Saturday, September 30, 2017

Kebijaksanaan Papa dan Mama

Dulu ketika aku masih kelas 1 SMP, cc ku saat itu kelas 3 SMA. Waktu itu cc sedang berbincang-bincang dengan Papa tentang keinginannya untuk apply beasiswa ke luar negeri. Aku lupa apakah itu ke Jepang atau ke Singapura. Saat itu, Papa tidak begitu setuju dan terkesan tidak mendukung, karena beasiswa yang ditawarkan adalah beasiswa dengan syarat prestasi. Yang artinya, setelah kita mendapat beasiswa tersebut, ada persyaratan nilai dan evaluasi per semester apakah beasiswa akan dilanjutkan atau tidak.

Saat itu aku tidak mengerti. Kenapa Papa tidak setuju? Kan kalo beasiswa, tidak menggunakan duit Papa, jadi kenapa Papa khawatir?

Kudengar Papa menjelaskan, "Hidup di luar negeri kamu belum tahu seperti apa, apakah kamu betah atau tidak. Saat ini prestasi mu bagus, tapi ketika harus adaptasi sana sini, mungkin akan berpengaruh pada prestasi. Tekanan juga akan sangat besar, karena kamu harus jaga prestasi supaya beasiswa nya tetap berlanjut. Jika prestasi mu turun dan tiba-tiba beasiswamu putus, Papa tidak akan punya uang untuk mensupportmu untuk lanjut kuliah. Lebih baik kuliah dalam negeri saja."

Aku saat itu mengerti secara harafiah, tapi tidak bisa dibilang paham benar.

Saat aku kuliah, aku tidak bergantung pada beasiswa, cc ku sudah menyiapkan anggaran untukku. Jadi mau prestasi se anjlok apapun, aku tetap bisa kuliah. Aku sangat beruntung, tidak punya kekhawatiran finansial, sehingga bisa fokus kuliah. Meskipun duit pas-pas an banget, tapi aku tau aku tetap bisa kuliah, asal berhemat. Terima kasih cc yang telah berjuang keras agar aku bisa menikmati kuliah tanpa rasa khawatir.

Tahun ke 3 kuliah, aku mengenal satu teman yang masuk kuliah dengan syarat prestasi. Anak ini sangat pintar, tapi karena baru pindah dari SMA ke lingkungan kuliah, kita tidak bisa menebak, seberapa sih usaha yang diperlukan untuk dapat IP 3.5? Jadinya, hidup dalam ketidaktahuan dan kekhawatiran. Takut gagal mencapai IP tersebut dan terpaksa dihentikan beasiswanya. Anak ini juga tidak punya back up finansial, jadi 100% andalin beasiswa. Hari-harinya tidak bahagia. Saking stress nya dia, dia sempat ada masa asal minum obat, padahal dia tidak sakit. Aku berusaha menemani dia. Aku sangat yakin IP 3.5 bukan masalah bagi dia, tapi kalo anxious begini, dia tidak akan bisa perform dengan baik.

Momen itu, aku baru benar-benar ngeh, kenapa Papa ku dulu tidak mendukung cc ku untuk ke luar negri mengandalkan beasiswa. Papa tidak ingin melihat anaknya stress untuk hal yang tak perlu. Mungkin Papa juga tidak akan tega jika meliat anaknya melewati hari penuh anxiety.

Papa tidak terlalu terobsesi dengan kampus yang OK, tapi Papa lebih memilih melihat anaknya bahagia.. Ah, Papa sungguh bijaksana.

Hari ini aku mengalami kejadian dimana muridku sangat tertekan dan khawatir ketika hendak ujian. Dia adalah penerima beasiswa dan mensyaratkan prestasi. Mungkin dia kalo tanpa kekhawatirannya, dia akan bisa mengerjakan soal dengan baik, tapi karena tuntutan itu di alam bawah sadar, dia setiap hari terlihat tidak bahagia. Dia bahkan saking paniknya, tak sanggup datang ke ruang ujian.

Aku cuma berharap dia baik-baik saja. Sesungguhnya, prestasi akademik bukan syarat mutlak untuk bertahan hidup. Banyak sekali orang-orang di luar sana, yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tapi bisa hidup dengan bahagia.

Mamaku selalu berpesan: kamu hanya perlu berusaha yang sebaik kamu bisa di sekolah, kalo memang tidak mampu sekolah, kamu masih bisa pulang ke rumah, bantu mama jualan kue dari rumah ke rumah. Kalo kamu terlalu memaksakan diri dan kemudian depresi ato bahkan gila, tak hanya kamu ga bisa kerjain apapun, Mama juga harus jagain kamu.

Ketika aku ketakutan tak bisa menyelesaikan program Master ku, Mamaku hanya berkata, pulanglah, Mama tidak perlu gelar Master mu, Mama hanya perlu kamu bahagia.

Mendengar kalimat seperti itu benar-benar seperti menemukan sumber air di padang pasir. Semua beban terlepas begitu saja.

Dan ketika aku khawatir tak bisa menemukan kerja, Mama ku berkata: asal kamu tidak melekat pada gelarmu, Mama yakin kamu pasti akan dapat kerjaan yang bisa menghidupi mu.

Ah, Mamaku sungguh bijaksana.

Aku termasuk orang yang sangat beruntung, lahir di keluarga yang sangat supportif tapi juga sangat memberikan kebebasan.

Terima kasih Papa Mama. Terima kasih untuk saudara-saudaraku dan terima kasih alam semesta.

Deep bow in gratitude..

Sunday, October 12, 2014

České Švýcarsko - Part 3: The adventure starts..

Alarm berbunyi jam 4.30 pagi, aku beruntung karena kebetulan sedang mimpi buruk, jadi aku bersyukur banget alarm bunyi dan memutus mimpi burukku. Karena itu juga, aku pun tidak tertarik untuk lanjut tidur lagi, jadi dengan mata berat, aku menyeret diri untuk mandi. Setelah mandi, aku mengemas nasi kotak, mengecek peralatan, dan berangkat.

Saat itu jam 5.20 pagi dan langit masih gelap. Aku melangkah ke tram stop, sudah ada beberapa orang menunggu di sana juga. Aku sebenarnya ga tau dimana keretanya Plzen, aku hanya ingat itu kulewati saat naik tram no 2 sewaktu pulang berenang, dan letaknya stop si no 2 itu dekat gereja. Aku naik tram pertama, turun sekitar gereja. Aku bertanya ke satu orang dimana tram nomor dua. Sayangnya dia tak berbahasa inggris. Dengan kosakata terbatas, kubuat pertanyaan: "tramvaj dva?", dengan gerakan tangan dia memberitahu kalo aku hanya perlu lurus dan belok kanan 2 kali.

Sampai tram stop, aku memastikan ke orang disitu kalo nomor 2 ke stasiun kereta. Aku tanya lagi, "hlavni nadrazi?". Kali ini mereka orang jerman, mereka mengangguk dan bilang, "erste". Aku menebak maksudnya first, karena di belanda, first itu juga "eerste", bunyi sama, tulisan beda tipis. Ternyata benar, pemberhentian pertama sudah stasiun. Aku salah mengenali bangunan, aku pikir bangunan besar yang kulewati itu adalah stasiun, ternyata orang-orang berjalan ke arah berbeda, jadi kuikuti mereka masuk lorong dan sampailah aku di stasiun.

Tiket ke Děcin harganya 330 Kc, hampir Rp 200.000,00 dan berangkat dari platform nomor 2. Aku naik dan tertidur dengan segera.. Untungnya aku sadar satu stop sebelum Praha. Ketika menunggu kemunculan informasi platform kereta, aku sakit perut, jadi aku mampir ke toilet. Biaya toilet itu 20 Kc ato 1 Euro.. Haha. Kurs yang paling jelek ternyata di toilet, bukan di bank. Kurs di money changer itu, 1 Euro = 27 Kc.
Kurs di toilet
4 menit sebelum jadwal kereta berikut, akhirnya nomor platformnya muncul. Semua penumpang pun bergegas bergerak. Kali ini keretanya ada compartment nya, semacam kubik-kubik gitu berisi 6 orang. Karena tiketku tak ada nomor, aku boleh asal duduk di mana pun yang kosong. Aku berusaha terjaga, tapi tetap juga ketiduran. Jam 10 pagi, aku sampai Děcin.

Keluar dari stasiun kereta, aku mencari information centre yang alamatnya sudah kucari lewat internet. Harusnya di sekitar stasiun. Aku tanya ke satu orang, 'tourista informacie centrum?', dan orang itu menunjuk ke stasiun. Aku masuk lagi, dan ternyata memang ada disitu, tapi tutup. Kucari lagi yang lain, kutemukan alamatnya, tapi tempatnya seperti biro perjalanan gitu. Di pintu tertulis sabtu buka, tapi tak ada seorang pun. Aku cari lagi ke alamat kedua dan ternyata bangunan lebih tak meyakinkan. Aku tanya ke orang-orang di jalan, mereka semua menggeleng. 30 menit habis mencari informasi.

Saat itu aku bingung, informasi yang aku punya adalah: perjalanan dimulai di rumah sakit (U Nemocnice), tapi jelasnya bagian mana dari rumah sakit aku ga tau. Aku mulai ragu, aku jadi jalan kaki apa ga ya? Apa keliling kota kecil ini trus pulang aza ya? Ngeri juga tanpa informasi jelas. Dilema bermunculan, tapi kuputuskan ke rumah sakit dulu, liat dulu kondisinya, nanti baru diputuskan.

Kemudian aku bertanya cara ke hospital dan ternyata naik bis no 1 ato no 7. Pas naik, aku minta sopir untuk menurunkanku di hospital, ternyata dia tak bisa bahasa inggris. Seorang pria gendut bertopi cowboy menyamperi ku saat dia mau turun bis, "hospital is the last stop, good luck!" Aku berterima kasih padanya, akhirnya kudengar bahasa Inggris.

Sampai rumah sakit, aku kebelet. Alamak! Gimana mau jalan di hutan kalo kebelet gini? Cari toilet dimana? Aku tanya sopirnya, dia menggeleng. Kutanya beberapa orang, mereka pun tak tahu, sampai aku ketemu seorang ibu dan dia menyarankan aku ke toilet rumah sakit. Bangunan rumah sakit itu banyak, kecil-kecil dan bertebaran di kompleks itu. Aku melangkah ke bangunan utama yang terlihat paling besar. Belum nyampe, aku ketemu seorang wanita berseragam dokter gitu. Aku tanya, "toaleta?" sambil tunjuk gedung itu. Dia bilang toilet disitu ga boleh dipake, hanya untuk staf dan pasien saja. Aku pun dirujuk ke toilet lain. "Lurus, belok kanan, jalan turun dan belok kanan", demikian petunjuknya. Aku berjalan dan menemukan sebuah toko roti. Aku masuk dan menanyakan toilet, tapi dia menggeleng. Ketemu ibu lain, dia menunjuk sebuah gedung, yang masih bagian dari rumah sakit. Aku masuk dan tak kutemukan tanda-tanda toilet di bangunan kecil itu. Aku bertemu seorang pasien, dia menunjukkan toiletnya.. Phew.. Legaa.. Rasanya lebih siap jalan, setelah 30 menit habis cuman buat nyari toilet doank. Kaki mulai terasa capek mondar-mandir. Haha.. Mulai berpetualang aza belum. Lol.

Setelah itu aku mencari jalan masuk walking trailnya, dan kutemukan peta ini.
Peta Hiking
Informasi tak kumengerti
Sama sekali tak gitu bermanfaat untukku. Aku tak mengerti, tapi aku rasa itu jalan yang benar. Aku memutuskan untuk mencoba jalan itu, dengan pikiran kalo misalnya jalan itu tak membawa ku kemana-mana, aku tinggal balik kanan dan pulang lewat jalan yang sama.

České Švýcarsko - Part 2: To Go or Not To Go..

Setelah dipikir-pikir, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat hari Sabtu, 11 Oktober. Tapi ternyata, urusan hari Jum'at di kantor lebih panjang dari bayangan. Dosenku berangkat ke Amerika hari Sabtu, jadi Jum'at kami menghabiskan waktu bersama, termasuk makan malam bersama. Sampai rumah sudah jam 8 lewat, dan aku masih belum siapin apa-apa. 

Aku segera mengecek internet, memfoto keterangan hiking trail sama peta yang disediakan. Sayangnya petanya tak dapat diperbesar. Berikut bekal perjalananku:

Informasi tentang rute, bakal lewat mana aza
Peta yang kupunya hanya 4 foto ini. 
Peta keseluruhan dan peta diperbesar dikit dalam 3 potongan
Dengan peta sekecil dan tak detil seperti itu, aku sendiri ga yakin aku bisa berjalan tanpa tersesat, secara aku dengan peta google yang detil, yang bisa kasitau posisi saat itu pun, aku masih sering tersesat. Haha. Itupun di kota, apalagi ini di hutan? Aku dengan positifnya berpikir, oh, gampanglah, nanti di Děčín pasti ada pusat informasi untuk turis, nanti nyampe sana baru cari peta hiking yang lebih besar dan detil.

Modal lain yang aku punya, kosakata bahasa Czech: 
1-10, hlavni nadrazi (central station), toaleta (toilet), tramvaj (tram), dobry den (hello untuk orang yang ga akrab), na shledanou (see you - untuk orang ga akrab), děkuju (terima kasih), kde (where), kdy (when), informacie (information) dan tourista (tourist). 

Langkah berikut, aku harus mengecek jadwal kereta, dari Plzen - Praha - Děčín, dan mengecek cara pulang dari Hrensko - Plzen. Jadwal berangkat yang paling enak, yang waktu tunggu paling sedikit itu adalah jam 6.07 dari Plzen hl. n. (Plzen hlavni nadrazi), sampai Praha jam 7 dan kereta ke Děčín berangkat jam 8.29. Sampai tempat tujuan jam 9.58. Dari situ, aku pikir kalo langsung jalan dan waktu tempuh 5 jam, aku mungkin sampai Hrensko jam 3-4 sore gitu. Aku cek jadwal pulang, dari Hrensko ada bus jam 17.25, sambung kereta di Děčín jam 17.56, tapi di Praha harus transit 2 jam. Nyampe asrama diperkirakan jam 11 an malam.

Pilihan lain adalah menginap semalam di Hrensko kalo tidak keburu pulang, tapi karena malam itu aku capek banget, aku tak sempat mencari info tempat nginap, kupikir nanti sampe sana baru kuliat aza. Nginap ato tidak, biar kuputuskan nanti disana saja kalo sudah sampai.

Aku mengepak barang-barang yang harus dibawa, kata temanku ada 3 kata kunci untuk ngepak:
Food: Roti, 2 pisang, 2 apel, coklat, wafer, cashew nuts (tanpa garam), air 2L
Warm: Jaket, topi, sarung tangan, scarf
Dry: Payung, jaket parasut
tambahan lain: passport, asuransi, emergency numbers, first aids.

Semua barang kumasukkan, tapi aku merasa bekal makan ku tak akan cukup untuk seharian. Jadi jam 11 malam aku pun memasak nasi. Kupikir lauknya apa aza deh, kayanya nasi lebih mengenyangkan.

Badanku sangat capek, aku sebenarnya ragu aku bisa bangun. Apalagi kalo mikir aku harus jalan kaki 18 km, di hutan, sendirian.. Agak khawatir juga.. To go or not to go.. Apa rencana ini terlalu terburu-buru ya? Apa terlalu dipaksakan ya? Apa harus minggu depan aza ya? Mulailah berpikir macam-macam.

Aku teringat aku harus cek prakiraan cuaca. Ternyata akhir pekan ini berawan, dan minggu depan mulai hujan. Hati ku pun lebih mantap untuk berangkat, karena kalo setelah hujan beberapa hari, aku merasa jalanan akan basah/licin, akan lebih susah kulalui, meskipun aku tak tahu medan sebenarnya seperti apa.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.. Aku harus bangun jam 4.30 pagi. Saatnya tidur dan berharap mudah-mudahan bisa bangun besok.

České Švýcarsko - Part 1: I Have To Go

When I got my Schengen Visa for student exchange from consulate of Czech Republic, Kate sent me back my passport together with a booklet about Czech Republic, map of Plzen (the city where I will be) and also a small book about Prague. I looked at them at a glance before departure, Czech Republic is a nice place full of history. A lot of historical buildings listed as tourist destinations, but the thing that tempted me more is "České Švýcarsko" or known as Bohemian Switzerland. 

It doesn't mean that those buildings are not beautiful, they are indeed nice pieces of architecture but it's just me who love nature more. I decided that I have to visit Bohemian Switzerland during my stay in Plzen, whatever happen. 

In one of the occasion where my supervisor asked about our "plan", she mentioned couple of interesting places, e.g. Salt cave, city of Prague, spa town but not this one. Using that opportunity, I raised this place. I must say that I am very lucky, because not only she agreed to bring us there, but also her sister has couple of pensions in that area. Wow! Isn't it great?

From my search through internet, there are several "main stops" in that big national park, for example: Děčín, HřenskoMezní Louka, Jetřichovice, and so on. By "main stops" I mean a bigger town in that area. Her sister stays in Jetřichovice, a very nice place according to google maps and google images. Super excited!

She contacted her sister, but due to her busy travelling schedule, we agreed to do it on Nov 5 (Yay! less than a month), staying 2 nights in her sister's place.. We will visit couple of touristic spots around there. :D Big grin. Alright, one trip is settled. Hehe. 

Besides seeing the touristic spots, I also plan to hike/walk, since I read that there are many trails in different difficulty levels available and of course offering amazing views. However, since we will go in a quite nice "big" group, with different type of travelling preference, I think we might not get much chance to hike. So, I write to my supervisor for permission to go earlier alone. She agrees but she prefer that I go with somebody else. To convince her, I immediately bought Czech mobile number, so at least I will call somebody if something happen to me. Finally she said OK and I am allowed to do it sometime when she is away. 

I plan to do it on weekend so it will not disturb my office hour. I also plan to do a day trip from Plzen to Hřensko with public transport, except the Děčín - Hřensko part, I will do it on foot. It's written in this website (way 4) that there is an easy trail with signs, around 18 km for that purpose. Approximately it will take 5 hours (of course given the condition you don't get lost). But I haven't decided which weekend. I wanted to do it as soon as possible, before the weather turns too cold. 

I started some preparation, e.g. big bottle of water, chocolate, unsalted nuts, bread, band-aids, vitamins, fruit juices etc, they are already in my room, so anytime I decide, I just need to put them together and I am ready to go. (If my PhD preparation as ready as this, I might be able to graduate in 2 years. LOL). 

Another lucky thing that happen, I got my Pilsen card (the transport card) on Thursday and on Friday, I have bought my monthly tickets, so I can take as many tram as I want in a month. From my dorm to train station, I need 2 trams ride, the first one for one stop and another one I don't know. With that unlimited ticket, even the Saturday (Oct 11), I am ready to go. 

Yay! Looking forward for the trip :D

Thursday, October 9, 2014

Mluvím trochu Česky :) - Part 1

Ketika ditawarin kelas bahasa Ceko disini, aku tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Aku memang dasarnya tertarik bahasa, ngerti ngganya urusan belakangan..

Karena aku datang telat 2 minggu, aku harusnya ketinggalan 4 pertemuan, tapi ternyata minggu kedua gurunya sakit, jadi aku hanya ketinggalan 2 kelas. Selasa kemarin, kelasku yang pertama dan aku sendiri ke kelas bahasa, berhubung dua temanku ada urusan lain. Mereka juga tak terlihat antusias untuk belajar bahasa. Aku benar-benar tak punya background bahasa Czech, dan sebenarnya tak yakin ada space juga, tapi aku hadir di kelas.

Kelas dimulai dengan review.. Sang guru bertanya kepada beberapa orang dan mereka pada bisa menjawab pertanyaannya. Semacam percakapan singkat, yang bagiku hanya seperti kicauan burung. hahha. Sama sekali ga tau apa yang mereka omongkan, bahkan ga tau pemenggalan katanya harus dimana.

Topik hari itu: Co je to? (What is it?)
To je.. (it is.. bukan toje versi Singkawang lho ya. haha.)

Hari itu belajar menghitung juga:
jeden, dva, tři, čtyři, pět, šest, sedm, osm, devět, deset.
Aku sampai saat ini ga ngerti cara baca tiga dan empat. "ř" dibaca kaya "r" di mandarin, "č" dibaca "ch".
Yang lucu bunyi 8 seperti "awesome". hahaha.

Kata benda dalam bahasa Czech terbagi menjadi 4 kelompok:
masculine animate (mužský životný), masculine inanimate (mužský neživotný), feminine (žensky) dan střední.

Di akhir kelas, ada games. Satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok, trus satu murid dipanggil ke atas untuk menggambar dan dua kelompok akan bersaing, menebak apa yang dia gambar. Kata-kata yang dipakai itu ada di list kata-kata yang kami pelajari hari itu.

Berikut tiga gambar yang di papan:


Kelompokku menang di permainan itu, tapi aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa menebaknya dengan benar.

Jawabannya: ballet (balet), shock (šok) dan professional (profesionál). Yang nomor satu aku bisa tebak, tapi dua yang lain? Hanya yang tahu lah yang tahu..
Hahhaa.

Tapi orang-orang di kelas itu kocak banget, anak-anak muda mancanegara, jadi aku sangat menikmati.. Looking forward for my next class ^^.

Aib Restoran Senin Sore


Hari Selasa, 30 sept, aku akan berangkat untuk research visit (baca: jalan-jalan) selama 9 minggu. Sementara temanku akan pulang ke Indonesia selama 3 bulan untuk pengumpulan data. Jadi, kami pun menyepakati untuk makan malam bersama hari Senin sebelum pertemuan berikut yg mungkin akan terjadi di 2015.

Karena kami dua babik, maka pilihan menu pun jatuh pada restoran dumplings. Aku blm pernah ke sana tapi temanku sudah beberapa kali ke sana.

Restoran buka jam 5 sore, kami memutuskan sampe jam 5 disana, supaya segera mulai makan dan segera bisa pulang karena aku masih harus lanjut beres-beres. Alasan lain yang lebih utama sih, karena jam 4 pun kami sudah lapar sangat. Haha.

Jam 4.30 aku dijemput di stockland jesmond. Kami tiba jam 5 kurang 10. Pintu resto sudah terbuka, dan beberapa karyawan terliat sibuk bersih-bersih, mengisi tempat sambal etc, tapi semua kursi telungkup di atas meja. Melihat kondisi itu, kami melangkah ke arah menu untuk mengecek jam buka. Iya benar, tertulis jam 5 sore. Tapi kami ragu mereka akan buka tepat waktu.

Kami memutuskan ke apotik terlebih dahulu, memanfaatkan 10 menit itu. Karena lapar sangat, kami juga membeli chips.

Kami berjalan kembali ke resto itu, sudah jam 5 tapi kursi tetap begitu. Kami berdua pun duduk di meja luar, sambil mengunyah chips.

Kata temanku: dulu dia pernah datang lebih awal, mereka beres-beres tapi kursi tak ditelungkupkan.

Kesimpulan: mungkin hanya hari Senin mereka melakukan bersih-bersih besar-besaran.

Kami berdua masih sibuk mengunyah chips, sambil memandang ke dalam dan terus berkomentar. "Ayo kita liatin biar mereka bergerak lebih cepat!"
"Lihat, gerakan cewe itu lambat banget, gimana bisa buka tepat waktu?" Dan seterusnya..

15 menit duduk di depan, setelah chips habis, temanku pun berinisiatif, ayo kita tanya jam bukanya. Aku bangkit dari kursi dan bertanya, ”请问,你们几点开?(permisi, kalian buka jam berapa ya?)"

Dan jawabannya adalah.. Taraaaaaa..
"我们星期一关门” (kami tutup tiap Senin)

Jedeeeer!!! Bagai disambar petir, tapi kami tetap tak mau terima kenyataan, kami samperin lagi si buku menu, memang tertulis buka jam 5 sore, tapi... Selasa-Sabtu..

Mwahahahhaa. Kami pun berlalu sambil ngakak dengan kedodolan kami. Nunggunya sih ga gitu malu, segala komentar kita itu yang bikin lebih malu. Wakakaka.

Memang kalo kami keluar hanya berdua, selalu ada kekonyolan. Hahaha.

Kami menuju Sushi Revolution untuk mengenyangkan perut.

Begitu nyampe, "mesen menu utama ga? Ato hanya ambil sushi yang mutar-mutar?"

Temanku bilang: "ngga menu utama dech, soalnya sushi-sushi begitu kan udah ada nasinya, tar juga kenyang."

Aku pun berpikir itu masuk akal, jadi aku pun mengurungkan niat untuk memesan menu utama. 

Setelah piring demi piring sushi kami tarik dari sushi trainnya, perut masih belum terpuaskan. Sebelum duit di dompet habis kesedot sushi, kami pun akhirnya memesan menu utama. hahah. Padahal orang-orang sekitar hanya ambil 2 piring sushi dan sudah kenyang.. Kami tetap makan dengan PD dan menghabiskan menu utama kami.. 

Demikianlah farewell dinner konyol kami.. 

Wednesday, March 12, 2014

Retret Hutan Perdana (1) - Persiapan dan Hari H

Akhir minggu yang baru lewat ini, aku melewatkannya di sebuah forest monastery, Wat Buddha Dhamma, di Dharug National Park.

Awal cerita kenapa bisa berakhir disana adalah, di tengah suasana sibuk dan jadwal padat di kampus, terasa sekali tubuh, pikiran dan emosi semakin hari semakin labil. Aku pun berusaha sit rutin untuk menyeimbangkannya. Nah, di tengah kesibukan itu, datanglah tawaran seorang teman, "Mau weekend retreat ga di Wat Buddha Dhamma? Forest monastery gitu. Nyampe Jum'at malam, dan cabs lagi Minggu siang".

Karena emang lagi butuh retret, aku pun mengiyakan tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Letaknya dimana tak tau, perginya gimana ga tau, berapa lama perjalanan pun tak jelas. Teman ku bilang ada temannya yang akan menyetir, jadi aku hanya perlu bertemu mereka di suatu tempat dan akan disetirin ke lokasi retret.

Setelah mengiyakan, aku mulai email office WBD untuk formulir pendaftaran. Retret nya akan mengikuti tradisi Theravada, dan bikkhunya itu murid Ajahn Chah. Setelah mengisi formulir, dikasi lah list barang-barang yang harus dibawa.

Beberapa hari menjelang hari H, teman ku menelepon dan mengabari kalo temannya yang mau nyetir itu lagi sakit, jadi ga bisa berangkat. Sementara temanku ini belum berani nyetir jauh. Ya udah, kupikir aku memang belum berjodoh dengan retret hutan. Aku bilang ke temanku, kamu putusin aza sesuai pertimbangan mu dan senyaman kamu aza. Kalo mau coba nyetir, aku siap numpang. Kalo ga jadi, I am fine too.

Malam itu, temanku menelepon dan memutuskan akan memberanikan diri menyetir jarak jauh. Perjalanan dari Hornsby station, butuh sekitar 1 jam untuk sampai Wisemans Ferry. Dari situ sambung ferry, kemudian dilanjutkan 40 menit drive ke atas gunung.

Karena jadi berangkat, aku pun menyiapkan barang-barang, di antaranya: sleeping bag, senter (penting banget), repellent (tiga barang ini aku pinjam dari housemateku -ga modal), sprei, sarung bantal, baju untuk cuaca dingin, baju nyaman meditasi, dan peralatan standar bepergian.

Ohya, dalam retret ini, peserta akan mengambil attasila (8 sila), yang salah satunya (yang paling mengkhawatirkanku) adalah "tidak akan makan pada jam yang tidak tepat", yang artinya, retret ini tak dapat dinner. Housemates ku pada bilang, kalau minggu malam kami tak menemukanmu di rumah, kami tahu penyebab kematianmu. hahhaa. Mereka sungguh mengenalku.

Aku mengecek jadwal retret, bangun jam 5 pagi, 5.30 mulai sit, chanting, SARAPAN jam 7-730 (ini yang kuingat baik-baik, meskipun di jadwal tertulis klo breakfast itu optional), disambung working meditation ampe jam 10. MAKAN SIANG jam 11 - 12. Setelah itu free practice time ampe jam 5 sore (dengan 1 jam guided meditaion di antara 5 jam itu), AFTERNOON TEA (jam 5-6), free practice time ampe jam 7, guided meditation ampe jam 8 dan ditutup dharma talk jam 8-9 malam. Setelah itu tidur.

Aku aga khawatir dengan makan siang yang jam 11 itu. Aku pun tak yakin aku bisa bertahan ampe besok pagi. Tapi ga pa pa, kupikir aku ga mungkin mati gara-gara skip dinner sekali di hari sabtu.

Tiba sudah hari H. Aku meninggalkan kantor jam 12, pulang kerumah, makan siang dan mengambil peralatan perang menuju stasiun kereta. Naik kereta jam 1.20 dan tiba di hornsby station untuk bertemu temanku. Karena temanku bilang dia bakal telat 30 menit, ditambah kekhawatiran ku akan rasa lapar, aku pun tiba2 sudah merasa lapar. Padahal aku baru makan siang kurang dari 3 jam yang lalu. Aku mampir ke toko kebab dan memesan chicken kebab. Sambil menunggu, aku menghabiskan 3/4 kebab itu.

Teman ku tiba, aku bergabung dalam mobilnya, dan kami pun menuju Wisemans Ferry. Sampai di sana, sekitar 1 jam menyetir, temanku lapar.. Wajar sih, karena emang udah jam 5. Dia pun mengeluarkan roti isi babi panggang, dan membagi satu untukku. NAH, ntah kenapa, kulahap juga si roti itu ampe habis :-(, padahal si kebab kayanya belum semua turun ke lambung ku.. Aku merasa kemelekatan ku akan makanan sangat tinggi dan bahkan terlalu tinggi. Anxiety dan fear akan lapar membuat ku makan ala monster.

Jam 6.16, kami sampai di tempat tujuan. Hutan yang dimaksud tak sebelantara bayanganku. Karena ini national park, jadi ada jalan utama yang bisa dilewati mobil, selain jalan-jalan setapak menuju tempat lain. Percakapan singkat sebelum lapor diri, temanku memulai, "eh, aku udah kasitau kan klo disini pake compose toilet?" HAH??? JENG JENG, aku tak sepenuhnya mengerti frase itu, tapi terdengar tak menyenangkan. "Apa itu Ci?" tanyaku mengklarifikasi. "Itu loh, toilet yang TAK PAKE AIR, jadi setelah deposit, kita membuang segenggam jerami ke dalam", jelasnya. WHAT?? Harusnya aku dikasi tau lebih awal, bukan pas udah nyampe di tempat tujuan. Pikiran ku mulai kemana-mana.. Membayangkan nya aza udah eneg, karena semua setoran sebelum-sebelumnya masih disana dan kita hanya menimpa di atasnya. Errrr.. Temanku sempat menyebutkan ada 1 toilet yang bisa flush pake air, tapi dia tak menjelaskan letaknya.

Mau tak mau tak ada pilihan, kami pergi melapor diri dan mendapatkan kamar, memilih tipe kerjaan untuk working meditation (aku pilih outdoor work dan temanku pilih lunch clean up) serta diberi penjelasan tentang aturan retret, noble silent etc. Beruntungnya, aku dan temanku sekamar, di dorm di ruang Metta, setidaknya kau bisa buntutin dia kemana-mana. Karena udah malam dan sesi sitting akan mulai, temanku pun menyetir menuju tempat tinggal kami. Jarak antara si office dengan dorm sekitar 5 menit jalan kaki kalo jalan pintas lewat setapak hutan, ato 7 menitan klo lewat jalan besar.

Begitu nyampe dorm, temanku menunjukkan letak compose toilet terdekat dari dorm kami. Kerennya, toiletnya dua lantai! haha. kami harus naik tangga. Lantai pertamanya itu sebuah penampungan besar. Errr. Tak banyak waktu yang kami punya, kami ke kamar dan hanya meletakkan barang, mengambil senter dan selimut meditasi, kemudian berjalan ke Sala (meditation hall). Perjalanan sekitar 10 menitan jalan kaki ke atas. Dan, aku pun merasa perlu ke toilet. Temanku mengantarku ke compose toilet dekat Sala. Bangunannya aga baru, tapi tetap aza tak menarik bagiku. Begitu masuk, tutup toilet kubuka dan tanpa napas tanpa melihat, segera nyetor dan tumpuk jerami, tutup kembali dan segera kabur. Ga ada bau sih, cuman tak berani melihat ke lubang toilet. Takut menemukan apa yang di bayanganku.. hahaa.
Tampak utuh si toilet..
Aku suka Sala nya. terbuat dari kayu dan luas. Aku kangen suasana retret, jadi aku merasa sangat bersyukur berada di Sala itu. Aku pun memilih bantal meditasi yang tersedia dan mulai bermeditasi. Pikiran masih nempel di toilet tadi dan masih membayangkan hari-hari ke depan berhadapan dengan toilet itu. Selain itu, aku juga diserang rasa kantuk yang dahsyat akibat perjalanan yang lumayan jauh. Hari pertama tak ada ceramah, hanya pengambilan refuge dan sila, serta penjelasan singkat. Dilanjutkan dengan guided meditation.

Dorm tempat kami tinggal..
Jam 9 kami pun bubar. Keluar dari Sala, gelap gulita.. Hutan beneran! tak ada cahaya lampu. Si senter pun menjadi penyelamat. Semua peserta menyalakan senter dan berjalan pulang. Aku yang penakut, cuma berani mengarahkan senter ke tanah, untuk mencegah adanya ular. Ga berani kuarahkan sembarang ke tempat lain, karena takut menemukan hal yang tak diinginkan.

Sampe kamar, mengambil sikat gigi dan handuk. Kami menuju kamar mandi untuk bersih diri. Kemudian, mau tak mau, aku harus mengunjungi si toilet dua lantai itu. Toilet ini terlihat tua, warna bangunannya juga kusam dan BAU nya KHAS jerami bakar yang tersedia di ember.. Jujur, aku merasa aga jijik pas naik ke atas. Buru-buru menyetor dan segera berlalu. mana suasana di luar juga gelap gulita lagi. Galau sekali rasanya karena kemungkinan besar besok pagi harus kukunjungi lagi toilet itu. Batin memberontak.

Malam itu aku tak bisa tidur. Aroma si toilet begitu kuat menempel dan terngiang-ngiang. Sepanjang malam, aku rasanya mencium bau itu. Bau jerami si toilet. Kekhawatiran ku akan lapar terbenam oleh kekhawatiran ku akan toilet. Aku gelisah semalaman.
Kamar kami..