara-gara skip dinner sekali di hari sabtu.

Tiba sudah hari H. Aku meninggalkan kantor jam 12, pulang kerumah, makan siang dan mengambil peralatan perang menuju stasiun kereta. Naik kereta jam 1.20 dan tiba di hornsby station untuk bertemu temanku. Karena temanku bilang dia bakal telat 30 menit, ditambah kekhawatiran ku akan rasa lapar, aku pun tiba2 sudah merasa lapar. Padahal aku baru makan siang kurang dari 3 jam yang lalu. Aku mampir ke toko kebab dan memesan chicken kebab. Sambil menunggu, aku menghabiskan 3/4 kebab itu.

Teman ku tiba, aku bergabung dalam mobilnya, dan kami pun menuju Wisemans Ferry. Sampai di sana, sekitar 1 jam menyetir, temanku lapar.. Wajar sih, karena emang udah jam 5. Dia pun mengeluarkan roti isi babi panggang, dan membagi satu untukku. NAH, ntah kenapa, kulahap juga si roti itu ampe habis :-(, padahal si kebab kayanya belum semua turun ke lambung ku.. Aku merasa kemelekatan ku akan makanan sangat tinggi dan bahkan terlalu tinggi. Anxiety dan fear akan lapar membuat ku makan ala monster.

Jam 6.16, kami sampai di tempat tujuan. Hutan yang dimaksud tak sebelantara bayanganku. Karena ini national park, jadi ada jalan utama yang bisa dilewati mobil, selain jalan-jalan setapak menuju tempat lain. Percakapan singkat sebelum lapor diri, temanku memulai, "eh, aku udah kasitau kan klo disini pake compose toilet?" HAH??? JENG JENG, aku tak sepenuhnya mengerti frase itu, tapi terdengar tak menyenangkan. "Apa itu Ci?" tanyaku mengklarifikasi. "Itu loh, toilet yang TAK PAKE AIR, jadi setelah deposit, kita membuang segenggam jerami ke dalam", jelasnya. WHAT?? Harusnya aku dikasi tau lebih awal, bukan pas udah nyampe di tempat tujuan. Pikiran ku mulai kemana-mana.. Membayangkan nya aza udah eneg, karena semua setoran sebelum-sebelumnya masih disana dan kita hanya menimpa di atasnya. Errrr.. Temanku sempat menyebutkan ada 1 toilet yang bisa flush pake air, tapi dia tak menjelaskan letaknya.

Mau tak mau tak ada pilihan, kami pergi melapor diri dan mendapatkan kamar, memilih tipe kerjaan untuk working meditation (aku pilih outdoor work dan temanku pilih lunch clean up) serta diberi penjelasan tentang aturan retret, noble silent etc. Beruntungnya, aku dan temanku sekamar, di dorm di ruang Metta, setidaknya kau bisa buntutin dia kemana-mana. Karena udah malam dan sesi sitting akan mulai, temanku pun menyetir menuju tempat tinggal kami. Jarak antara si office dengan dorm sekitar 5 menit jalan kaki kalo jalan pintas lewat setapak hutan, ato 7 menitan klo lewat jalan besar.

Begitu nyampe dorm, temanku menunjukkan letak compose toilet terdekat dari dorm kami. Kerennya, toiletnya dua lantai! haha. kami harus naik tangga. Lantai pertamanya itu sebuah penampungan besar. Errr. Tak banyak waktu yang kami punya, kami ke kamar dan hanya meletakkan barang, mengambil senter dan selimut meditasi, kemudian berjalan ke Sala (meditation hall). Perjalanan sekitar 10 menitan jalan kaki ke atas. Dan, aku pun merasa perlu ke toilet. Temanku mengantarku ke compose toilet dekat Sala. Bangunannya aga baru, tapi tetap aza tak menarik bagiku. Begitu masuk, tutup toilet kubuka dan tanpa napas tanpa melihat, segera nyetor dan tumpuk jerami, tutup kembali dan segera kabur. Ga ada bau sih, cuman tak berani melihat ke lubang toilet. Takut menemukan apa yang di bayanganku.. hahaa.
Tampak utuh si toilet..
Aku suka Sala nya. terbuat dari kayu dan luas. Aku kangen suasana retret, jadi aku merasa sangat bersyukur berada di Sala itu. Aku pun memilih bantal meditasi yang tersedia dan mulai bermeditasi. Pikiran masih nempel di toilet tadi dan masih membayangkan hari-hari ke depan berhadapan dengan toilet itu. Selain itu, aku juga diserang rasa kantuk yang dahsyat akibat perjalanan yang lumayan jauh. Hari pertama tak ada ceramah, hanya pengambilan refuge dan sila, serta penjelasan singkat. Dilanjutkan dengan guided meditation.

Dorm tempat kami tinggal..
Jam 9 kami pun bubar. Keluar dari Sala, gelap gulita.. Hutan beneran! tak ada cahaya lampu. Si senter pun menjadi penyelamat. Semua peserta menyalakan senter dan berjalan pulang. Aku yang penakut, cuma berani mengarahkan senter ke tanah, untuk mencegah adanya ular. Ga berani kuarahkan sembarang ke tempat lain, karena takut menemukan hal yang tak diinginkan.

Sampe kamar, mengambil sikat gigi dan handuk. Kami menuju kamar mandi untuk bersih diri. Kemudian, mau tak mau, aku harus mengunjungi si toilet dua lantai itu. Toilet ini terlihat tua, warna bangunannya juga kusam dan BAU nya KHAS jerami bakar yang tersedia di ember.. Jujur, aku merasa aga jijik pas naik ke atas. Buru-buru menyetor dan segera berlalu. mana suasana di luar juga gelap gulita lagi. Galau sekali rasanya karena kemungkinan besar besok pagi harus kukunjungi lagi toilet itu. Batin memberontak.

Malam itu aku tak bisa tidur. Aroma si toilet begitu kuat menempel dan terngiang-ngiang. Sepanjang malam, aku rasanya mencium bau itu. Bau jerami si toilet. Kekhawatiran ku akan lapar terbenam oleh kekhawatiran ku akan toilet. Aku gelisah semalaman.
Kamar kami..

Wednesday, February 26, 2014

Kehebatanku..

Berikut beberapa kehebatanku yang segera membuat ku dikenal teman-temanku..
1. Tersesat
Aku memang sudah tidak diragukan lagi untuk kemampuan yang satu ini. Sejak awal kesini, aku di antar beberapa kali dari gedung math ke chancellery, rasanya gampang sekali pas di antar. Tapi begitu ga diantar, langsung saja aku mutar-mutar ntah kemana. Tidak hanya itu, dari gedung math ke perpustakaan juga sempat membuat ku harus meminta bantuan orang mengantarku, padahal jalannya sebenarnya cuman lurus saja. Jadi, tidak heran kalo aku disuruh mendownload aplikasi "lost in campus", sebuah aplikasi yang isinya peta kampusku.

Dari kantorku di engineering menuju math, sebenarnya ada jalan pintas, tapi aku tidak tahu, aku selalu mengandalkan jalan pertama yang dikenalkan padaku, meskipun itu sebenarnya berputar agak jauh, sekitar 10 menitan jalan kaki. Suatu hari, teman sekantorku ku menjelaskan ku bahwa ada jalan pintas, dari kantorku ke arah kanan dan begini begitu.. Kupikir tak ada salahnya aku mencoba jalan itu. Suatu sore, aku harus pergi berbelanja, dan harus melewati math. Jadi, aku mencoba jalan pintas itu. Dan hasilnya? aku sampai di pojokan kampus yang aku tak mengerti sama sekali, melewati life science, physics, chemist, mc mullin, etc. Totally clueless itu dimana. Akhirnya 20 menit jalan kaki, sampai juga aku di math. Itupun setelah menelepon teman menanyakan arah. Aku cerita ke professorku, sehingga pada suatu hari, dia mengantarku ke math menunjukkanku jalan pintas. Hadeuuuh..

Beberapa waktu lalu, aku harus ke international office untuk mengambil kartu asuransi. Sebelum berangkat dari engineering, aku mengecek peta online, trus keluar gedung cek lagi papan peta gede. Trus mulailah aku berjalan dengan aplikasi "lost on campus" di tangan. Sudah mentok di kawasan hutan sepi dekat nursing, mulailah aku bingung. Aku tanya orang, dia menunjuk ke arah jalan yang sudah kulewati. Haha. ternyata international office itu cuman di depan kompleks engineering aga nyerong dikit dibalik semak-semak. Dan aku berjalan sampai ntah dimana. Haha.

Tidak sampai disitu, minggu lalu aku harus ke life science theater. Aku ingat kalo itu kulewati pas tersesat dulu. Mencoba menggabungkan pengetahuan akan tersesat kemarin plus jalan pintas ke math, aku pun mulai melangkah. Begitu di persimpangan, aku bahkan tak tahu dimana letak perpustakaan (padahal di tanganku ada peta). Aku bertanya pada orang yang lewat. Dia pun menunjukkan jalan padaku. LOL. Berasa mahasiswa baru setiap hari. hahaha. Trus sampai library, aku berputar2 di taman depannya, tanpa tau gedung mana tujuanku. Untungnya aku bertemu Ibu Sri, mahasiswa dari Indo. Begitu kutanya jalan, dia langsung ketawa, "ya ampun.. kamu selalu aza tersesat!". hahahhaa. Kacau.

Karena kehebatanku inilah, aku selalu harus melaporkan keberadaan ku pada teman-temanku. Misal, dari supermarket klo berhasil pulang, aku harus memberitahu "emak" ku. Kalo ke tempat baru, aku harus memberitahu teman serumahku. Mereka takut aku tak bisa pulang. Bahkan satu teman serumah memaksaku menghapal no hpnya, saking dia mengerti kehebatanku, dimana dalam mal saja aku bisa tersesat. Hahaha. Tapi untungnya aku punya banyak orang-orang baik di sekelilingku :).

~ to be continued ~

Aib Berkebun..

Setelah menanam paprika, terong dan serai waktu itu, seminggu kemudian, di sabtu pagi, aku kembali memantau kebunku. Kali ini bertemu si kakek tetangga yang juga sedang memantau kebunnya.
Lahan ku terdiri dari 2 petak kecil dan satu petak lagi yang aga besar, ukurannya sama dengan gabungan kedua petak kecil itu. Yang sudah kutanam hanya di petak kecil itu. Aku berniat memperluas lahan ku, karena teman Laos ku memberiku satu pot jahe yang harus kutanam. Jadi aku aku pun mulai mengolah lahan dengan cangkul kecil yang kami miliki.

Kakek sebelah menoleh ke kebunku dan meminjamkan cangkul besarnya, karena banyak rumput yang mau kutebas. Begitu pegang cangkul besarnya, aku pun langsung mencangkul di tengah. Kakek sebelah pun berkomentar: “ada juga orang mulainya dari tepi”. Aku pun mengikuti sarannya mencangkul dari tepi. Setelah selesai, aku pun memindahkan si jahe ke tanah. Tak lama kemudian, kakek sebelah mengulurkan 2 batang spinach, sebatang bibit tomat dan beberapa bibit cabe. Aku pun menanamkan mereka di petakan baru itu. Saat membuat lubang, aku menggunakan jari ku (kutoel toel). Kakek sebelah yang melihat ku begitu, melemparkan sebatang tongkat kayu kecil untukku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan bantuan kayu itu, lubang terbuat dengan muda dan cabe serta si bayam pun tertanam. Untuk tomat, dia kan tipe tanaman menjalar, jadi butuh tiang penyangga, di dekat posisi dia di tanam. Di petakan itu memang sudah ada tongkat, yang tinggal kupindahkan. Aku pun memindahkannya dekat tomat ku. Saat menancapkan tongkat, aku menggali lubang dan menekannya dengan berat badanku, supaya masuk. Kembali si kakek mengulurkan sebuah bata dan menyuruhku mengetok tongkat dengan bata itu. Kali ini dia berkata, “Hope you are a good professor!”. Itu kalimat hopeless dia, melihat aku tak bisa apa-apa. Hanya bisa akademik saja.

Aku tertawa mendengarnya.. Tertawa lucu sekaligus malu.. Dulu pas kecil, mama ku selalu bilang begitu padaku. “Semoga nilai akademis mu bagus”, karena aku malas mengerjakan hal rumah dan juga ga bisa mengerjakannya. Hanya punya nilai aga bagus di rapor saja. Ternyata, setelah belasan tahun pun, aku tetap menyandang kalimat itu. Kali ini dari kakek sebelah rumah L. Sungguh aib sekali..

Terakhir, kakek menyodorkan bungkusan biji-biji zucchini kepadaku. Isinya ada 4. Dia memintaku menanamnya. Aku yang ga ada bayangan pohon zucchini seperti apa, mengiyakan saja. Dia berpesan agar jarak tanamnya sekitar 30 cm. Setelah memberiku biji itu, dia pun berlalu masuk rumahnya. Aku tak cukup lahan lagi, jadi aku pun mencangkul petakan besar. Hanya sebagian kecil, hanya untuk ruang bagi zucchini. Aku pun menggali 3 lubang dengan kedalaman masing-masing sekitar 5 cm dan kumasukkan 1 biji per lubang itu dan menutupnya. Sisa 1 biji itu, kumasukkan ke pot kecil. Tak lupa kusiram semuanya (macam lagu kebunku) dan menyudahi kegiatan berkebunku di hari itu.

Ohya, sebelum masuk ke rumah, si kakek kembali memberiku reward berkebun. Hehe. Sesisir pisang, lemon dan sebongkah kecil kol segar J. Terima kasih kakek J

Selesai berkebun, aku menelepon mamaku. Mamaku hanya pasrah mendengar cerita ku tentang komen kakek akan kehebatanku. Mama ku juga memberi masukan, kalo menanam sayur, harus di gundukan gitu, biar tidak tergenang air. Akan kulakukan untuk proyek berikutnya.

Seminggu kemudian, aku mengajak housemate ku ke Bunning, toko yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan kebun. Aku ingin menanam sayur, karena kata mamaku, sayur bisa dipanen dengan cepat, dalam 1 bulan, mengingat aku akan segera pulang ke Indo. Begitu banyak biji-bijian yang bisa dibeli, akupun bingung mau yang mana. Aku akhirnya memilih timun (karena timun mahal disini – 2 dollar per buah), pak choy (biar cepat panen) dan basil (untuk bumbu spaghetti dan konon kabarnya dia gampang tumbuh serta tahan lama).

Di toko itu, disediakan juga selebaran tentang tips menanam tanaman dari biji. Aku mengambil selembar dan kubaca, “kedalaman biji maksimal dua kali ukuran bijinya”. Aku langsung, HAH? Kemarin si zucchini, bijinya ukuran sebesar kuaci, kubenam 5 cm dalam tanah. Wkakakka. Pantas aza dia kaga muncul di permukaan tanah selama seminggu. Hahahha. Ngakak menertawakan diri sendiri.. Temanku pun ngakak geleng-geleng.

Sampai di rumah, aku pun buru-buru berlari ke rumah kakek sebelah untuk meminjam cangkul. Selain untuk membuat gundukan, aku juga perlu mencari biji zucchini ku yang lupa kutanam dimana. Aku bilang ke kakek itu, “I put the zucchini seed 5 cm deep, now I have to find them back.” Dia berkomentar, “Haha. Do you want to grow it in China?”. Malunyaaaa. Dia bilang aku tanam dalam-dalam, biar tumbuh di seberang bumi. Wakkaka.

Kegiatan bercocok tanam pun berganti kegiatan menggali harta. Semacam arkeolog gitu.. Aku hanya menemukan 2 di antara 3 yang kutanam, dan 1 lagi dari pot. Jadi, hanya 3 itu yang akhirnya aku tanam di gundukan. LOL.

Begitu banyak hal yang perlu dipelajari dalam hidup.. haha. Semoga aib tak bertambah banyak.. wkakaka.


Saturday, October 12, 2013

Dinner di Kapal..

Aku baru saja selesai mengikuti pertemuan tahunan organisasi matematika se Australia di Sydney. Acaranya di mulai di hari Sabtu (28 Sep) dengan topik "Early Career Research Workshop" di Leura, Blue Mountain. Semua peserta yang mendaftar menginap gratis di Waldorf Leura Garden resort disertai makan malam, pagi dan siang di hari Minggu. Minggu malam acara sambung di University of Sydney.

Kalo yang di Leura itu, ada 3 pembicara yang kasi nasehat dan 3 presentasi berbau akademik. Sementara yang 4 hari di USyd itu, isinya presentasi para prof/student di bidang riset masing-masing.

Puncak acara, biasanya di conference dinner, yang biasanya harus bayar terpisah dan mahal. Tapi kali ini, kurasa sponsornya cukup kencang, jadi biaya conference sudha mencakup biaya dinner. Bagi yang mau bawa pasangan barulah dikenakan biaya tambahan, yakni $93 per orang. Dinnernya kali ini di atas kapal! Aku yang dari dulu penasaran dengan cruise pun jadi semangat 45 menanti dinner.

Kami disuruh berkumpul di Darling Harbour jam 6.30, karena kapalnya akan berlayar dari jam 7 - 10 malam. Cuaca aga berangin dan sedikit sejuk. Sampai di tempat, aku takjub menatap kapalnya.. Waaah. gede dan berlantai-lantai.. haha. Ndeso kali aku.. Tak sabar mau naik rasanya..
Si Kapal
Live music.. 

Jumlah peserta cukup banyak, jadi kami hampir memenuhi seluruh kapal.. Demikian pemandangan di dalam kapal.. Kerennya lagi (menurutku), kapal ini dilengkapi dengan live music! Tapi begitu masuk, aku jadi cemas, teringat kisah Titanic yang ada live music juga. hahaa. (Titanic berlayar dimanaaaaaaaaa, kami dimana.. kekhawatiran tak penting).


Lantai 1
Lantai 2
Kapal pun mulai bergerak... lebih telat 30 menit dari perkiraan. Setelah sekitar 20 menitan, makanan pembuka pun disajikan. Posisi yang kami tempati kurang strategis, karena kami merupakan meja terakhir yang disajikan makan... Makanan pembukanya berupa sayap ayam atas bumbu kari 3 potong, 3 lembar salmon dan 5 potong udang dalam salad. Dan 1 piring ini dimakan berdua. Kurasa kapal ini biasanya dipake untuk dinner yang romantis, sepiring berdua.. Aku bagi dengan cowo di sebelah ku, karena cewe di depanku vegetarian, makanan pembukanya beda. Kebetulan juga, cowo di sebelahnya vegetarian. Saking laparnya, makanan ini tak terfoto..

Sambil makan, kapal bergerak mendekati harbour bridge, melewati di bawahnya dan munculnya si opera house di luar jendela.. 

The Opera House

Pemandangan dr atas kapal
Seru juga sih di dalam kapal.. Tapi beberapa saat, rasanya aga mabok.. (ndeso begini aku, emang tak cocok cruise.. belum 3 jam dah mabok)
Setelah makanan pembuka, tak ada tanda-tanda akan disajikan makanan berikut, jadi aku pun memutuskan untuk ke atas dan menikmati pemandangan. Banyak seagull beterbangan, tapi ga bisa ditangkap kamera ku dalam gelap. Lumayan menyenangkan, aku berjalan mengelilingi kapal.

Tempat nongkrong kali ya..

Di bagian ujung lantai atas (ntah ini depan ato belakang), ada seperti tenda dan tersedia kursi-kursi. Di ujung ini ga begitu rame, ujung sebelahnya rame sekali. Angin cukup kencang saat itu, jadi ga bisa bertahan lama. Selain itu, banyak moth yang beterbangan, membuat tempat ini kurang seronok.



Setelah puas berkeliling, aku mampir di meja supervisorku. Mengobrol sebentar disana dan memutuskan kembali ke mejaku. Karena semua pada kesana - sini, tempat duduk kami pun tertukar-tukar. Kini aku duduk bersebelahan dengan cowo vegetarian. Yang jelas, semua sudah pada kelaparan. Makanan pembukanya tak mengenyangkan. Sampai salah satu teman di meja (dosen salah satu uni sini), menggigit serbet.. Dia berkata, "only stupid people won't get my message that I am starving". LOL.

Main dish vegetarian
Jam 9.15, makanan utama vegetarian mulai disajikan. Makanan tertata menarik, isinya zucchini terong dan paprika klo ga salah. Kami yang non-vegetarian, menatap piring tersebut dengan mupeng.. lapar boo.
Udah ntah berapa botol red wine yang habis di mejaku. (Ohya, aku baru tau, kalo white wine biasanya disajikan dengan botol dalam ember es batu, karena white-wine lebih enak diminum dingin. Sementara klo red wine disajikan begitu saja dengan botolnya.). Kami pun bercanda, kapal ini akan merapat pukul 10 malam, bisa jadi makanan kami ga datang, dan saat kami turun kapal, masing-masing dapat makanan kotak. haha.


Ternyata tidak se hopeless bayangan kami. Jam 9.40, makanan kami disajikan. Pilihannya ayam ato sapi.. Makanan biasa sih.. Kaya ayam panggang dengan mash potato. Karena sudah lapar sekali, kembali makanan ini lupa difoto. hahaha. Begitu datang, langsung HAP! Cowo yang vegetarian yang sudah kenyang duluan bergerak ntah kemana.

Makanan penutup
Jam 9.55, saat kapal sudah sangat dekat dengan pelabuhannya, kami pun mendapatkan dessert. Untuk dessert, meja kami dilayani lebih awal.. (pembuka dan menu utama, meja kami yang terakhir). Dessertnya terlihat enak sekali.. Untuk dessert, sepiring kembali bagi berdua.. Kursi sebelah ku kosong, (aku bahkan lupa kalo si cowo vegetarian itu ada, tapi ntah dimana), jadi aku pun menguasai sepiring dessert. yang kanan, kue coklat itu enak sekali. Yang tengah kurang menarik, aku hanya makan sesendok saja. Yang kanan, enak tapi terlalu manis, aku makan setengah sesuai jatah. Sampai saat itu, cowo sebelah belum nongol juga, jadi bongkahan coklat pun kulahap satu lagi.. Baru selesai masuk mulut, eh, dia nongol dan menanyakan jatah dessert dia.. Err.. rasanya gimanaaaaaaaaa gitu.. Dosen di depan ku langsung bilang, "Dia habisin punya mu (sambil nunjuk aku), padahal kami dah berusaha melarangnya)". Rasanya pengen menghilang.. wakka. Untungnya cowo Hungaria yang disebelah, menyisahkan sepotong kue coklat.. Jadinya, itu yang dikasi ke dia.

Untungnya saat itu kapal sudah merapat. Aku pun bisa kabur menghilang saat itu juga.. wkakkaa. Beberapa meja masih belum kebagian dessert. Kulihat beberapa memilih turun dan pulang tanpa dessert, sementara beberapa bertahan menikmati dessert dalam kapal yang sudah tak berlayar. Haha.

Pengalaman pertama yang menyenangkan.. Tapi membuat ku berpikir apakah aku akan cruise ato tidak suatu hari nanti... Mungkin cruise jauh lebih enak karena lebih banyak space.. kalo kapal ini super padat.. Let's see..




Thursday, October 3, 2013

Sepring hes kham..

Musim dingin telah berlalu dan musim semi pun tiba.. Aku tidak begitu bersemangat menyambut musim semi disini, karena kupikir tidak akan ada bedanya.

Selama musim dingin pun, pohon-pohon dan rerumputan masih terlihat hijau, jadi tidak merasa pergantian musim yang drastis. Tetapi, minggu lalu aku menyadari, ternyata ada beberapa hal kecil yang berubah saat berjalan kaki ke kampus. Rumput-rumput hijau yang biasa kuinjak, kini berbunga! hehe. Aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto.
Dekat gedung dept. matematika
Bunga di University Drive
di bawah terik matahari

Bunga dalam kampus










Bebek berteduh..


Meskipun namanya musim semi, tapi cuaca disini moody sekali.. Kadang bisa panas sekali (mencapai 35 derajat) yang diikuti dingin di hari esoknya. Panasnya sangat tidak enak karena kering. Rasanya benar-benar seperti di oven. Kalo jalan kaki ke kampus di jam 9.30 pagi saja, rasanya panas banget dan susah bernapas. Masih enakan panas di Indo kayanya. Tidak hanya manusia yang mencari tempat sejuk, bebek pun berteduh! Bayangkan saja panasnya.. Haha



Mulai Berkebun..

Aku selalu bercuap-cuap kalo ingin berkebun, tapi karena malasku, aku selalu beralasan kalo musim dingin terlalu dingin bagi tanaman untuk tumbuh. Tapi kini, alasan itu tak bisa dipakai lagi..

Tetanggaku, seorang bapak tua umur 82 tahun, sangat suka berkebun. Dia setiap hari menyemangati ku untuk mulai berkebun. Dari cara baik-baik sampai mengejek-ngejekku. Tapi usahanya tak berhasil.

Beberapa minggu lalu, terjadi perubahan bentuk di kebun belakang ku, perubahan yang paling signifikan adalah kemunculan 4 tongkat di pojok petakan, jadi aku berpikir, mungkin sudah ada salah satu anggota rumah mulai berkebun. Jadi, aku pun memakai alasan untuk mencari tahu siapa yang sudah menanam, takut mengambil lahan dia, untuk tidak mulai berkebun. Takutnya dia sudah tanam, eh, kegali ama aku.. hahaha. kan ga lucu toh?

Tapiii, setelah berminggu-minggu, tidak terlihat kemunculan tunas ato apapun. Tanah nya pun kering kerontang tak pernah disiram. Hanya rumput liar yang berkembang sempurna di sana. Sepertinya, orang sebelumnya hanya ke sana sekali saja. Meskipun sampai sekarang tidak tahu siapa yang mengubah kebun. Teman serumah ku yang lain (yang tak berkebun) pun bilang aku mungkin boleh pake kebun itu.

Hal yang benar-benar mendorongku turun ke kebun adalah saat seorang teman di riset grup ku memberiku satu pot serai, tinggal pindahin ke tanah doank. Dia bersepeda dari rumahnya membawa pot itu untukku, setelah mendengar aku memakai serai untuk memasak. Untuk menghargai niat baiknya dan menghindari rasa bersalah, aku tidak boleh tidak menanamnya.

Terong
Untuk mewujudkan cita-cita suci mulia berkebun, aku pun bersepeda di hari Sabtu pagi 2 minggu lalu untuk membeli bibit paprika dan terong dari supermarket.

Aku yang tak pernah menanam pun tidak tahu harus gimana. Alhasil, aku mencangkul tanahnya, menyiramkan sedikit air (karena tanahnya super kering), kemudian menggali lubang yang aga besar, mengeluarkan serai dari pot dan menanamnya ke tanah. Paprika yang kubeli dari supermarket itu satu pot persegi dengan ukuran sekitar 5 cm x 10cm x 5 cm, isinya ada beberapa. Jadi aku harus memisahkan mereka satu-satu supaya bisa ditanam berjarak. Demikian juga terongnya. Saat memisahkan mereka, aku seperti membagi brownies. hahaha. Tukang makan emang susah, apapun yang dikerjain rasanya berhubungan dengan makanan. LOL. Karena takut lupa mana tanaman apa, dan takut dicabut orang lain disangka rumput-rumputan, Kartu namanya pun sekalian kutanam. hahaha.
Serai
Capsicum/Paprika

Terlihat aku kurang rajin, karena di sekitar tanaman ku masih ada rumput-rumputnya. LOL.

Aku yang bukan tukang kebun telaten hanya bisa berdoa, semoga alam semesta melindungi tanaman-tanaman itu supaya bisa tumbuh dan berbuah. hahaha.



Keesokan harinya, dengan bangga kulaporkan pada kakek sebelah kalo aku dah menanam sesuatu di kebun. Sebagai penghargaan, aku diberi hasil kebunnya.. hahah. emang benar, kebun tetangga selalu lebih hijau! Semua yang dikasih itu fresh, petik di tempat. Pisangnya enaaak banget.. sebenarnya pisangnya kaya pisang indo biasa, tapi di sini susah ditemukan. Pisang di supermarket itu kuningnya di rak, teksturnya beda.

Jarahan kebun sebelah
Terima kasih kakek tetangga.. Semoga suatu hari aku akan berkesempatan mengulurkan hasil kebunku padanya.. hehe.

Saturday, September 7, 2013

Serba-serbi Australia

Tulisan ini sudah lama ingin kutulis, tepatnya pas awal-awal sampai disini. Tapi ntah kenapa ampe sekarang ga jadi-jadi.. Aku akan menceritakan sedikit kebiasaan di sini.

       The greetings.

Orang-orang disini akan saling menyapa kalo bertemu, terlepas dari kenal ato tak kenal. Sama seperti di Prancis, dimana kita harus mengucap “bonjour” ke semua orang yang di temui. Uniknya, disini tidak hanya mengucap “Hello”, tapi mereka akan menyapa dengan,
“Hi, how’s it going?” (bacanya cepat terdengar: how sit going?)

Aku di awal kedatangan, tidak menangkap apa maksud mereka. Aku hanya menyapa sesuai caraku, kadang “hello”, kadang “morning”. Setelah aga lama, aku baru ngeh sapaan mereka. Awalnya aga takjub karena terdengar akrab gitu ampe nanya kabar, tapiiii ternyata mereka menanyakan “how’s it going “ nya itu hanya sekedar lalu, tanpa niat gitu.

Pernah satu kali, aku berpapasan dengan seseoran dan dia berkata dengan cepat, “Hi, how’s it going?” Aku baru menjawab, “fine”, dia sudah berada di belakang ku.. hahaha. NIAT GA SEH??? Jawab sapaan mesti kaya cerdas cermat. Orang-orang sini akan menjawab dengan cepat, “not bad, thanks, yourself?” ato “good, thanks, yourself?” Jarang terdengar orang menjawab fine.

Perlu waktu yang lama utk belajar jawaban sapaan mereka. Kadang aku terbata-bata jawabnya, “good” (jeda) “thanks” (jeda lagi) “yourself?” (ini kalo ingat klo mesti tanya balik, yang biasanya aku lupa). Sampai sekarang aku baru fasih sampai, “good thanks”, sangat sering (hampir selalu) lupa bertanya balik.

Yang lucu, mereka itu ternyata menyapa pake hafalan.. Suatu kali, aku ketemu ibu-ibu di jalan. Aku pun menyapa, “morning!” dan dia menjawab, “good, thanks, yourself?” hahahha. Ketahuan dia menghafal. LOL. Ini membuatku curiga, jangan-jangan mereka klo kukagetin, latahnya pun akan “how’s it going?”

      No worries..

Disini orang-orang membalas ucapan “thank you” dengan “no worries”, bukan “you are welcome”. Di rumahku, aku berkoar-koar protes, kenapa mereka menjawab “no worries”, kan aku belajar dari buku jawabannya “you are welcome”. Jadi aku ngotot memaksa teman aussie ku untuk menjawab “thank you” ku dengan “you’re welcome”. Ke-keras kepala-an ku membuat salah satu temanku kadang udah bisa menjawab dengan “you’re welcome”. Tapi lama-lama aku pun tertular menjawab “no worries”.

OOT: ternyata pengucapan kata “worry” yang benar itu lebih ke “wari”, bukan “weri”. Selama ini aku selalu mengucapkan  “o” nya seperti “e” dalam kata emas :D.

      Not bad..

Kata ini sangat sering tertangkap kupingku disini. Jika kita bertanya tentang kabar seseorang atau  kita tanya pendapat tentang sesuatu, lebih sering mereka akan menjawab “not bad” daripada good. Dan hebatnya, si “not bad” ini juga termasuk dalam kategori pujian.

Suatu hari, teman serumahku memasak makanan yang menurutku enak sekali. Ketika dia tanya pendapatku tentang masakannya, aku menjawab dengan semangat, “very good, very delicious” dan saat dia tanya teman lain (orang aussie), dia menjawab, “not bad”. Aku pun tanya teman aussie ini, “emang rasanya ga enak?”. Bagiku “not bad” pengertian maksimalnya hanya setara “lumayan”, sementara kurasa masakannya lebih dari sekedar itu. Jawabannya, “enak banget kog”. LAH? Enak banget kog cuman muji nya “not bad”? Aku pun mulai protes, masa pujian mulainya negative? Kalo gitu, ketika aku mau memuji kamu cerdas/smart, aku bisa bilang, “you are not stupid!”. Hahaha. Teman aussie ku cuman bisa geleng-geleng kepala dengan ngotot ku. Padahal yang masak tadi (juga orang aussie) senang menerima pujian “not bad” tadi, aku nya yang malah ga terima.

Kejadian lain, kalo bertanya kabar, orang sini kan rata-rata menjawab “not bad” juga. Suatu hari aku ke bank, dan menyapa si petugas bank. Sesuai tebakan, dia menjawab kabarnya “not bad”. Aku yang ga suka kata itu pun bilang, “kenapa semua orang hari ini kabarnya “not bad”? Dari pagi ketemunya kata itu muluuuu” Dia pun bilang, “OK, OK, I am OK.” (meralat kalimat “not bad” nya tadi). Hahaha.

Kesimpulan: kalo disini dikatain “not bad” sama orang lain, jangan terlalu berkecil hati, karena itu salah satu bentuk pujian juga. Mungkin sama dengan “不错!(bucuo” dalam mandarin yang sering digunakan orang China kalo memuji. Cuman bagiku tetap aneh, karena memulai pujian dengan kata negative, “NOT”.

Begitulah seperti pepatah, "lain padang lain belalang, mudah-mudahan ga ketemu belalang :)"

Tuesday, September 3, 2013

Memasak Gila..

Belakangan ini, aku sedang mengikuti Master Chef di TV lokal, setiap Minggu - Kamis, jam 7.30 malam. Setiap kamis, itu bagian master class, jadi diajarin teknik memasak dan semua yang diajarkan di situ, resepnya ditinggalin di websitenya. Kalau hari lain, isinya kompetisi mereka dan resep yang terbaik dari kompetisi itu akan terpampang di website. Karena acara disini, kemungkinan besar bahan-bahan yang dipakai pasti dapat ditemukan disini. Dari iklannya, yang support bahan masakan mereka adalah COLES, salah satu supermarket yang dekat rumah. Itulah sebabnya aku jadi semakin tergoda untuk mencoba resepnya.

Rencana awal: Minggu lalu, ingin mencoba Money Bag Chicken, menu yang dibuat para peserta saat Barossa Camp, tapi bahannya itu banyakan produk Maggie Beer dan susah dicari trus ga murah. Jadilah kutangguhkan niatku itu.

Minggu ini edisi anak-anak, makanan yang diajarkan jauh lebih sederhana, baik tekniknya maupun bahannya,  sehingga aku memutuskan untuk mencoba.

Sabtu jam 12.50 siang, aku berangkat ke COLES dengan membawa resep yang sudah ku download dari web masterchef. Aku bertekad akan membeli semua bahan yang diperlukan (meskipun akan berakhir mahal), karena aku sudah benar-benar pengen memasak menu master chef. Paling tidak satu kali menu lengkap. Tentu saja aku sudah memilih resep dengan keperluan bahan yang paling sedikit.

Benar saja, sesampai di Coles, bahan-bahan yang kubutuhkan memang tersedia (setelah putar sana sini sejam-an karena ga familiar dengan tokonya), kecuali si Walnut oil. Aku bertanya ke penjaga supermarketnya, dia membantu ku mencari di deretan cooking oil. Yang ada hanya Macadamia oil, peanut oil, canola oil, sunflower oil dan beragam olive oil. Aku protes ke mereka, aku bilang ini kan resep master chef (sambil nunjukin si resep) dan kata iklannya, mereka belanja di sini.. Pusing dengan cewe ngotot, dia pun memanggil bala bantuan temannya. Si temannya ini sibuk membujukku untuk menggantinya dengan macadamia oil. Hahaha. Sebenarnya untung juga ga ketemu si walnut oil, karena itu pasti aga mahal (macadamia itu $7), lagipula, aku juga ga akan tau si walnut oil mau dipake dimana selain di resep ini. Hehe. Setelah puas isengku, aku mengiyakan si penjaga supermarket akan mengambil macadamia.

Selesai belanja, aku pun membayar sambil menutup mata.. haha. angkanya agak sakti di kasir >.<. Tapi banyak bahan yang bisa dipake berkali-kali sih (mulai deh membela diri :p).. Yang paling membuat ku senang di belanjaan ini, aku membeli : red wine vinegarnya itali.. Botolnya itu elegan sangat.. hahah. Berasa sungguh koki.. Walau ngga tau juga itu mau pake dimana sebotol gede gitu. LOL

Ini resep yang aku ikuti..

MasterClass: Warm salad of roast chicken, crisp pancetta, soft-boiled egg and bitter leaves
Resep asli: http://www.masterchef.com.au/recipes/warm-salad-of-roast-chicken-crisp-pancetta-softboiled-egg-and-bitter-leaves.htm


Bahan-bahan:
Roast chicken
  • free-range chicken, such as corn-fed, about 1.4kg
  • lemon, quartered
  • thyme sprigs
  • oregano sprigs
  • garlic cloves, peeled
  • 30ml olive oil
  • thin slices flat pancetta --> daging babi tipis dalam foto di bawah
Bahan ayam panggang
 Stuffing balls
  • 80ml (1/3 cup)olive oil
  • onion, finely chopped
  • garlic clove, finely chopped
  • ½ bunch sage, thinly sliced
  • 200g day old breadcrumbs
  • 2 tablespoon flat-leaf parsley, finely chopped
  • eggs
  • Salt and freshly ground white or black pepper, to taste
Bahan bola-bolanya
 Salad dressing
  • 1 teaspoon Dijon mustard
  • egg
  • 2 tablespoons red wine vinegar
  • ¾ cupextra virgin olive oil
  • 1 teaspoon walnut oil
Bahan salad dressing
(yang botol merah elegan itulah si red wine vinegar =D )
Trus masih ada hiasan tambahan yang digunakan saat penyajian.

To serve

  • soft boiled eggs, peeled, halved
  • 100gmixed salad leaves, such as witlof, yellow frisee, baby spinach, snow pea tendrils, nasturtium, washed
  • 1 cup firmly-packed herbs, leaves picked, such as chervil, dill, tarragon, parsley,
  • ½ cup pepitas, walnuts, sunflower seeds, toasted
  • Extra virgin olive oil, to drizzle
Aku tak pakai semua yang dianjurkan. Aku tak punya pepita, tak punya chervil dan tarragon. Sayang kalo mau beli untuk dipakai sedikit. Yang salad leaves aku juga hanya sekedar salad asal beli, ga mengandung semua yang dia tulis. 

Cara memasak: 
Roast chicken
1.      Preheat oven to 180°C.
2.      Remove wishbone from chicken.  Place lemon, thyme, oregano and garlic cloves in the chicken cavity, and truss the chicken using kitchen string.
3.      Place a flameproof roasting pan on a stovetop over medium-high heat. Season chicken with salt and pepper. Pour olive oil into the roasting pan, then place chicken in the pan. Cook, beginning with one leg-side, for 12-15 minutes, turning, until lightly golden all over, cook the breast-side last.
4.      Turn the chicken breast-side up, place it in the oven and roast for 1 hour or until golden and cooked through (the juices will run clear when the thigh is pierced with a skewer). Remove chicken from pan, and set aside to rest for 10 minutes. 
5.      Meanwhile, arrange pancetta on a lined baking tray. Place another square of baking paper over the top of the pancetta, then fit a slightly smaller tray over the top to weigh it down. Place in oven for 8-10 minutes or until golden and crisp. Remove from oven, cool and set aside.

Ayam panggang setelah jadi
Stuffing balls
1.      Heat 2 tablespoons of the oil in a non-stick frying pan over low heat. Cook onion and garlic, stirring, for 3-4 minutes until onion is soft and translucent. Remove from heat and stir in sage. Set aside to cool.
2.      Add breadcrumbs to a large bowl. Mix in parsley, cooled onion mixture, eggs and season with salt and freshly ground pepper.
3.      Roll stuffing into balls, about the size of a 50c piece. Set aside on a tray. Cover and refrigerate for 30 minutes until cold and firm.
4.      Heat remaining 2 tablespoons of oil in a large non-stick frying pan over medium heat. Add stuffing balls and cook gently for 4-5 minutes or until completely golden. 

Bola-bola setelah digoreng
Salad dressing
1.      For the salad, place mustard, egg and vinegar in the bowl of a small food processor and process until foamy. Add a pinch of salt and pepper, then pour in oils. Process until oil is incorporated and the dressing is combined and emulsified.
Salad dressing

Cara penyajian:
1.      Carve chicken into pieces and arrange on a serving platter. Top with crispy pancetta, and arrange with stuffing balls and eggs. Drizzle with dressing, arrange with salad leaves and scatter with nuts and seeds. Drizzle with olive oil to serve.
Siap disajikan :)
Tampak lebih dekat ^^
YUM!!
Pancetta ku tidak segaring yang di tv. Penyajian ku juga terliat lebih padat dan ramai. haha. Yang penting kenyang.. Rasanya enak..

Selain itu, aku juga menyediakan service take away untuk temanku.
Kotak take-away
(salad dressing diisi dalam telur ^^)
 Setelah yang indah nan enak itu, tibalah saatnya beres-beres dapur.. Demikianlah kekacauan yang terjadi selama proses memasak..
Olala!! Kacaunya..
(bon courage)
Demikian produk masterchef pertama yang kutiru.. Bahannya banyak sekali.. Untungnya teman serumah ku membantu, jadi ga gitu berasa ribet prosesnya.. Selamat mencoba bila berminat :)