Wednesday, February 26, 2014

Aib Berkebun..

Setelah menanam paprika, terong dan serai waktu itu, seminggu kemudian, di sabtu pagi, aku kembali memantau kebunku. Kali ini bertemu si kakek tetangga yang juga sedang memantau kebunnya.
Lahan ku terdiri dari 2 petak kecil dan satu petak lagi yang aga besar, ukurannya sama dengan gabungan kedua petak kecil itu. Yang sudah kutanam hanya di petak kecil itu. Aku berniat memperluas lahan ku, karena teman Laos ku memberiku satu pot jahe yang harus kutanam. Jadi aku aku pun mulai mengolah lahan dengan cangkul kecil yang kami miliki.

Kakek sebelah menoleh ke kebunku dan meminjamkan cangkul besarnya, karena banyak rumput yang mau kutebas. Begitu pegang cangkul besarnya, aku pun langsung mencangkul di tengah. Kakek sebelah pun berkomentar: “ada juga orang mulainya dari tepi”. Aku pun mengikuti sarannya mencangkul dari tepi. Setelah selesai, aku pun memindahkan si jahe ke tanah. Tak lama kemudian, kakek sebelah mengulurkan 2 batang spinach, sebatang bibit tomat dan beberapa bibit cabe. Aku pun menanamkan mereka di petakan baru itu. Saat membuat lubang, aku menggunakan jari ku (kutoel toel). Kakek sebelah yang melihat ku begitu, melemparkan sebatang tongkat kayu kecil untukku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan bantuan kayu itu, lubang terbuat dengan muda dan cabe serta si bayam pun tertanam. Untuk tomat, dia kan tipe tanaman menjalar, jadi butuh tiang penyangga, di dekat posisi dia di tanam. Di petakan itu memang sudah ada tongkat, yang tinggal kupindahkan. Aku pun memindahkannya dekat tomat ku. Saat menancapkan tongkat, aku menggali lubang dan menekannya dengan berat badanku, supaya masuk. Kembali si kakek mengulurkan sebuah bata dan menyuruhku mengetok tongkat dengan bata itu. Kali ini dia berkata, “Hope you are a good professor!”. Itu kalimat hopeless dia, melihat aku tak bisa apa-apa. Hanya bisa akademik saja.

Aku tertawa mendengarnya.. Tertawa lucu sekaligus malu.. Dulu pas kecil, mama ku selalu bilang begitu padaku. “Semoga nilai akademis mu bagus”, karena aku malas mengerjakan hal rumah dan juga ga bisa mengerjakannya. Hanya punya nilai aga bagus di rapor saja. Ternyata, setelah belasan tahun pun, aku tetap menyandang kalimat itu. Kali ini dari kakek sebelah rumah L. Sungguh aib sekali..

Terakhir, kakek menyodorkan bungkusan biji-biji zucchini kepadaku. Isinya ada 4. Dia memintaku menanamnya. Aku yang ga ada bayangan pohon zucchini seperti apa, mengiyakan saja. Dia berpesan agar jarak tanamnya sekitar 30 cm. Setelah memberiku biji itu, dia pun berlalu masuk rumahnya. Aku tak cukup lahan lagi, jadi aku pun mencangkul petakan besar. Hanya sebagian kecil, hanya untuk ruang bagi zucchini. Aku pun menggali 3 lubang dengan kedalaman masing-masing sekitar 5 cm dan kumasukkan 1 biji per lubang itu dan menutupnya. Sisa 1 biji itu, kumasukkan ke pot kecil. Tak lupa kusiram semuanya (macam lagu kebunku) dan menyudahi kegiatan berkebunku di hari itu.

Ohya, sebelum masuk ke rumah, si kakek kembali memberiku reward berkebun. Hehe. Sesisir pisang, lemon dan sebongkah kecil kol segar J. Terima kasih kakek J

Selesai berkebun, aku menelepon mamaku. Mamaku hanya pasrah mendengar cerita ku tentang komen kakek akan kehebatanku. Mama ku juga memberi masukan, kalo menanam sayur, harus di gundukan gitu, biar tidak tergenang air. Akan kulakukan untuk proyek berikutnya.

Seminggu kemudian, aku mengajak housemate ku ke Bunning, toko yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan kebun. Aku ingin menanam sayur, karena kata mamaku, sayur bisa dipanen dengan cepat, dalam 1 bulan, mengingat aku akan segera pulang ke Indo. Begitu banyak biji-bijian yang bisa dibeli, akupun bingung mau yang mana. Aku akhirnya memilih timun (karena timun mahal disini – 2 dollar per buah), pak choy (biar cepat panen) dan basil (untuk bumbu spaghetti dan konon kabarnya dia gampang tumbuh serta tahan lama).

Di toko itu, disediakan juga selebaran tentang tips menanam tanaman dari biji. Aku mengambil selembar dan kubaca, “kedalaman biji maksimal dua kali ukuran bijinya”. Aku langsung, HAH? Kemarin si zucchini, bijinya ukuran sebesar kuaci, kubenam 5 cm dalam tanah. Wkakakka. Pantas aza dia kaga muncul di permukaan tanah selama seminggu. Hahahha. Ngakak menertawakan diri sendiri.. Temanku pun ngakak geleng-geleng.

Sampai di rumah, aku pun buru-buru berlari ke rumah kakek sebelah untuk meminjam cangkul. Selain untuk membuat gundukan, aku juga perlu mencari biji zucchini ku yang lupa kutanam dimana. Aku bilang ke kakek itu, “I put the zucchini seed 5 cm deep, now I have to find them back.” Dia berkomentar, “Haha. Do you want to grow it in China?”. Malunyaaaa. Dia bilang aku tanam dalam-dalam, biar tumbuh di seberang bumi. Wakkaka.

Kegiatan bercocok tanam pun berganti kegiatan menggali harta. Semacam arkeolog gitu.. Aku hanya menemukan 2 di antara 3 yang kutanam, dan 1 lagi dari pot. Jadi, hanya 3 itu yang akhirnya aku tanam di gundukan. LOL.

Begitu banyak hal yang perlu dipelajari dalam hidup.. haha. Semoga aib tak bertambah banyak.. wkakaka.


No comments:

Post a Comment